Khoirul Wahid Azmi, Berjuang dalam Dakwah

“Bagus, no comment.”

Berpakaian serba biru, remaja berperawakan ramping itu berpidato di hadapan ribuan santri di depan masjid An-Nur II. Berbekal gaya KH. Zainuddin MZ., yang dipelajarinya bertahun-tahun, ia membuat para penonton dan juri terpukau. “Saya tidak berkomentar karena penampilannya sudah bagus semuanya,” ujar Ustaz Jauhar Nahari, juri cabang lomba khitobah (pidato) Osmana Internal saat ditemui Mediatech An-Nur II seusai acara, Kamis (22/8) malam.

Terlahir dengan nama lengkap Khoirul Wahid Azmi, ia hidup dalam keluarga lulusan pesantren. Kakeknya adalah seorang kiai di Sidoarjo. Karena keinginan kakeknya yang bernama KH. Syuaib itu, Azmi menekuni bidang pidato.

Suara remaja kelahiran Pasuruan itu pertama kali menggema di panggung lomba pidato di Tambak Beras, Jombang empat tahun silam. Sayangnya, ia harus kalah meski telah berlatih selama sebulan penuh. Sempat ada rasa putus asa dalam dirinya. Namun, ayahnya, Bapak Samuji, terus memotivasinya agar terus belajar pidato.

Mencetak Dai Lulusan Pesantren

Sang ayah pernah berpesan kepada Azmi kecil untuk memotivasinya. “Mubalig sekarang banyak yang tidak berlatar belakang pesantren. Masak, kita sebagai santri tidak bisa menjadi mubalig,” kata Azmi menirukan pesan ayahnya itu. Baginya, pesan itu begitu merasuk dalam dirinya. Ia berkeinginan untuk menyebarkan ajaran berhaluan pesantren dalam pidatonya.

Selaras dengan pesan Ayah Azmi, Ustaz Lintar Bayu, seorang dai An-Nur II, juga beranggapan sama. Menurutnya, orang pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi dai dalam berdakwah. “Karena saat ini dibutuhkan kader ulama yang dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Dengan adanya lomba pidato ini, Ustaz Bayu sangat mengapresiasi. karena dengan adanya perlombaan ini akan membuka peluang bagi para santri untuk menggali bakat dalam berdakwah. Sehingga secara tidak langsung potensi santri bisa digali.

Kemudian, dalam mempersiapkan dai yang berwawasan pesantren dibutuhkan adanya dorongan. Seperti dengan menyuruh maju untuk menyampaikan satu-dua kata. “Itu terus dilakukan, setidaknya mental mereka terasah sehingga mampu menyampaikan materi yang dipelajari di pesantren dengan baik,” pungkas Ustaz Bayu.

Perjuangan Menjadi Dai Ulung

Pada 2015, Azmi memulai belajar berpidato. Saat itu, gurunya membimbingnya belajar pidato. Dari situ, ia terus berlatih meniru gaya pidato KH. Zainuddin MZ. Kiai berjuluk dai sejuta umat itu memiliki karakter pembawaan pidato yang tegas dan komunikatif. Itu yang ingin ditiru oleh Azmi.

Ada hal yang membuatnya suka jika berpidato dengan gaya dai sejuta umat itu. Yakni, intonasi suara yang menggebu dan bisa tiba-tiba tenang. Dan pada malam final Osmana Internal itu, rupanya ia ingin memikat penonton dengan cara itu. Hasilnya pun memuaskan. “Dari segi pembawaan pidato mirip dengan Kiai Zainuddin MZ.,” komentar Ustaz Jauhar.

Suara Azmi yang hampir mirip dengan KH. Zainuddin MZ. dalam berpidato membuatnya ditunjuk untuk mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia di Universitas Negri Surabaya. Hampir setiap hari ia berlatih. Waktu senggang dan belajarnya juga tak jarang dikorbankan untuk berlatih.

Buah pengorbanan Azmi pun terlihat. Dia mendapatkan juara pertama dalam lomba itu. Selanjutnya, berbagai perlombaan sering ia ikuti. Sesering itu pula ia pulang dengan membawa juara. “Saya bangga dan berharap ke depannya Azmi terus berbenah,” ungkap Ustaz Ikhwanus Shobirin, kepala kamar Azmi.

Perjuangan Tak Pernah Surut

Bagaimanapun gemilang pencapaiannya selama ini, Azmi tak luput dari berbagai hambatan. Azmi mengatakan, awal belajar pidato sempat merasakan sulitnya menghafal materi. Rasa malu pun menerpanya saat berada di panggung. Untuk menutupi itu, ia punya cara tersendiri. “Kalau lihat mata penonton kan malu, jadi saya lihat pecinya saja,” kata ketua ekstra kurikuler khitobah An-Nur II itu.

Tak hanya itu, tahun lalu, ia dicibiri oleh seseorang saat diundang berceramah di sebuah daerah. Tanpa menyebut nama, Azmi mengatakan pernah dicibir sebagai seorang dai yang bau kencur, masih minim pengalaman.

Untungnya, Azmi pantang menyerah. Ia tak memedulikan meskipun dicemooh bagaimanapun. Karena baginya berdakwah adalah hal yang sanat penting. Tujuannya, “Untuk mengarahkan masyarakat dan sebagai sarana amar ma’ruf nahi munkar.”

(Mumianam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: