Manusia Selalu Dalam Pandangan Allah

“setiap gerak-gerik manusia baik itu secara dhohir maupun batin itu tidak akan pernah lepas dari pandangan Allah SWT”

Pengajian rutin Ahad Legi

Kembali digelar dipelataran masjid An Nur II Al-murtadlo pada awal tahun baru 2018 ini, Ahad (21/01/18).

Tak jauh beda dengan Ahad Legi yang lainya, pengajian kitab Bidayatul Hidayah yang dipandu langsung oleh beliau KH. Bafadhol Ahmad Damhuji takkan pernah gugur dalam setiap pengajian Ahad Legi.

Mengaji dengan KH. Damhuji

Pada pertemuan kali ini, beliau KH. Damhuji menjelaskan tentang salah satu ucapan imam besar, waliyyul kutub yakni Imam Al-ghozali. Bahwa setiap gerak-gerik manusia baik itu secara dhohir maupun batin itu tidak akan pernah lepas dari pandangan Allah SWT. Maka dari itu, beliau berpesan kepada kita sebagai umat yang miskin (miskin hati) untuk selalu bersyukur dan senantiasa taat dan taqwa terhadap Allah SWT, baik dhohir maupun batin.

 

Selain itu, beliau kyai Damhuji juga menerangkan akan maksud manusia dari beberapa ulama’. Yakni mereka yang tegolong Jabariyyah mengatakan bahwa manusia itu seperti halnya “Wayang Kulit”, yang hanya bisa diam kecuali digerakkan oleh seorang dalang dan ia pun tak merasakan apapun dan tidak memiliki suatu keinginan. Sehingga dengan ini manusia tidak memiliki kehendak apapun untuk semuanya.

Tipe Manusia

Yang ke-2, mengatakan bahwa manusia itu tegantung dirinya sendiri, mereka yang memntukan dirinya sendiri untuk segala sesuatu yang ingin mereka pebuat, dam semuanya terserah kehendak manusia itu sendiri. Dan pendapat ini menurut ulama Qodariyyah.

 

Dan tipe manusia yang ke-3, sebagaimana faham warga Ahlussunnah Wal jamaah itu mengatakan bahwa manusia itu seperti “Wayang Wong”. Yang segala perbuatannya itu juga dari seorang dalang, dan yang menjadi dalangnya adalah Allah SWT. Tapi manusia tersebut dapat merasakannya dan memiliki kamauan yang berasal dari diri manusia dan selanjutnya terserah Allah yang mengatur wayang wayang wong  tersebut.

 

Sebagaimana macam-macam manusia di atas, manusia dapat digerakkan hatinya untuk ditata dalam hal kebaikan, itu apabila manusia itu tidak kemasukan makanan-makanan yang tidak halal. Ataupun sudah halal makanannya, tetapi masih sulit digerakkan hatinya untuk kebaikan, itu karna manusia tersebut masih memiliki dosa atau bahkan ia tidak sadar kalau ia melakukan dosa.

 

Oleh karna itu, beliau mengakhiri pengajiannya dengan mengatakan para seluruh jamaah “Jika terjadi apa-apa, kita harus merasa bahwa apa yang ita lakukan ini salah, bukan malah bertanya. Apa salah kita?”.

 

(Pengajian Bidayatul Bidayah oleh KH. Bafadhol Ahmad damhuji)

Pewarta               : M Miftakhul Huda

Copyeditor         : Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: