KH. M. Badruddin Anwar Dalam Barisan Syair Manaqib

Manaqib adalah cerita biografi seseorang. Seperti halnya manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang terkenal, manaqib KH. M. Badruddin Anwar juga dituliskan dalam bentuk bait-bait nazam. Penciptanya adalah adalah putra beliau sendiri, Kiai Ahmad Zainuddin Badruddin.

Cerita biografi yang dituliskan secara singkat itu, langsung dibacakan Kiai Zainuddin pada malam puncak peringatan Haul Kiai Badruddin yang kedua, Selasa, 5 Februari 2019 di Pondok Pesantren An-Nur II (Pesantren Wisata). Peringatan yang dihadiri ribuan jamaah dari berbagai kalangan masyarakat itu juga dihadiri beberapa ulama dan umara (pejabat). Diantaranya Habib Hamid Mauladawilah, Habib Abdurahman Baraqbah, KH. Muzaki Mustamar, pejabat pemerintah kabupaten, pejabat perpajakan, dan pejabat militer, Komandan Inf. Ferry Muzawwad.

Mengawali manaqibnya, Kiai Zainuddin menjelaskan bahwa Kiai Badruddin dilahirkan pada 2 April 1942. “Beliau biasa dipanggil kiai Bad, putra pertama KH. Anwar Nur dari tujuh bersaudara,” terang Kiai Zainuddin. Di usianya yang ke 75 tahun, beliau tutup usia pada 28 Februari 2017.

Di masa mondoknya, Kiai Badruddin belajar ilmu dan adab kepada seorang guru yang menuntun beliau kepada kebaikan, KH. Kholil Sidogiri. Setelah itu beliau melanjutkan belajarnya kepada seorang kiai yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH. Ahmad Jazuli Usman.

Perihal ahlak Kiai Badruddin kepada putra-putrinya, Kiai Zainuddin menyampaikan bahwa beliau tidak pernah sama sekai memarahi. “Beliau adalah orang tua yang penyayang, menasehati dengan penuh kelembutan, kata-katanya penuh dengan penyemangat dan juga peringatan,” jelas Kiai Zainuddin menyarahi syairnya.

Kepada para tetangganya, Kiai Badruddin adalah orang yang lapang dada dan sabar dalam menghadapi gangguan dari siapapun. Hal ini merujuk pada perjuangan Kiai Badruddin di masa awal pendirian pondok pesantren yang kerap menghadapi berbagai cobaan. “Beliau itu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan pula, namun membalas pelakunya dengan kebaikan,” ungkap pengarang buku “Hikam Zain” itu.

Yang terkenal dari sosok Kiai Badruddin adalah ahlak Kiai Badruddin yang sangat memuliakan setiap orang yang bertamu kepada beliau. Tak pernah sekalipun beliau membeda-bedakan tamu, semua beliau perlakukan sama, menerima dan menghormati. “Kepada tamu dan anak-anak yatim beliau sangat dermawan, tidak takut kehabisan harta benda,” terang Kiai Zainuddin yang menyampaikan manaqib itu setelah sambutan yang dibawakan KH. Fathul Bari.

Cita-Cita Kiai Badruddin di masa hidupnya, beliau ingin menjaga murid-muridnya hingga menuju kesuksesan. Kiai Zainuddin bercerita bahwa beliau sampai pernah menangis menanyakan kabar santri-santrinya, “Yo opo kabare santri-santriku dek omah? (bagaimana kabar santri-santriku di rumah?).”

Dan syair inipun berakhir pada detik-detik kewafatan Kiai Badruddin. Ketika beliau sakit di rumah sakit, salah satu pertanda kewafatannya adalah melihat ka’bah. Kepada putra-putri beliau yang menjaga, Kiai Badruddin berucap, “Iku kok padang nemen? (itu kok terang sekali?).”

Melanjutkan nazam terakhir, sepeninggalnya, Kiai Badruddin meninggalkan lima belas putra-putri, ribuan santri dan lima belas hektar luas pondok pesantren yang beliau asuh. Dengan penuh harap, Kiai Zainuddin berdo’a, “Semoga dengan berkah Kiai Badruddin ini, pondok pesantren bisa semakin luas dan semakin besar memberikan kemanfaatan kepada negara ini.”

Terakhir, Kiai Zainuddin mengutip salah satu nasihat Kiai badruddin, “Barang siapa yang bisa menjaga jamaahnya, Allah akan menjaga kehidupannya.”   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pondok Pesantren An Nur II Al Murtadlo.

%d blogger menyukai ini: