Nabi Saleh dan Unta Pahatannya

saleh, Nabi Saleh dan Unta Pahatannya, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

“Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Nabi Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.’”

Islam dalam perkembangan penyebarannya memiliki sejarah yang sangat banyak. Banyak tertulis di buku-buku, Al-Qur’an dan kitab klasik sejarah tentang penyebaran agama Islam, seperti yang tertulis di Quran Surah Al-A`raf ayat 73 tersebut.

Dalam Kitab Tafsir Jalalain, Ayat tersebut menceritakan kisah Nabi Saleh dalam menyebarkan agama Allah. Dahulu, Nabi Saleh diutus untuk menyebarkan ajaran Allah pada kaum Samud. Nabi Saleh berkata bahwa dirinya adalah utusan Allah dan beliau mengajak Kaumnya untuk menyembah Allah, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia.”

Mendengarkan pengakuan dan ajakan dari Nabi Saleh mereka tidak percaya apabila Nabi Saleh adalah seorang nabi. Mereka meminta bukti akan mukjizat yang dimiliki oleh nabi seperti pada umumnya. Karena kaum Samud adalah kaum yang mahir dalam hal memahat Mereka akhirnya menunjuk sebuah batu dan memerintahkan Nabi Saleh untuk membuat patung dari batu tersebut.

Beliau mengiyakan permintaan dari kaumnya itu. Beliau memulainya dengan menyebut nama Allah. pengerjaan patung pun dimulai. Tak lama setelah itu patung unta itu pun jadi. Mukjizat yang beliau tampakkan adalah karya pahatannya. Unta pahatan tersebut dapat bergerak, makan layaknya unta biasanya. Mereka tercengang melihat kejadian itu.

Melihat reaksi dari umatnya, beliau berpesan, seperti yang telah dijelaskan ayat di atas. Namun, mereka ingkar dengan pesan yang disampaikan Nabi Saleh. Allah pun menimpakan azab kepada mereka.

Terdapat sebuah kesimpulan yang dapat ditarik dari ayat tersebut. Sebagai sesama manusia tugas mereka adalah saling mengingatkan. Entah mereka akan mematuhinya atau tidak itu tergantung apa yang dikehendaki oleh Allah. Tugas manusia adalah saling mengingatkan menuju jalan yang benar.

(Ryan Winawan/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: