KH. Anwar di Mata KH. Hasyim Muzadi : Belajar Kesederhaan Hidup Kiai Anwar (1/2)

Meskipun hidup di rumah gedong berarsitektur bangunan Belanda, KH. Anwar Nur adalah sosok ulama yang sederhana. Hal ini tercermin dari pakaian beliau yang selalu putih polos. Terlebih soal makan, beliau selalu mensyukuri apa yang ada. “Coro dahar abah kulo mboten nate tanglet seng mboten enten (Ketika makan, abah saya tidak pernah bertanya apa yang tidak ada,” cerita Nyai. Hj. Zubaidah Anwar.

Kiranya pelajaran terbaik yang disimpulakan Kiai Hasyim Muzadi, sepanjang berguru kepada Kiai Anwar, adalah kesederhanaannya. Dari sini KH. Hasyim mengakui bahwa bukan hanya belajar ilmu keagamaan, melainkan lebih kepada ilmu kehidupan.

Kiai Hasyim Muzadi, sosok ulama yang bergeming dalam panggung publik itu, telah belajar banyak tentang ilmu kehidupan terhadap Kiai Anwar Nur yang umurnya selisih 31 tahun lebih tua. Kiai Anwar terlahir di dusun Plampang, Probolinggo pada tahun 1912 sebagai putra KH. Nuruddin.

1975, merupakan tahun perdana Kiai Hasyim bertemu sekaligus berguru kepada Kiai Anwar ke Bululawang, Pondok Pesantren An-Nur. Dalam perjumpaan awal itu, Kiai Hasyim yang akan menjadi tokoh besar itu, mendapat amanat agar setidaknya mengajar santri-santri An-Nur di bidang bahasa inggris sekaligus ilmu tata negara.

Sebagai seorang santri, Kiai Hasyim pun bersedia mengajar. Selain karena bentuk hormat, juga sebagai wujud aplikasi maqolah yang mengakui kalau ‘Agama dan kekuasaan (negara) adalah saudara kembar’. “Sebab para santri harus mengerti negara (disamping juga mahir agama)”. Begitulah pesan singkat Kiai Anwar pada santri barunya itu.

Tidak Belajar Ilmu, Melainkan Kehidupan

Sudah genap tiga tahun Kiai Hasyim mengajar santri tentang bahasa internasional serta ilmu kenegaraan. Saatnya menanti panggilan Kiai Anwar. Pada waktu penantian tersebut, sering kali Kiai Hasyim mendapat bermacam wejangan dan nasihat dari Kiai Anwar.

Diantaranya adalah tentang ilmu sosial. Lebih tepatnya tata hidup berkeluarga. Beberapa wawasan terkait hubungan keluarga, beliau dapat dari Kiai Anwar yang menjadi guru kehidupan baginya. Beliau memang tidak pernah diajari nggetu belajar kitab. Kiai Anwar malah lebih sering memberinya ilmu kehidupan.

Kiai Anwar pernah mengatakan, bahwa untuk merawat keluarga harus berawal dan dimulai dari merawat kebersihan hidup kita sendiri. Bersih yang dimaksud adalah hati, rejeki dan perilaku yang bersih. Selain itu, peran orang tua dan pergaulan juga mempengaruhi suasana keluarga.

Kiai Hasyim tentu menjaga baik-baik pesan itu. Sementara Kiai Anwar juga selalu mewanti dirinya agar, “Jangan sampai Hasyim memakan rezeki yang tidak ada namanya,” sebab rezeki harus ada namanya. Semisal, rezeki hasil kerja, hasil pemberian, hasil makelar, gaji guru dan sebagainya. Sedangkan rejeki yang tanpa nama yang jelas, atau rezeki syubhat, itu salah.

Oleh karenanya, Kiai Anwar senantiasa bersikap sederhana. Menurut kisah Kiai Hayim sendiri, Kiai Anwar ketika bepergian kemanapun tidak pernah membawa uang. Kalaupun ada, pasti dititipkan santrinya, itu saja hanya seperlunya. Untuk itu, kiai Hasyim diutus berdoa meminta rezeki yang cukup, bukan yang banyak.

Sumber: Video wawancara Athoillah Hikam https://www.youtube.com/watch?v=L3oqDQZiGMs , video profil Pondok Pesantren An-Nur 1 https://www.youtube.com/watch?v=9pK1rKcsFl8

(Ilham Romadhan/Media-Tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: