Terbaru

Ikhlas Penentu Segala Perbuatan

By on 13 April, 2012 0 24 Views

Buletin Jum’at Al-Murtadlo

Edisi 416

Dalam edisi sebelumnya, kita telah membahas tentang “Syahadat sebagai Pondasi Agama Islam.” Seseorang dikatakan sebagai muslim, jika dia telah melafalkan 2 kalimat syahadat. Setelah itu, dia harus menerima apa saja yang menjadi konsekuensi bagi seorang muslim. Seperti mengerjakan kewajiban-kewajiban, dan mengerjakan semua perintah serta larangan yang tidak boleh dilanggar. Dengan kata lain, konsekuensi dari syahadat adalah beribadah.

Dalam ibadah itu sendiri, juga tak lepas dari beberapa peraturan, meliputi: syarat sah, syarat wajib, rukun dan lain-lain. Ketika peraturan-peraturan itu terpenuhi, maka ibadah yang telah dilakukan bisa dianggap sah menurut kacamata syariat. Akan tetapi, masih ada satu kendala lagi mengenai ibadah tadi, yakni masalah diterima atau tidaknya ibadah yang telah dilakukan. Dalam hal ini, hanya ada satu solusi, yaitu dengan mengikhlaskan hati atas apa yang telah dilakukan dan hanya mengharap Ridlo dari Allah swt. tanpa mengharapkan yang lainnya.

Allah swt. berfirman:

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Dalam ayat di atas, dijelaskan bahwa semua ibadah yang dilakukan oleh manusia tidak akan ada gunanya bila tanpa disertai dengan rasa ikhlas. Allah swt. juga berfirman:

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadau” (QS. Adz-Dzariat: 56).

Itulah tujuan mengapa Allah swt. menciptakan manusia. Lalu apa alasan kita seumpama kita tidak mau beribadah dengan ikhlas? Padahal awal mula kita memulai sholat, kita telah mengikrarkan bahwa:

إنّ صلاتى ونسكى ومحيايا ومماتى لله ربّ العالمين.

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya bagi Allah tuhan semesta alam.”

Selain itu, dalam kitab Idlotun Nasyi’in, Imam Musthafa Al-Ghalayain telah mengibaratkan bahwa suatu amal ibadah itu bagaikan sebuah jasad, sedangkan ruhnya adalah ikhlas. Jadi, ibadah tanpa ikhlas bagaikan jasad tanpa ruh. Sehingga, keberadaanya tidak memberikan kemanfaatan apapun. Oleh karena itu, tak salah jika diawal-awal telah dikatakan bahwa ibadah tanpa rasa ikhlas itu tidak akan diterima oleh Allah swt.

Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa Rabi’ah Al-‘Adawiyah (seorang sufi perempuan) suatu hari beliau berlari-lari dengan membawa setimba air dan obor yang sedang menyala di masing-masing tangannya. Ketika salah seorang bertanya mengenai kelakuannya, beliau (Robi’ah Al-Adawiyah) menjawab:

“Aku ingin menyiramkan air ini ke neraka, dan mengobarkan api ini ke surga. Sehingga, kedua selubung ini lenyap dan tak ada seorangpun yang menyembah Allah swt. hanya karena takut akan neraka atau mengharapkan surga, melainkan semata-mata demi ke-Maha Indah-an Allah Yang Abadi.”

Mengapa demikian? Mungkin Rabi’ah menganggap bahwa manusia yang hidup di zamannya hanya mau beribadah dengan alasan menginginkan balasan Allah yang berupa surga atau karena takut dengan neraka saja. Meskipun menurut syariat sudah dianggap bebas dari suatu kewajiban, akan tetapi, belum tentu bisa diterima oleh Allah. Oleh karena itu, beliau menginginkan untuk membakar surga dan memadamkan api neraka, agar mereka sadar bahwa ibadah itu harus disertai dengan rasa ikhlas serta diterima oleh Allah swt.

Selain itu, jika kita bisa beribadah dengan ikhlas, maka kita juga bisa beribadah dengan khusu’ dan bisa menikmati lezatnya beribadah kepada Allah swt. dalam kitab Kifayah Al-Atqiya’ Rasulullah saw. bersabda:

قال عليه الصلاة والسلام:إنما تنصر هذه الأمة بضعفائهم بدعواتهم وصلاتهم واخلاصهم.

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya umat ini hanya ditolong sebab orang-orang lemahnya dengan beberapa do’a, sholat, dan keikhlasannya.

Oleh karena itu, kita harus mengikhlaskan semua ibadah yang telah kita lakukan hanya kepada Allah swt. Agar semua ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia. Selain itu, ikhlas juga bisa menjadi penolong bagi kita dari sifat lemah yang menjadi sifat alami manusia. Seperti keterangan dalam hadits di atas.

Wallahu A’lam…………

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: