JANGAN CABUT UBANMU

JANGAN CABUT UBANMU


ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Syu’aib RA, Rasul ﷺ bersabda :


لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَة


“Janganlah kalian mencabut uban sebab tidaklah seorang muslim yang memiliki sehelai uban, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” [HR Abu Daud]

Catatan Alvers

Seiring dengan berlalunya waktu, setiap manusia akan menua. Pepatah mengatakan “sepandai-pandai menyimpan istri muda akhirnya tua juga” wkwkwk. Kulit yang dulu kencang mulai kendor, Gigi yang dulu putih nan kuat sekarang mulai tanggal dan rambut yang hitam berkilau kini mulai memudar dan mulai tumbuh beberapa helai uban. Dan itu artinya ia tambah mendekat dengan kematian.

Setiap orang mengetahui hal itu namun kenyataannya banyak yang menolak tua karena ambisinya terhadap dunia sehingga iapun melupakan kematian. Rasul ﷺ bersabda :


يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ


“Manusia itu menua namun ia masih terus merasa muda dalam dua hal: tamak pada harta dan ingin panjang umur.” [HR Muslim]

Imam Ghazali meriwayatkan bahwa malaikat maut (Izrail) bersahabat dengan Nabi Ya’qub AS. Suatu ketika Nabi Ya’qub berkata kepada malaikat maut. Sebagai tanda persaudaraan, jika ajalku telah dekat maka beri tahu aku. Malaikat maut pun menyanggupinya dengan mengirimkan 2 atau tiga utusan sebelum ajalnya tiba. Singkat cerita, setelah beberapa lama tiba-tiba malaikat maut menemui Nabi Ya’qub untuk mencabut nyawanya. Nabi Ya’qub kaget dan menagih komitmen malaikat maut yang akan mengirimkan 2 atau tiga utusan sebelum ajal tiba. Malaikat maut menjawab :


قَدْ فَعَلْتُ بَيَاضَ شَعْرِكَ بَعْدَ سَوَادِهِ وَضُعْفَ بَدَنِكَ بَعْدَ قُوَّتِهِ وَانْحِنَاءَ جِسْمِكَ بَعْدَ اسْتِقَامَتِهِ هَذِهِ رُسُلِي يَا يَعْقُوْبُ إِلَى بَنِي آدَمَ قَبْلَ الْمَوْتِ


Aku telah melakukannya. (Aku telah mengirimkan tiga utusan yaitu) putihnya rambutmu padahal sebelumnya hitam, Lemahnya badanmu padahal sebelumnya kuat, bungkuknya punggungmu padahal sebelumnya tegak. Wahai Ya’kub, ini semua adalah utusan-utusanku kepada anak adam sebelum kematian mereka. [Mukasyafatul Qulub]

Manusia pertama yang rambutnya beruban adalah Nabi Ibrahim AS. Rasul ﷺ bersabda :


كَانَ إِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … أَوَّلَ النَّاسِ رَأَى الشَّيْبَ فَقَالَ يَا رَبِّ مَا هَذَا فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَقَارٌ يَا إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ يَا رَبِّ زِدْنِي وَقَارًا


“Ibrahim ﷺ … adalah orang pertama yang melihat uban lalu berkata: Apakah ini wahai Tuhanku? Maka Allah menjawab : (uban itu adalah) kewibawaan wahai Ibrahim. Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan aku kewibawaan itu.” [HR Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad]

Nabi Muhammad ﷺ sendiri juga tak luput dari uban. Suatu ketika ditanya tentang apakah Nabi ubanan? Maka Anas bin Malik RA menjawab :


مَا شَانَهُ اللَّهُ بِالشَّيْبِ مَا كَانَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِ عَشْرَةَ


“Allah tidaklah menjelekkan beliau dengan uban. Tidak ada uban di kepala dan jenggot beliau, kecuali hanya 17 atau 18 helai saja.” [HR Ahmad]

Suatu ketika Abu bakar menanyakan tentang sebab uban beliau maka Rasul ﷺ menjawab :


شَيّبَتْنِي هُودٌ وَالْوَاقِعَةُ وَالمُرْسَلاَتُ وعَمّ يَتَسَاءَلُونَ وإِذَا الشّمْسُ كُوّرَتْ


‘Telah membuatku beruban (surat) Huud, Al-Waaqiah, Al-Mursalaat, Amma yatasaa aluun, dan Idzasy Syamsu kuwwirat'” [HR At-Tirmidzi]

Hal ini dikarenakan di dalam surat-surat tersebut terdapat penjelasan tentang huru-hara hari kiamat dan kejadian-kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu, sehingga membuat ﷺ beruban. [Tuhfatatul Ahwadzi].

Jadi, disamping karena faktor usia sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :


ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً


“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban… [QS. Ar-Rum:54].

Uban juga dipengaruhi oleh faktor pikiran sebagaimana jawaban beliau kepada Abu Bakar pada hadits tadi dan dalam Al-Qur’an pun demikian. Allah SWT berfirman :


فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِن كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ ٱلْوِلْدَٰنَ شِيبًا


“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.” [QS Al-Muzzammil: 17].

Secara medis, Uban terjadi seiring dengan pertambahan usia atau disebut achromotrichia. Ketika usia kita bertambah, produksi melanin dalam tubuh akan berkurang sehingga menyebabkan munculnya uban. Hal ini diduga disebabkan oleh bertambahnya kerusakan sel karena penuaan. Biasanya perubahan warna dimulai pada rambut di dalam hidung, disusul rambut pada bagian kepala, jenggot, kemudian rambut di bagian tubuh lain, terakhir rambut pada alis mata. [Alodokter com]

Berbagai riset ilmiah modern membuktikan, rambut yang ada di kepala jumlahnya ditaksir sekitar 200 ribu helai. Setiap rambut memiliki satu pembuluh darah dan satu saraf, otot, kelenjar dan umbi. Masing-masing rambut juga hidup sekitar tiga tahun. Dengan demikian, rambut akan terus memperbarui diri secara total satu kali dalam 2000 hari. Sementara itu, sebagian besar ahli meyakini bahwa uban adalah penyakit kulit yang bersumber dari saraf emosi, yang menyebabkan kurangnya suplai darah yang mengandung gizi ke rambut. Padahal jauh sebelum mereka, Al-qur’an dan hadits telah menyebutkan hakikat ini sejak 1400 tahun silam. [jurnalasia com]

Uban adalah hal yang normal sehingga tidak perlu malu mempunyai uban dan jangan pula mencabutnya. Justru mencabut uban akan berbahaya. Ismael Galvan dari Museo Nacional de Ciencias Naturales, Spanyol menyatakan bahwa mereka yang memiliki uban justru panjang umur dan sehat. Sebab uban terjadi karena kadar melanin berkurang, itu berarti orang tersebut hidup sehat. Mencabut uban adalah tindakan yang keliru. Hal ini dikarenakan mencabut uban dapat merusak kondisi folikel, akar rambut dan saraf-saraf kepala. So, mulai dari sekarang saat kamu beruban, janganlah memusuhi uban, sebab itu tandanya kamu hidup normal. [Tribunnews com]

Dalam hadits utama diatas dinyatakan bahwa uban itu akan menjadi cahaya pada hari kiamat sehingga Asy-Syarbiny menyatakan makruh hukumya mencabut uban dan menurut Ibnur Rif’ah hukumnya haram. [Mughnil Muhtaj] Dan uban juga menambah kewibawaan seseorang sebagaimana hadits tentang uban nabi Ibrahim di atas. Uban juga dapat menghapuskan dosa. Nabi ﷺ bersabda :


مَا مِنْ عَبْدٍ يَشِيبُ فِي الْإِسْلَامِ شَيْبَةً إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً


Tidaklah seorang hamba yang memiliki sehelai uban, melainkan Allah mencatat pahala untuknya dengan ubannya dan menghapus kesalahan dengan ubannya. [HR Ahmad]
Uban juga menjadi tanda semakin dekatnya ajal kita sebagaima kisah Nabi Ya’kub dan malaikat maut di atas. Allah SWT berfirman :


أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ ما يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجاءَكُمُ النَّذِيرُ


(Dikatakan kepada mereka), “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu pemberi peringatan? … [QS Fathir: 37]

Dan menurut Ibnu Abbas RA, Ikrimah, Sufyan dll. yang dimaksud dengan An-Nadzir atau pemberi peringatan tak lain adalah uban. [Tafsir Al-Qurthubi] Maka dengan membiarkan uban tumbuh maka seseorang akan senantiasa insyaf dan terus mengingat kematian. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menerima proses penuaan ini dan senantiasa teringat kematian sehingga terus semangat beribadah dan mempersiapkan diri menghadapinya.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama). [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: