Ikhtitam dan Penutupan Majelis Dalail Al-Khairat serta Pemberian Ijazah
Agar lebih meriah dari tahun sebelumnya, Kiai Syamsul Arifin selaku Khodim Majelis Dalail Al-Khairat Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” menggelar acara “Ikhtitam dan Penutupan Majelis Dalail Al-Khairat” sebelum memasuki bulan puasa Ramadan. Acara tersebut terlaksana pada Selasa, 21 Maret 2023 di area Raudah Pengasuh Pertama, KH. M. Badruddin Anwar.
Acara ini bermula di pagi hari dengan lantunan khataman ayat-ayat Al-Quran oleh lima ustaz secara bergantian di raudah. Sesi ini berjalan hingga sore bakda Asar. Di sore harinya, bacaan 30 juz Al-Quran telah usai dan Kiai Syamsul Arifin membacakan doa khatam Al-Quran. Berlanjut dengan membaca tahlil dan doa.
Sesi pun bersambung setelah salat Magrib. Tim Banjari An-Nur II melantunkan selawat sembari menunggu jemaah datang di lokasi acara. Jemaah ini terdiri alumni, wali santri, kalangan majelis Dalail Al-Khairat, simpatisan, dan santri metro.
Setiap jemaah yang memasuki lokasi acara akan mendapatkan sebuah kitab Dalail Khairat dan sebotol kecil air mineral dari panitia di jembatan menuju area masjid. Kemudian jemaah laki-laki menuju raudah dan jemaah perempuan berada di gedung tahfiz putri.
Selang beberapa waktu, tim Banjari melantunkan selawat Thala’ Al-Badru guna menyambut para habib, masyayikh, dan keluarga ndalem An-Nur II ke raudah. Semua jemaah juga turut berdiri menyambut beliau.
Kemudian, Kiai Syamsul Arifin membuka acara acara ikhtitam dan penutupan ini dan langsung memulai pembacaan kitab Dalail Al-Khairat bersama. Jemaah membaca mukadimah hingga nama-nama Nabi Muhammad SAW bersama-sama. Sedangkan setelahnya hingga akhir, pembacaannya secara personal sesuai yang mereka dapat dalam kitab Dalail Al-Khairat, sebab keseluruhan teksnya terbagi menjadi lima.
Suasana penuh dengan pembacaan Dalail Al-Khairat. Selain itu, di area maqbarah KH. M. Badruddin Anwar dan sebelah utara tempat duduk para masyayikh dan habib terdapat banyak botol air mineral yang tutupnya terbuka. Begitu juga miliki para hadirin juga terbuka tutup botolnya.
Selang beberapa lama, pembacaan kitab Dalail Al-Khairat selesai. Kemudian, Habib Hamid Mauladawilah membacakan doa akhir. Setelah itu, tiba waktunya Habib Abdurrahman Bil Faqih untuk menyampaikan tausiah dan mengijazahkan selawat Dalail Al-Khairat untuk para jemaah.
Mengulik Selawat Dalail Al-Khairat dan Pemberian Ijazah
Baru saja tiba, Habib Abdurrahman Bil Faqih langsung memberikan beberapa tausiah. Beliau mengungkapkan hal yang menarik para hadirin ke acara ini adalah tarikan Nabi Muhammad SAW, bukan yang lain. “Malam ini kita ditarik,… bukan karena majelis ini luar biasa, bukan karena pesantren ini besar, bukan karena banyak ulama di tempat ini, bukan. Tapi yang menarik batin kita hadir ke sini adalah tarikan Nabi Muhammad SAW,” ucap beliau.
Hubungan batin ini antara Nabi Muhammad SAW dan orang yang telah membaca dua kalimat syahadat. Tetapi, “Kalau ada orang yang mengucapkan syahadat tanpa selawat, gersang hidupnya,” tambah beliau. Apalagi orang yang membaca selawat kepada Nabi SAW, mukanya indah ketika orang lain memandangnya, ada nur di dahinya, dan ketika malam, hatinya akan tenang. Hal ini karena mereka mengisi malam-malamnya dengan mengingat Rasulullah SAW.
Apalagi manusia tidak akan bosan mengucapkan selawat. Habib Abdurrahman Bil Faqih mengatakan, “Satu-satunya yang bisa kita buktikan, orang yang membaca allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad, mau diulang berapa ribu kali tidak akan bosan, ajaib ini.” Beliau menambahkan bahwa hal ini adalah mukjizat Rasulullah SAW yang akan kekal sampai hari kiamat.
Kemudian Habib Abdurrahman Bil Faqih menceritakan kisah Imam Jazuli mengarang kitab Dalail Al-Khairat. Awalnya beliau mengambil kitab-kitab yang berhubungan dengan selawat karena melihat anak perempuan kecil yang meludah ke sumur kering, tiba-tiba keluar air dengan deras. Ternyata anak tersebut sering membaca selawat.
Lalu beliau membuat kitab Dalail Al-Khairat ini. Akan tetapi, beliau tidak langsung menyebarkan kitab tersebut kepada masyarakat. Beliau membawanya ke Madinah dan membacanya di depan Nabi Muhammad SAW untuk meminta izin dahulu. Akhirnya Nabi Muhammad SAW mengizinkan penyebaran selawat tersebut. Imam Jazuli menyebarkan selawat Dalail Al-Khairat. Selain itu, Imam Jazuli mengkhatamkan Dalail Al-Khairat sehari tujuh kali.
Habib Abdurrahman Bil Faqih menambahkan dari keterangan-keterangan ulama terdahulu, “Karamah pertama dari Allah bagi orang yang rutin membaca selawat (Dalail Al-Khairat) maka lidahnya terlipat dalam membaca.” Maksudnya jika seseorang membaca Dalail Al-Khairat biasanya 15 menit, bisa khatam sepuluh menit.
Beliau juga menyampaikan sebuah keterangan, “Siapa-siapa yang istikamah membaca Dalail Al-Khairat, Allah akan membuka pintu bertemu dengan Rasulullah SAW.” Selain itu, ada juga keterangan Syekh Hisyam Kabbani, murid Syekh Nadzim Al-Haqqani¸ mengatakan, “Ada tangan putih turun dari Arsy turun ke bumi menyentuh dan memegang tangan orang yang istikamah membaca Dalail Al-Khairat.”
Melanjutkan kisah Imam Jazuli yang bermimpi bertemu Allah SWT. Allah berfirman kepadanya, “Wahai hamba-Ku, aku angkat Engkau melebihi seluruh makhluk-makhluk-Ku karena banyaknya engkau membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW.”
Terakhir Habib Abdurrahman Bil Faqih mengijazahkan selawat Dalail Al-Khairat kepada para jemaah. Beliau juga menjelaskan beberapa metode mengkhatamkan Dalail Al-Khairat. Selengkapnya ada di https://www.youtube.com/watch?v=RQTTvZuyN54&t=6732s.
Setelah itu, Kiai Syamsul Arifin menutup acara Ikhtitam dan Penutupan Majelis Dalail Al-Khairat. Beliau juga menyampaikan, “Nanti di rumah bisa dibaca setiap hari atau dengan kaifiyah-kaifiyah yanglain, dengan sekali duduk atau setiap hari satu khataman, atau sesuai ijazah dari Habib tadi.” Yang terakhir kali, Kiai Husni Mubarak membacakan doa umrah. Kemudian, setiap jemaah mendapat semangkuk makanan untuk ramah-tamah.
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)
