20 September, 2018
  • 20 September, 2018

Metode Nabi dalam Menasehati

By on 30 September, 2012 0 181 Views

Sebagai makhluk sosial, manusia mau tidak mau harus saling melengkapi baik dalam kebutuhan jasmani maupun rohani. Setiap makhluk memiliki peran dan fungsi yang berbeda, sehingga dipastikan tidak ada manusia sempurna (insan kamil) kecuali Nabi Muhammad saw. Ketidaksempurnaan ini menjadi nilai plus, sebab dengan demikian manusia berusaha saling melengkapi dan menutupi kekurangan yang lain.

Dalam konteks kebutuhan rohani (hajat nafsiyyah), Islam memberikan solusi kepada umatnya agar senantiasa tidak lelah untuk saling menasehati satu sama lain. Islam sebagai agama pamungkas memberikan porsi yang signifikan terhadap urgensitas “nasehat”. Bahkan, nasehat itulah agama Islam (ad-din an-nashihat). Islam menyadari bahwa manusia memiliki tabiat “salah dan lupa”, suka mengeluh, ceroboh dan sebagainya sehingga untuk meminimalisir dampak negatif dari sifat-sifat tersebut, Islam menjadikan “nasehat” sebagai solusi. Yang perlu digarisbawahi, bahwa nasehat itu bukan hanya bersifat top-down, tetapi juga bersifat sebaliknya. Kewajiban memberikan nasehat bukan hanya dari atasan kepada bawahan, orangtua terhadap anak, guru kepada murid, yang tua kepada yang muda, tetapi siapapun, dalam status apapun, berprofesi apapun, punya kesempatan yang sama untuk menasehati orang lain.

Secara historis, “nasehat” menjadi tradisi para Nabi, Rasul dan Ulama’. Al-Qur’an dalam hal ini dengan lugas mengcover beberapa bukti sejarah. Nabi Nuh as. memberikan nasehat kepada kaumnya: Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu (QS. Al-A’raf:62). Nabi Hud as. juga menasehati kaumnya: Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu (QS. Al-A’raf:68). Nabi Shaleh juga menasehati kaumnya: maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat” (QS. Al-A’raf:79). Nabi Syu’aib as. juga memberikan nasehat kepada kaumnya: maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu, maka agaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir” (QS. Al-A’raf:93).

Rasulullah saw. juga berpesan kepada para sahabat yang mau masuk Islam untuk konsisten saling menasehati diantara mereka. Jarir menceritakan pengalamannya saat mau mengikrarkan diri sebagai muslim: Saya dibaiat oleh Rasulullah saw. untuk mendengarkan, patuh dan menasehati sesama muslim. Lebih dari itu, bahkan signifikansi nasehat tercermin dalam hak-hak yang wajib dijaga dalam ukhuwah islamiyah. Nabi bersabda: “Ada enam hak seorang atas muslim lainnya; (1) mengucapkan salam bila berjumpa, (2) menghadiri undangan, (3) memberi nasehat bila diminta, (4) mendoakan (yarhamukallah) bila ada muslim yang bersin dan memuji Tuhan, (5) menjenguk orang sakit, (6) mengiringi jenazah menuju kuburan“. Tradisi menasehati juga menjadi pembeda antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman atau kurang sempurna keimanannya. Al-Fudlail, salah seorang ulama’ sufi terkemuka, menyatakan sebuah statement: al-mu’min yasturu wa yanshah, wa al-fajir yahtiku wa yu’ayyir (Seorang mukmin ialah orang yang menutupi kejelekan orang lain dan menasehatinya, sementara orang jelek adalah orang yang suka membuka aib orang lain dan mencelanya).

Budaya menasehati menjadi cara yang sangat efektif dalam sejarah penyebaran agama Islam. Nabi Muhammad saw. lebih mengedepankan dan mengutamakan “lisan” dengan berdakwah dan menasehati dalam mensyiarkan Islam. Islam tersebar demikian pesat pada masa Nabi, walaupun beliau hidup di tengah-tengah komunitas yang menganut fanatisme kesukuan, biadab, tidak berprikemanusian, setidaknya dikarenakan dua faktor; tradisi menasehati disertai dengan uswah hasanah (teladan yang baik). Dua faktor ini tidak boleh dilupakan oleh setiap muslim, utamanya oleh mereka yang terjun dalam bidang dakwah atau pendidikan. Nasehat akan memiliki taring, efektif, dan membawa perubahan sikap umat atau anak didik bila disertai dengan teladan tindakan bukan hanya teladan ucapan semata.

Salah satu adab yang harus diperhatikan dalam menasehati orang lain, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., ialah mempersiapkan kondisi psikis orang yang mau dinasehati sebelum nasehat disampaikan. Logikanya, dalam menasehati, kita sedang bersinggungan dengan hati, jiwa dan psikis mereka, bukan dengan fisiknya. Sehingga, hati dan jiwa tersebut harus diberikan stimulus terlebih dahulu agar siap menerima nasehat yang akan disampaikan.

Dalam hal ini, sejarah mencatat beberapa perilaku Nabi saat menasehati sahabat-sahabatnya. Kisah pertama, saat Nabi ingin mengajarkan sebuah doa kepada Muadz ibn Jabal, beliau tidak langsung memerintah Muadz untuk membaca doa tersebut, akan tetapi Nabi memulai nasehatnya dengan pujian kepada Muadz. Nabi bersabda kepada Muadz: wahai Muadz, sungguh aku sangat mencintaimu, maka jangan pernah kamu meninggalkan doa berikut ini setelah melaksanakan sholat. Doa yang dimaksud Nabi ialah doa Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. Kalimat “Sungguh aku sangat mencintaimu” adalah sebuah pembuka dan pujian yang dimaksudkan agar Muadz siap menerima nasehat Nabi.

Kisah kedua, Umar ibn Khattab adalah salah satu sahabat yang terkenal dengan kekuatan dan keberaniannya. Waktu itu, saat melaksanakan thawaf di Ka’bah, Umar berdesak-desakan dengan kaum muslimin untuk mencium hajar aswad. Melihat fenomena tersebut, Nabi ingin membenarkan tindakan Umar yang kurang tepat. Nabi bersabda kepada Umar: wahai Umar, sungguh engkau adalah lelaki yang perkasa, maka janganlah kau berdesak-desakkan dengan mereka untuk mencium hajar aswad.  Kisah ketiga, Abdullah ibn Umar ibn Khattab dinilai agak malas melaksanakan sholat malam. Sebagai pendidik, Nabi ingin merubah kebiasaan Abdullah. Lalu, beliau bersabda kepada Abdullah: Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, andai saja ia mau melaksanakan sholat malam.

Begitulah metode Nabi dalam menasehati para sahabatnya. Beliau memulai dengan pujian dan motifasi agar hati dan jiwa mereka yang dinasehati siap untuk menerima nasehat beliau.

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: