annur2.net – Hari Santri Nasional sejatinya bentuk penghargaan Bangsa Indonesia kepada pahlawan dari kalangan pesantren. Delapan puluh tahun yang lalu, mereka rela meninggalkan ngaji demi menjaga Tanah Air.
Pada awal minggu kemarin, Senin, 13 Oktober 2025 publik dihebohkan beredarnya tayangan yang mem-framming pesantren sebagai lembaga yang mengadakan paham feodalisme dan perbudakan santri. Serta menyinggung kehidupan para kiai yang katanya kaya dari “amplop”.
Tayangan dari Trans7 itu menuai banyak komentar dari dua pihak, pendukung dan pemboikot. Mayoritas lembaga pesantren terutama Pondok Pesantren Lirboyo memboikot dengan tegas. Sebab dalam tayangan tersebut melecehkan martabat sosok Kiai sepuh, KH. Anwar Manshur, Rais Syuriah PWNU Jatim.
Tayangan itu bagaikan“bom” meledak di Jepang. Menghancurkan kebahagiaan pesantren yang seharusnya mendapat perayaan dan pengakuan di bulan Oktober ini.
Feodalisme dan Perbudakan
Secara makna istilah feodalisme dengan tradisi pesantren seperti ro’an atau bungkuk di depan kiai tidak ada kaitannya. Bahkan dalam ajaran syariat, kegiatan seperti itu perlu diutamakan.
Nabi Muhammad saw., mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menjaga kebersihan, dalam salah satu sabdanya:
الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ
Artinya: “Kebersihan adalah separuh iman.”
Bentuk penghormatan kepada kiai atau guru juga salah satu adab seorang murid. Sebab derajat guru itu lebih tinggi dengan adanya ilmu, terutama ma’rifat billah (ilmu ketauhidan).
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
Artinya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua kami, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak orang alim (guru) kami.”
Nabi Muhammad menjelaskan orang-orang yang bukan termasuk dari kaumnya. Salah satunya orang yang tidak mengetahui hak bagi seorang kiai atau guru.
Kemuliaan guru itu lebih tinggi daripada orang tua. Orang tua hanya menyelamatkan anaknya dari kecelakaan dunia. Sedangkan guru menyelamatkan murid-muridnya dari api neraka.
قَالَ فِي تَعْلِيمِ الْمُتَعَلِّمِ إنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيرِهِ
Artinya: Syaikh Az-Zarnuji menjelaskan dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim, “Seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan mendapat manfaat darinya kecuali dengan memuliakan ilmu, memuliakan para ahlinya (ulama), serta memuliakan dan menghormati gurunya.”
Jangan Lupakan Jasa Kiai dan Santri
Kiai dan santri mengakui menjaga tanah air termasuk kewajibannya. Ajaran syariat Islam juga menyerukan untuk mencintai dan menjaga tanah airnya dari penjajah.
Seperti yang telah Nabi Muhammad contohkan:
«وَالله إِنَّك لخير أَرض الله، وَأحب أَرض الله إِلَى الله، وَلَوْلَا أَنِّي أخرجت مِنْك مَا خرجت».
Artinya: “Demi Allah, engkau (wahai Makkah) adalah negeri yang paling aku cintai, seandainya bukan karena kaummu mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar darimu.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban)
Hadis ini menampakkan kecintaan Nabi Muhammad terhadap kota asalnya. Beliau tidak berkeinginan untuk meninggalkannya. Tetapi beliau harus pergi agar aman dari siksaan dan gangguan orang kafir Quraisy. Hingga pada akhirnya Nabi bersama pasukan menyerbu kota Makkah demi membebaskan Makkah dari orang-orang kafir pada tahun 10 H.
Ini salah satu bentuk yang diterapkan para kiai dan santri di era perjuangan. Puncaknya terlihat pada 22 Oktober 1945 pasca proklamasi. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari memfatwakan wajib jihad membela bangsa, yang lebih dikenal dengan “Resolusi Jihad”.
Hingga pada peperangan 10 November di Surabaya para pejuang kalangan pesantren berhasil mempertahankan dan mengusir penjajah dari Surabaya.
Dengan demikian, di tengah isu-isu negatif yang beredar mengenai pesantren dan mencoba merusak citra baiknya, peringatan Hari Santri Nasional merupakan waktu yang tepat untuk menunjukkan jasa kiai dan santri. Kehormatan pesantren adalah kehormatan bangsa.
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)
