RECENT POST

Sign in

Sign up

Ilmu Vs Dosa

By on 10 April, 2012 0 0 Views

Oleh: Helmi, S.S.

Imam al-Hasan al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua; Ilmu Hati dan Ilmu Lisan. Ilmu hati adalah ilmu yang bermanfaat dan ilmu lisan kelak akan dijadikan hujjah oleh Allah saat menyiksa pemiliknya”.

 

Dalam statement tersebut, Al-Bashri menginformasikan kepada kita bahwa yang dinamakan ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) ialah ilmu yang menancap bersemayam dalam hati, bukan hanya sekedar ilmu pengetahuan yang diucapkan dalam lisan maupun tulisan. Ilmu kategori pertama tersebut tidak semua orang bisa memilikinya. Ia adalah nur Allah (cahaya Allah). Cahaya ini memiliki sifat dan karakter positif dan bertolak belakang dengan sifat-sifat negatif. Dengan kata lain, bahwa hanya orang yang menghiasi diri dengan sikap dan sifat positif serta menghindari  sikap dan sifat negatif yang bisa meraih ilmu nafi’.

Allah berfirman:

واتقوا الله ويعلمكم الله

Bertakwalah (dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan) kepada Allah, niscaya Dia akan mengajarimu (QS. 2: 282).

 

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah janji Allah, siapa saja yang bertakwa kepada-Nya pasti akan diberi ilmu nafi’. Allah akan menganugerahi cahaya dalam hati orang tersebut sehingga ia bisa memahami segala hal yang disampaikan kepadanya. Kebanyakan mufassir berpendapat bahwa ayat ini sebagai argumentasi adanya ilmu ladunni, ilmu yang diperoleh tanpa kasb (belajar, usaha) dan hanya diberikan kepada hamba-hamba Allah yang bersih hatinya.

 

Lebih lanjut bahwa dalam ayat tersebut terdapat sebuah teori pembelajaran yang efektif. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa pertama kali seseorang harus bertakwa dulu, baru kemudian hatinya bisa menerima ilmu pengetahuan. Maknanya, bahwa tazkiyat an-nafs (mensucikan hati) merupakan langkah pertama dan utama sebelum melakukan proses belajar-mengajar. Bila hati murid atau siswa sudah bersih, maka ia siap untuk menerima dan mencerna semua hal yang ia dengar dan ia baca. Dalam al-Qur’an, kata ta’lim sering kali disandingkan dengan kata tazkiyat an-nafs, seperti di QS. Al-Jumu’ah ayat 2. Ta’lim secara sederhana diartikan sebagai proses transfer ilmu (pengetahuan). Sementara tazkiyat an-nafs berarti membersihkan dan mensucikan jiwa dan hati. Bila kedua aspek ini digabung menjadi satu, maka menjadi tarbiyah (pendidikan).

 

Sekedar ilmu pengetahuan saja mungkin semua orang bisa meraihnya. Akan tetapi pengetahuan yang berlabel “nafi’” hanya diperoleh oleh mereka yang memiliki hati steril. Dengan kata lain bahwa ilmu nafi’ bermusuhan dengan kemaksiatan, kedurhakaan, dosa dan sikap-sikap negatif lainnya. Dosa/maksiat akan meredupkan cahaya ilmu yang ada di hati atau akan menghalangi cahaya tersebut masuk ke dalam hati. Imam As-Syafi’i berkata:

شكوت إلى وكيع سوء حفظي  *       فأرشدني إلى ترك المعاصي

وأخبرني أن العلم نور    *       ونور الله لا يهدى لعاصي

Ku mengadu kepada kyai Waki’

Betapa lemah hafalanku

Jauhi maksiat, nasehatnya

Ilmu itu cahaya Allah

Tak kan pernah diberikan

 kepada para pendosa

 

Senada dengan syair tersebut, Imam Malik berpesan kepada Imam Syafi’i, “Kau telah dianugerahi cahaya Allah, maka jangan kau padamkan cahaya tersebut dengan kemaksiatan”.

 

Pendidikan sebagaimana yang diajarkan al-Qur’an, hadis, Imam Syafi’i, maupun Imam Malik tersebut akan membentuk karakter positif generasi bangsa dan agama. Mereka bukan sekedar generasi yang pinter tapi ora bener atau generasi bener tapi ora pinter. Mereka adalah generasi masa depan, sebuah generasi yang pinter lan bener. Bukankah itu dambaan semua orang tua? Dan hanya pondok pesantren, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, yang memadukan kedua aspek tersebut. Wallahu a’lam.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.