KH. Fathul Bari: Kematian Tiba-Tiba Merupakan Tanda Kiamat

Kewafatan KH. M. Badruddin Anwar, dua tahun silam, merupakan kewafatan yang tergolong tiba-tiba. Menjelang kewafatannya, Kiai Badruddin masih terlihat sehat. Barulah sehari sebelumnya, beliau merasa sakit perut dan dibawa ke Rumah Sakit Panti Nirmala, kamar A517. Dan 28 Februari 2017, di rumah sakit tersebut, beliau tutup usia.

Di acara Haul yang ke-2 ini, Selasa 5 februari 2019, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M. Ag.  membawakan sambutan mewakili majelis keluarga. Dalam sambutannya beliau menjelaskan bahwa kematian yang tiba-tiba itu merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat. “Tapi tiba-tiba ini bukan bagi beliau, tapi bagi masyarakat,” jelas beliau. Karena tentu Kiai Badruddin seolah sudah tahu akan hari perpisahan itu.

Empat puluh hari sebelum kewafatannya, KH. Badruddin meminta para santri untuk membaca Tahlil. Dan tepat di hari ke empat puluh, beliau tutup usia. Padahal sebelum kewafatannya, beliau masih sempat mempersiapkan penutupan tahlil empat puluh hari tersebut. “Mungkin apabila beliau masih hidup waktu itu, beliau sendiri yang akan mempersiapkan semuanya,” terang KH. Fathul Bari.

Lanjut KH. Fathul, Kiai Badruddin memang seorang pengasuh pondok pesantren. Namun beliau tidak hanya perhatian kepada para santri, melainkan juga kepada para wali santri.

Pernah suatu ketika, Kiai Badruddin menerima laporan bahwa penjualan di koprasi terbilang laris. Mengetahui hal itu, beliau bukannya senang, malah merasa kasihan kepada wali santri lantaran para santri yang konsumtif.

KH. Fathul juga menambahkan bahwa Kiai Badruddin pernah menolak permintaan salah seorang wali santri yang meminta untuk menaikkan uang SPP. Beliau kawatir kalau ada wali santri yang batal memondokkan anaknya lantaran uang SPP yang terlalu mahal. Untuk itu, di hadapan ribuan jamaah yang hadir, KH. Fathul meminta do’a supaya dapat mewariskan sikap Kiai Badruddin yang demikian.

Di akhir sambutannya, KH. Fathul menjelaskan salah satu ahlak Kiai Badruddin yang tidak terlalu mencintai jabatan. “Karena salah satu penyebab kerusakan seseorang adalah terlalu mencintai jabatan,” jelas Kiai Fathul.

Maka dari itu, di masa hidup beliau, bukan foto Kiai Badruddin yang terpampang pada banner Pengajian Rutin Ahad Legi, melainkan foto KH. Anwar Nur. “Kebaikan seseorang itu tidak dapat dilihat di masa hidupnya, tetapi setelah kematiannya,” tutup KH. Fathul di akhir sambutannya.

(Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pondok Pesantren An Nur II Al Murtadlo.

%d blogger menyukai ini: