Kajian Tafsir: Mendengarkan Gunjingan, Dosakah?

gunjingan, Kajian Tafsir: Mendengarkan Gunjingan, Dosakah?, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

66. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (Q.S At-Taubah)

***

Orang munafik saat ditanya mengapa mereka memperolok Nabi, mereka akan menjawab “Itu hanya sekedar gurauan untuk menghilangkan jenuh.” Di antara mereka ada yang diampuni oleh Allah.

Mereka yang tidak banyak memberikan alasan sebagai pembelaan akan diampuni oleh Allah, karena mereka telah melakukan kesalahan dan segera bertaubat. Namun, mereka yang selalu beralasan untuk membela dirinya akan diazab oleh Allah, karena mereka tidak mau mengakui kesalahannya.

Kita hidup di dunia ini pasti ingin menjadi manusia yang terbaik. Namun terkadang kita tidak tahu tolak ukur manusia terbaik itu apa. “Manusia terbaik bukan mereka yang tidak pernah salah, namun mereka yang bersalah dan mengakui kesalahannya,” ucap Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. saat mengisi pengajian tafsir.

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka juga mendapatkan dosa ketika ada orang yang memperolok atau menggunjing orang lain. Mereka yang menggunjing melakukan dosa dengan mulutnya. Kita yang mendengar hal itu melakukan dosa dengan telinga kita, jika kita tidak mengingkari hal tersebut.

Di antara kaum munafik, ada seorang sahabat bernama Mahsyi bin Umair. Dia adalah orang yang sering bergaul dengan kaum munafik lainnya yang suka memperolok Nabi. Namun dia selalu mengingkari gunjingan atau olokan yang mereka tujukan kepada Nabi.

Saat ayat ini turun ia benar-benar bertaubat dari kemunafikannya. Ia berkata “Ya Allah. Aku seakan-akan ingin terus terngiang-ngiang di telingaku, satu ayat yang saat dibaca kulitku merinding dan hatiku bergetar.”

Ia juga berdoa setiap hari agar bisa meninggal dalam keadaan syahid, agar tidak ada yang berkata telah memandikan dan mengafani jenazahnya. Maka Allah mengabulkan doa tersebut. Mahsyi bin Umair akhirnya syahid di Perang Yamamah dan tidak ada yang menemukan jenazahnya.

Orang yang berada dalam kemunafikan lalu bertaubat, maka Allah akan mengampuninya. Berbeda dengan mereka yang senantiasa berada dalam kemunafikan, maka Allah tidak akan mengampuni mereka dan dan akan mengazab mereka.

*Kiat Agar Taubat Diterima*

Bertaubat bukan menyesal namun masih tetap melakukan kesalahan atau dosa yang sama. Dalam bertaubat setidaknya ada tiga hal yang perlu kita perhatikan, bisa kita singkat dengan “INA”

Pertama. Ikhla’ atau menyudahi maksiat yang kita lakukan. Orang yang beristigfar sepanjang malam namun tetap melakukan maksiat tidak disebut bertaubat.

Kedua. Nadamah atau menyesal atas kesalahan atau dosa yang telah kita lakukan. Tidak boleh kita berhenti bermaksiat namun kita merasa bangga atas maksiat yang pernah kita lakukan.

Ketiga. ‘Azm atau berniat untuk tidak mengulangi dosa tersebut. Tidak boleh kita bertaubat namun berniat untuk mengulanginya di lain hari.

Semoga Allah menjaga kita dari melakukan kemaksiatan dan mengampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan.

(Muhammad Abror S/Mediatech)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: