Luasnya Maghfirah Allah

PASAR WAQIAH

Dalam hadis Nabi, ada orang yang memiliki dosa setinggi gunung. Ada juga yang memiliki dosa sebanyak buih di laut. Meski begitu, Allah akan mengampuninya jika ia mau bertobat. Inilah yang disebut sebagai maghfirah Allah.

Kata maghfirah diambil dari bahasa arab yang berarti menutupi. Menurut Imam Al-Ghazali, maghfirah tidak hanya sekedar bermakna ampunan, melainkan bermakna menutupi. Sebab Allah menutupi manusia dengan sesuatu agar tampak indah.

Pada hakikatnya, manusia itu jelek. Namun, Allah menutupinya dengan kulit sehingga menjadi indah. Seandainya tidak ditutupi, maka akan terlihat mengerikan. Begitu pula perut yang merupakan tempat bermacam-macam makanan. Jika Allah tidak menutupnya, maka akan terlihat menjijikkan, sebab di perut pula kotoran ditempatkan.

Ada perumpamaan bagaimana Allah memberi Mahgfirah. Seperti kita ketahui, dosa adalah sebuah penyakit. Seandainya setiap dosa Allah wujudkan sebagai tahi lalat, maka betapa buruknya wajah kita dengan tahi lalat. Begitulah cara Allah menutupi kejelekan manusia dengan tidak memperlihatkan seberapa banyak dosa yang dilakukan.

*Maghfirah Seluas Langit*

Saat ini, jarak terjauh yang diketahui oleh manusia adalah 12,6 juta tahun cahaya. Namun, dengan jarak sejauh itu ujung langit masih belum ditemukan.

Menurut Aeronautics and Space Administration (NASA) dan tim astronomi internasional, jarak itu adalah letak kluster (gabungan beberapa galaksi) bernama Cosmos Aztec 3. Jika dihitung, jarak 12,6 juta tahun cahaya sangat sulit dibayangkan. Bagaimana tidak, satu detik cahaya saja bisa berjarak 300.000 kilometer.

Meski begitu, jarak tersebut masih tidak bisa mengalahkan luasnya maghfirah Allah. Karena, ampunan Allah lebih luas dari itu. Dalam surat An-Najm, Allah Swt. berfirman:

إنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguh luas ampunan tuhanmu.” (Q.S. An-Najm: 32)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda pernah diberi firman oleh Allah yang berbunyi:

يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِي.ْ يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ

“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dos-dosa yang engkau lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu. Aku tidak peduli.” (H.R. Tirmidzi).

Begitulah ampunan Allah, sebanyak apa pun dosa hamba-Nya, Allah akan mengampuni selagi hamba tersebut masih mau memohon ampun. Bahkan dosa setinggi langit, yang tidak diketahui tingginya, pun Allah maafkan. 

*Maghfirah dengan Tobat*

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad Saw. berkisah:

قَالَ أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ

“Allah berfirman: ada seorang hamba yang mengerjakan dosa berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku.’ Allah ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mengerjakan dosa dan ia tahu bahwa ia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya.”

Beliau melanjutkan kisahnya:

ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِي أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَك

Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya.’ Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allah Ta’ala berfirman, ‘Hambaku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya, berbuatlah sesuka engkau, Aku telah mengampunimu.’ (HR. Muslim)

Seperti itulah bagaimana belas kasih Allah. Ia tidak akan selalu mengampuni hambanya yang melakukan kesalahan selagi ia mau mengakuinya. Namun, jika tidak mengakui, Allah juga akan tidak mengampuni. Selaras dengan hadis Rasulullah dalam kitab Ihya’ Ulumuddin yang berbunyi:

إن الله لا يمل من المغفرة حتى يمل العبد من الاستغفار

“Sesungguhnya Allah tidak akan bosan memberi maghfirahnya, hingga seorang hamba bosan dengan memohon maghfirah kepada-Nya.”

*Kebahagiaan Allah*

Dengan bertobat, Allah akan merasa senang. Perumpamaannya seperti kisah berikut.

Dikisahkan, ada seorang laki-laki yang menunggang unta. Di atas unta ada harta bendanya. Di tengah perjalanan ia lelah. Kemudian ia turun untuk istirahat dan tertidurlah ia. Setelah sadar, ia dapati unta miliknya hilang beserta harta bendanya yang ada di atas unta tersebut.

Karena panik, ia berlari dengan tujuan mengejar unta tersebut. Namun, tak ia dapati jejak untanya. Akhirnya, ia putus asa dan kembali ke tempat semula. Karena lelah setelah berlari mencari unta, ia pun tertidur.

Saat membuka mata, ternyata untanya ada di depannya lengkap dengan harta bendanya. Hingga karena senangnya, sampai keliru mengucapkan, “Ya Allah, engkau adalah hambaku. Dan Aku adalah tuhan-Mu.” Padahal sebenarnya ia ingin mengucapkan, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Dan aku adalah Hamba-Mu.”

Dari kisah ini, Rasulullah Saw. bersabda:

…لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ

“Allah lebih senang melihat hambanya yang (tersesat kemudian) bertobat kepada-Nya daripada senangnya penunggang unta (di kisah sebelumnya)…” (H.R. Muslim)

Oleh karena itu, kita sebagai hamba Allah harus optimis untuk bertobat. Meskipun dosa kita sebesar apa pun, maghfirah Allah lebih besar dari itu.” Wallahu a’lam.

Lebih lengkapnya silahkan ikut pengajian Pasar Waqiah Ramadhan yang digelar ba’da isya di masjid An-Nur II. Dan setiap harinya akan diisi dengan materi berbeda-beda.

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadhan oleh Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag

(Mumianam/Media-tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: