24 September, 2018
  • 24 September, 2018

MENUTUP AIB

By on 25 Februari, 2016 0 100 Views

odohONE DAY ONE HADITH
Kajian ini diasuh Oleh DR.H.Fathul Bari,M.Ag
telegram.me/alvers

 
Berikut ini kajian hadits kita hari ini

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia mau menolong saudaranya.  (HR Muslim)

Catatan Alvers
Tiada gading yang tak retak, Manusia tiada yang sempurna begitulah kata pepatah. Jika setiap kita menyadari akan hal ini niscaya kita akan menerima kekurangan orang lain dan kitapun sadar memiliki kekurangan yang sama. Bukankah Manusia adalah tempat salah dan khilaf. Naluri setiap kita malu akan aibnya jika terbuka, maka mengapa kita senang membuka aib orang lain? Tidakkah kita berfikir boleh jadi aib yang sama kita miliki namun belum ada orang lain yang mengetahuinya? Sebagaimana kita senang aib kita tertutup dan tidak seorangpun tahu maka semestinya kitapun senang untuk menutup aib orang lain. Imam Ghazali dalam Ihya’nya menuqil maqalah :
صدور الأحرار قبور الأسرار
Hati orang yang (benar-benar) merdeka adalah (laksana) kuburan (yang menutup aib-aib orang lain).
Maka Allah mendorong kita untuk berbuat baik kepada orang lain dengan menutupi aib mereka seperti keterangan hadits di atas bahkan Allah mencontohkan bagaimana menutup aib manusia. Ibnu Qudamah menyebutkan kisah bahwa pada zaman nabi Musa ‘alaihis salam, Bani Israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata , “Wahai Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka berangkatlah nabi Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar. Musa berdoa, “Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-Mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud.” Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Musa berdoa lagi, “Wahai Tuhanku berilah kami hujan”.  Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian. ” Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya,
يا أيها العبد العاصي الذي يبارز الله منذ أربعين سنة! اخرج من بين أظهرنا فبك منعنا المطر
“Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena sebab engkaulah hujan tak kunjung turun.”
Seorang laki-laki (ahli maksiyat) melirik ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di depan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.
Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun. ” Maka kepalanya tertunduk malu dan menyesal, air matanya pun menetes, sambil berdoa kepada Allah, “Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku. ” Belum sempat ia mengakhiri doanya maka awan-awan tebalpun bergumpal, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan. Nabi Musa pun keheranan dan berkata, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di depan manusia.”  Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan karena seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.” Musa berkata, “Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.” Allah berfirman,
يا موسى! إني لم أفضحه وهو يعصيني أأفضحه وهو يطيعني؟!
“Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka akan aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!” (at-Tawwabin Libn Qudamah Hal. 21)

Saudaraku, jadikan aib orang lain yang kita ketahui sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri kita sendiri agar terhindar dari hal serupa sehingga kita terhindar pula dari malapetaka sebab aib tersebut. Wallahu A’lam. Semoga Allah yang maha menutupi aib, melindungi anda dan keluarga dari terbukanya aib-aib serta malapetakanya. Amin.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: