22 Mei, 2018
  • 22 Mei, 2018

Mencari Ilmu Tak Terbatas Masa dan Usia

By on 6 Mei, 2018 0 1 Views

Pada zaman berbasis informasi dan teknologi (IT) seperti sekarang ini, ilmu seakan-akan hanya berada dalam lingkup formal. Ketika telah lulus dari suatu perguruan tinggi, seolah-olah usai pula kewajiban menuntut ilmu.

 

Padahal, mencari serta mengajarkan ilmu bebas dari ikatan masa dan usia. Kewajiban menuntut ilmu mulai buaian hingga alam kubur, telah termaktub Fardu ‘Ain dalam hadist Nabi SAW. Maka di mana pun tempatnya dan kapan pun waktunya, kita wajib untuk mencari ilmu.

 

Rasul sendiri pernah mencontohkannya. Ketika dalam suatu majelis, salah satu sahabat bertanya. Sebelum menutup jawaban, Rasul beranjak terlebih dahulu dari majelis itu. Dirasa sahabat tersebut belum puas menerima jawaban, Rasul kemudian menyambung paparannya sembari beliau menaiki unta. Dengan tingkah seperti inilah, secara tersirat Rasul tidak pernah membatasi ilmu dengan pagar waktu atau tempat.

 

Seperti yang telah beliau sabdakan bahwa Ilmu adalah cahaya. Maka ia akan menerangi seorang ahli ilmu dan orang sekitarnya. Berdasarkan hadist tersebut, Ulama’ yang kini berperan penting dalam bidang keilmuan, sangat besar pengaruhnya dalam masyarakat. Sebab, “Ulama’ itu representasi nabi.” tutur Dr. KH. Fathul Bari, M. Ag, di tengah mengulas bab ‘Ilmu’ dalam Kitab Shahihul Bukhari, Ahad (6/5).

 

Ilmu Akan Berakhir, Ketika…

 

Segala sesuatu selain Allah pasti fana. Tidak terkecuali ilmu yang juga termasuk mahluk Allah. Dan ketika Ia berkehendak sesuai dengan sifat Qudrat dalam dzatnya, tak satupun yang mampu mencegah atau membatalkan ketentuannya.

 

Sekitar 14 abad silam, Rasul sudah meramalkan akan lenyapnya ilmu di dunia ini. Disebutkan dalam satu kitab hadist yang disusun oleh pakar hadist, Imam Bukhari, bahwa akan datang zaman, di mana ilmu akan diangkat dari dunia.

 

Menyangkut hal ini, badui pedalaman menanyakan kembali kepada Rasul. “Bagaimana ilmu itu bisa hilang, padahal buku-buku masih kita simpan. Dan kita juga ajarkan kepada anak-cucu, kerabat dan tetangga semua.” Rasul lantas menanggapi, bahwa Allah mencabut ilmu tidak secara langsung Melainkan lewat wafatnya ulama’ dan shalihin.

 

“Maka, sebelum ilmu dicabut, tuntut lah ilmu dimana pun dan kapan pun. Sebab ilmu tidak hanya berupa tulisan, tulisan tidak cukup sebagai (pengganti) ilmu.” Tutup Dr. KH. Fathul Bari, M. Ag dengan secuplik nasehat.

 

elham

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.