OSMANA 4, Da’i Cilik yang Membawa Pulang Sejuta Harapan

OSMANA 4, Da’i Cilik yang Membawa Pulang Sejuta Harapan

Lima jam perjalanan adalah waktu yang panjang dan melelahkan. Mas’ud, bersama beberapa temannya dan ustaz yang mendampinginya, menempuh perjalanan jauh Madura-Malang. “Azan subuh terdengar, saya baru sampai,” tuturnya.

Mas’ud menjadi salah satu peserta lomba da’i cilik Olimpiade dan Seni Ma’had An-Nur 2 yang ke-4. Belajar tiga tahun di Pondok Pesantren Al-Mubarak, Madura, ia lahir dan tinggal di Pontianak, Kalimantan Timur.

Kini, santri yang baru berusia 15 tahun, masih duduk di kelas 3 SMP. Dimana usia maksimal bagi perlombaan ini, tidak boleh lebih dari 15 tahun. Dilaksanakan di Aula Yakowi, lomba yang diikuti 45 peserta ini, merupakan satu-satunya lomba yang diperbolehkan untuk putra dan putri. Sedang lomba lain, dikhususkan untuk putra.

Mas’ud mengikuti seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir. OSMANA, singkatan populer perlombaan tingkat Jawa Timur, ini dibuka langsung oleh beliau pengasuh, Dr. KH. Fathul Bari, M. Ag. Pembukaan yang menandakan dibukanya seluruh cabang perlombaan ini, dilaksanakan di lapangan barat Pondok Pesantren An-Nur II.

Mendapat kepercayaan dari pesantrennya adalah niscaya. Kepercayaan itu diberikan padanya lantaran ustaznya melihat potensi besar yang ia miliki. Di samping ia juga punya keinginan kuat untuk mengikuti sebuah lomba. “Sambil menunggu giliran, kiranya perlu untuk merevisi ulang teks pidatonya,” ujar ustaz Mas’ud mendampingi.

Ketika ditanya, mengapa ia ingin menjadi dai? Ia menjawab, “Saya ingin seperti ayah.” Jawaban itu spontan saja keluar dari mulutnya. Melanjutkan apa yang telah menjadi jalan ayahnya sebagai pendakwah adalah motivasi utama baginya.

Semasa di pesantren, berbagai ilmu berbicara di depan public ia pelajari. Ia pun tak kesulitan mencari sumber materi. Dari banyak kitab yang ia pelajari lah yang sering ia jadikan materi latihan dakwah. “Banyak sih kitabnya, sekarang ngaji Fathul mu’in,” katanya.

Tampil di Atas Panggung

Panggung besar di ujung aula Yaqowi menjadi saksi bisa akan penampilan pertama Mas’ud dalam sebuah perlombaan. Tatapannya menyapa seluruh peserta, juri dan penonton yang duduk di hadapannya. Dengan suara lantang, ia memulai dengan salam.

Tiga menit sebelumnya, Mas’ud masih duduk di dekat panggung. Setelah peserta nomor 39 tampil, ia yang mendapat nomor urut 40, akan segera tampil. “Kamu siap?” ustaznya bertanya. Dengan tatapan meyakinkan dan sedikit senyum, ia menjawab dengan anggukan.

Boleh saja ini menjadi pengalaman pertamanya tampil dalam ajang perlombaan. Namun bukan berarti perlombaan ini menjadikannya gugup, tak terlihat ketakutan atau pun kekhawatiran di wajahnya.

Apa yang telah ia pelajari selama ini, ia tampilkan semaksimal mungkin. Akan tetapi, meski bersemangat, gesturnya tetap santai dan simpel. Enam jam menunggu giliran tampil, tak membuat badannya untuk tidak berdiri tegak. Dengan durasi yang lebih pendek dari durasi maksimal, 7 menit, ia berhasil mengucapkan setiap materinya tanpa terbatah-batah.

Setelah salam penutup diucapkannya, Mas’ud memberi hormat dan turun dari panggung. Tampak sebuah kepuasan di wajahnya. “Apa yang saya pelajari selama ini tidak sia-sia,” ujarnya dengan tersenyum puas.

Menjadi pemenang bukan tujuan utamanya. Bisa tampil di atas panggung saja ia sudah merasa mendapatkan pengalaman yang berharga dalam dirinya. “Semakin banyak pengalaman yang ia dapatkan, semakin pesat potensinya berkembang,” ujar ustaznya selepas ia turun dari panggung.

Memang benar, namanya tidak ada di deretan peringkat tiga besar. Bahkan lima besar pun tidak. Ashda Nesti Mulya, yang tampil setelahnya, justru yang pulang dengan piala juara satu di tangannya.

Meski tak memperoleh gelajar juara, sbukan berarti Mas’ud pulang dengan tangan kosong. Ia pulang membawa sejuta pelajaran dan pengalaman.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: