Menyikapi Musibah Dengan Bijak

Menyikapi Musibah Dengan Bijak

Menyikapi Musibah Dengan Bijak

“Akhir-akhir ini di Indonesia sering tertimpa musibah.”

Udara terasa bersahabat malam itu (19/01). Para jamaah Pasar Waqiah mulai berdatangan usai para santri melaksanaka salat jamaah Isya. Mulai dari golongan tua hingga para muda mudi semuanya hadir memadati area masjid An-Nur II.

Pada agenda rutin Pasar Waqiah kali ini megangkat tema “Bagaimana Menghadapi Musibah?”. Kiai Zainuddin berkesempatan meyampaikan mauidlotul hasanah. Di dalamnya beliau banyak meyampaikan prihal cara menyikapi musibah yang menimpa.

“Pada tahun 2018 sering terjadi musibah yang menimpa Indonesia. Dimulai dari gempa Lombok di bulan Agustus. Kemudian disusul dengan gempa Palu yang menyebabkan tsunami. Dan yang barusan terjadi pada bulan Desember adalah tsunami di Banten dan Lampung Selatan,” tutur Kiai Zainuddin memulai Muidlohnya.

Beliau melanjutkan, semua itu sudah kehedak Allah. Tugas kita cuma berfikir untuk mengubah musibah menjadi berkah. Artinya saat musibah menerpa, kita dianjurkan untuk mencari rahmat Allah. Ada Hadis riwayat Imam Bukhori yang berbunyi: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, suatu penyakit, suatu kesedihan atau suatu gangguan, bahkan duri yanng melukainya melaikan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahnnya.”

Dari hadis ini dapat diambil kesimpulan, bahwa segala musibah itu bisa mendatangkan kebaikan. Sebab, “Sabar itu banyak macamnya, dan yang tertinggi pahalanya yaitu sabar dalam menghadapi musibah,” imbuh Kiai Zainuddin.

*Saat Musibah Menimpa*

Terkadang, saat kita tertimpa musibah merasa paling banayak menerima musibah. Padahal jika dilihat, itu tidak seberapa dengan musibah yang diterima nabi. Nabi dulu juga tidak terlalu kaya, bahkan pernah mengikat perutnya untuk menahan lapar. Begitu pula rumah beliau, hanya seukuran kamar saja.

Oleh karena itu, “Jika kita terkena musibah jangan merana, ingat bagaimana musibah yang dialami nabi”, nasihat Kiai Zainuddin.

Dikisahkan dari Wahab Musabbah, dahulu ada seorang nabi yang rajin ibadah selama lima puluh tahun. Setelah lama beribadah Allah berfirman kepadanya, “Dosamu sudah aku ampuni.” Namun, bukannya senang, nabi tersebut malah menjawab, “Wahai tuhanku, kenapa engkau memaafkan dosaku, padahal saya tidak punya dosa.”

Allah pun murka. Hingga saat nabi tersebut berjalan-jalan, ia tertimpa dahan pohon. Hal itu membuatnya tidak bisa tidur di malam harinya sebab merasakan sakit yang luar biasa. Keesokan harinya ia bertemu malaikat dan curhat kepadanya. “Aku tidak bisa tidur gara-gara tertimpa dahan pohon. Ya Allah saya sudah tidak kuat, tolong sembuhan saya,” keluhnya.

Tak lama setelah itu, turunlah wahyu. Dalam wahyu tersebut dikatakan, bahwa keluhan nabi kepada Allah atas rasa sakitnya itu lebih baik dari pada ibadahnya selama lima puluh tahun. “Maka, jika tertimpa musibah jangan mengeluh kepada sesama manusia, tapi mengeluhlah kepada Allah,” tutur kiai yang juga penulis buku Hikam Zain di akhir mauidloh.

(mumianam/Media-Tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *