Terbaru

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir

By on 28 Maret, 2018 0 67 Views

“Pertama-tama saya akan memakaikan surban hijau ini kepada Kiai Zainuddin Badruddin, karena pakaian hijau adalah pakaian penghuni surga”, demikianlah syekh Amin bin Muhammad Ali Ad-duhaby Al-jailani, mengawali acara tausyiyah yang digelar di halaman masjid An-nur II, Selasa malam (27/03). Diikuti oleh seluruh santri tingkat SMA, acara ini berjalan dengan lancar di bawah langit malam cerah tanpa awan.

 

Dalam tausyiahnya, syekh asal Lebanon ini banyak membahas tentang keutamaan mencari ilmu. Beliau menyebutkan bahwa keutamaan mencari ilmu bisa kita ketahui melalui ayat yang turun pertama yaitu “bacalah”, dimana membaca itu berarti belajar. Jadi, perintah belajar telah diperintahkan oleh Allah sejak 1400 tahun yang lalu.

 

Banyak ilmu yang diajarkan oleh Allah, apapun yang kita baru ketahui itu semata-mata ilmu dari Allah. Seperti halnya HP yang dapat memberi tahu kita suatu kejadian meskipun di tempat yang jauh. “Meskipun setiap hari ilmu itu dipelajari tetap tidak akan habis”, imbuh ulama sufi yang berumur 70 tahun ini.

 

Menurut beliau, semakin seseorang menggali ilmu, maka orang tersebut akan merasa semkain bodoh dan terus ingin menambah ilmunya. Tetapi, dia tetap merasa ada orang yang lebih alim di atasnya. Seperti sebuah pepatah, di atas langit masih ada langit.

 

*Nabi Musa as. dan Nabi Khidir as.*

 

              Dikisahkan, suatu hari nabi Musa mempunyai pikiran, Apakah ada yang lebih alim (berilmu) darinya, sedangkan beliau adalah nabi, pasti kecerdasannya melebihi dari yang lain dan mungkian beliaulah yang paling alim. Namun, meskipun beliau berfikir seperti itu, bukan berarti ada rasa sombong dalam hatinya.

 

Kemudian Allah berfirman “Ada salah satu hamba dari hamba-hambaku yang akan menjadi teman perjalananmu, maka kamu akan menemukan hal-hal yang belum pernah kamu ketahui dan tidak akan kamu mengerti”.

 

Selang berapa lama Nabi Musa pun bertemu dengan nabi Khidir dan memulai perjalannya dengan menggunakan perahu. Tapi sebelumnya nabi Khidir membuat perjanjian “kamu tidak akan sabar dengan aku, sedangkan kamu tidak lebih tahu daripada aku”. Kemudian nabi Musa menjawab “Insya allah saya akan sabar”.

 

Saat berada di tengah laut tiba-tiba nabi Khidir melubangi perahu yang dinaikinya agar terlihat jelek, padahal perjalanannya masih jauh. Nabi Musa pun memprotes dan nabi Khidir memperingatkan “tidak kah aku sudah bilang kepadamu jika kamu tidak akan sabar”. Nabi Musa menyadari kesalahannya dan meminta maaf atas kelalaiannya.

 

Perjalanann pun berlanjut hingga sampai di suatu tempat yang terlihat seorang anak kecil yang sedang bermain. Tiba-tiba nabi Khidir membunuh anak kecil tersebut. Berkatalah nabi Musa “mengapa engkau membunuhnya? Sedangkan dia anak kecil yang tidak tahu apa-apa”. Nabi Khidir mengingatkan kembali “tidak kah aku sudah bilang kepadamu jika kamu tidak akan sabar”. Nabi Musa kembali meminta maaf.

 

Beliau berdua melanjutkan perjalanan sampai melihat suatu gubuk dan mereka membangun gubuk tersebut, pada saat itu, mereka sedang kehabisan bekal. Nabi Musa mengusulkan agar meminta upah atas pekerjaannya ini. Kemudian nabi Khidir menjawab “tidak, daerah ini sudah masyhur dengan orang-orangnya yang pelit”.

 

Namun, nabi Musa tetap bersikeras memohon agar nabi Khidir meminta upah atas pekerjaannya. Dari sinilah nabi Khidir memutuskan untuk mengakhiri perjalannya dengan nabi Musa karena Nabi Musa tidak bisa bersabar.

 

Sebelum mereka berpisah, Nabi Khidir memberikan penjelasan atas perlakuannya tadi. Pertama, untuk masalah perahu beliau menjelaskan, “perahu yang kita tumpangi itu milik orang miskin dan di depan sana ada bajak laut yang suka merampas perahu orang yang masih bagus. Maka dari itu aku melubanginya agar terlihat jelek dan tidak dirampas oleh kelompok bajak laut”.

 

Kedua, anak yang dibunuh nabi Khidir tersebut nantinya saat ia besar akan membunuh orang tuanya. Maka dari itu, nabi khidir membunuhnya sebelum dia baligh. Sperti yang disabdakan nabi, “anak yang belum baligh masih suci dari dosa”, maka dari itu sebelum anak ini melakukan dosa beliau bunuh terlebih dahulu. Meskipun hal itu dalam pandangan syari’at dilarang.

 

Yang ke tiga, beliau membangun kembali gubuk tersebut, karena gubuk itu milik anak yatim piatu. Di bawah gubuk itu ada harta peninggalan orang tuanya. Nabi Khidir takut jika gubuk itu roboh dan terlihat harta peningglalannya, maka orang-orang bukhla’ itu akan berebut harta tersebut sampai habis dan anak yatim piatu itu tidak bisa memanfaatkannya saat dewasa.

 

Lalu nabi Khidir memberi nasehat kepada nabi Musa untuk terakhir kalinya “Aku mengatakan makna dari yang engkau peranyakan itu semata-mata dari wahyu Allah”. Nabi Musa pun sadar kalau ada manusia yang lebih alim daripada beliau.

 

Pewarta : Miqdad

Editor : Izzul

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: