Pasar Waqiah Ramadan: Capek-Capek Puasa Berujung Sia-Sia

Pasar Waqiah Ramadan: Capek-Capek Puasa Berujung Sia-Sia

Pasar Waqiah Malam ke-3 Ramadan

Seseorang akan capek ketika bekerja. Misalnya kuli, mereka akan bekerja susah-payah demi sebuah upah. Meskipun panas matahari menyengat, mereka tak akan menyerah. Namun kelelahan itu semua akan terasa lega ketika mereka telah menerima upah dari hasil pekerjaannya.

Begitu pula orang yang berpuasa. Mereka susah-payah menahan dahaga juga lapar, demi sebuah pahala. Namun, dalam konteks orang berpuasa, pahala itu dapat hangus atau sia-sia, seperti dalam hadis berikut:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani)

Sebab sia-sianya perjuangan puasa – menahan lapar dan dahaga – itu karena lima perkara. Apa sih lima perkara tersebut?

Dalam kitab Ihya’ Ulum Ad-din karangan Imam Al-Ghozali dicantumkan sebuah hadis yang berbunyi:

خمسٌ يُفطِرن الصّائِم: الغِيبةُ، والنّمِيمةُ، والكذِبُ، والنّظرُ بِالشّهوةِ، واليمِينُ الكاذِبةُ

Artinya, “Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu”

Lima hal tersebut merupakan perbuatan orang itu sendiri yang menyebabkan pahala puasa hangus. Bagaimana perincian dari kelima perkara tersebut?

Gibah

Gibah atau membicarakan orang lain itu dapat melebur pahala puasa. Rasulullah saw., menjelaskan pengertian gibah sebagai perbuatan seseorang yang membicarakan keburukan saudaranya sesama muslim, meskipun itu benar. Berbeda lagi jika sesuatu yang diada-ada atau dilebih-lebihkan, karena hal tersebut akan masuk ranah fitnah, bukan lagi gibah.

Adu Domba

Selanjutnya adalah adu domba. Adu domba sendiri merupakan perilaku seseorang memindah omongan yang disampaikan kepada orang lain. Perilaku seperti ini rentan memicu permusuhan juga kesalahpahaman.

Bahaya adu domba terletak pada seseorang yang menyampaikan (pengadu domba) itu sendiri. Ketika ia menyampaikan omongan, bisa jadi dilebih-lebihkan. Sehingga dari situlah timbul kesalahpahaman yang berujung permusuhan.

Berbohong

Berbohong kapan saja dan di mana saja itu dosa. Apalagi ketika puasa, dosanya dapat berlipat ganda. Bahkan dapat membuat seseorang sia-sia berpuasa. Perilaku berbohong sering kali terjadi di lingkungan pasar. Pedagang di pasar sering kali berbohong demi barang dagangannya laku.

Namun berbohong ada yang diperbolehkan, di antaranya: bohongnya seseorang ketika perang, berbohong dengan niatan mendamaikan, dan bohongnya suami kepada istrinya demi menciptakan keharmonisasian dalam rumah tangga.

Melihat dengan Syahwat

Melihat dengan syahwat ini tidak hanya terjadi dalam kondisi langsung saja. Perilaku melihat dengan syahwat secara langsung di bulan suci Ramadan ini sering terjadi ketika menjelang magrib saat pemuda-pemudi ngabuburit. Namun, tidak di waktu itu saja. Selain waktu tersebut juga banyak kemungkinan untuk melihat dengan syahwat.

Apalagi di zaman serba digital ini di mana pengguna smartphone semakin banyak. Mereka acapkali melihat video atau foto yang dapat menyebabkan syahwat. Meskipun mereka tidak melihat secara langsung. Mereka hanya melihat dalam segi visual melalui layar kaca. Namun hal tersebut dapat membuat puasa kita sia-sia.

Sumpah Palsu

Sumpah palsu sering kita temui pada aktivitas pedagang saat mereka mempromosikan dagangannya. Atau pada seseorang yang suka mengada-ada dalam berbicara. Seperti “Sumpah, ini bagus…”, “Demi apapun saya…”, dan contoh sumpah palsu lainnya.

Lima hal tersebut terkadang secara tidak sengaja bisa saja kita lakukan. Tanpa kita sadari puasa kita ternilai sia-sia. Maka dari itulah, pentingnya kita mengetahui sebab dari hangusnya pahala puasa. Sehingga kita dapat berhati-hati.

(Hanif Azzam Aufa/Mediatech An-Nur II)

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK