Nikmat dan Melarat dari Allah

nikmat, Nikmat dan Melarat dari Allah, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

(Tafsir Surah Al-A’raf ayat 94 dan 95)

“(94) Kami tidak mengutus seseorang nabi pun pada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. (95) Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasakan penderitaan dan kesenangan.” Maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan seketika, sedang mereka tidak menyadarinya.”

Banyak siksa dan azab yang diberikan Allah untuk umat terdahulu. Semuanya tujuannya hanya satu, yakni agar mereka tidak mendustakan Allah dan rasul-Nya.

Nabi Syuaib telah berjuang menegakkan panji agama, yang dititakan Allah, pada kaumnya. Beliau telah memperingatkan kaumnya agar meninggalkan pebuatan buruk yang selama itu mereka perbuat. Tak bosan-bosan pula beliau menasihati hingga ajal menjemput.

Salah satu nasihat yang disampaikan adalah tentang semua kenikmatan berupa kekayaan, kesehatan dan lainnya, semata dari Allah. Begitu pula kesusahan hanya dari Allah. Nabi Syuaib menceritakan umat terdahulu yang diazab sebab mendustakan nabinya. Dan sebaliknya, akan diberi nikmat bila mengimani Allah dan rasul-Nya.

Namun, umat Nabi Syuaib tetap keras kepala. Mereka malah lebih mengedepankan pikiran rasional. Mereka mengatakan bahwa semua kesusahan dan kemudahan dalam hidup adalah suatu tradisi, sudah ada sejak dulu dan silih berganti. Sehingga, kejadian itu tak ada hubungannya dengan Tuhan.

Akhirnya, sebab mendustakan Rasul-Nya, umat Nabi Syuaib diazab oleh Allah dengan gempa. Azab tersebut diturunkan tanpa ada pertanda sebelumnya, tidak seperti asumsi mereka. Bahkan, saking tiba-tibanya orang yang tidur tak sempat bangun menyelamatkan diri; orang yang duduk dalam rumah tak sempat berdiri menghindari reruntuhan rumah; orang berdiri tak sempat melarikan diri.

Belajar dari kisah tersebut, kita sebagai muslim seharusnya kala tertimpa musibah atau mendapat nikmat selalu mengigat Allah. Semua telah tertulis dalam takdir-Nya. Dan Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi Hamba-Nya.

Bila tertimpa musibah, putus asa adalah jalan yang buruk. Sebab musibah bagi seorang muslim adalah sebuah ujian. Layaknya ujian kenaikan tingkat, bila seorang muslim dapat bersabar dari musibah tersebut Allah akan mengangkat derajatnya dan memberikan kenikmatan sebagai reward. Begitu sebaliknya.

Baru lah kalau mendapat nikmat, cara kita mengingat Allah dengan bersyukur. Seperti halnya Nabi Sulaiman saat diberikan kekayaan dan tahta, beliau menganggap semua itu adalah karunia Allah. Maka, Allah menambah kenikmatan pada Nabi Sulaiman. Berbeda dengan Qarun yang dengan sombongnya mengatakan kekayaan yang ia dapatkan berasal dari kerja kerasnya sendiri. Sehingga Allah mengazabnya dengan menimbun seluruh kekayaannya.

Maka, apapun yang kita alami ada peran Allah di dalamnya. Saat musibah menerpa, terus berhusnuzan kepada Allah akan diberikan jalan keluar adalah jalan terbaik. Sementara ketika nikmat datang, hal yang harus kita lakuakan adalah bersyukur.

(Muhammad Miqdadul Anam/Mediatech An-Nur II)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: