Hubungan Kalender Islam dengan Jawa dan Sejarahnya

kalender, Hubungan Kalender Islam dengan Jawa dan Sejarahnya, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram….” (QS. At-Taubah: 36) Habib Taufiq bin Abdurrahman Baraqbah membuka mauidloh hasanah-nya dengan mengutip makna ayat tersebut dalam Pengajian Ahad Legi (24/7/2022) di pelataran Masjid An-Nur II.
Dalam penyampaian mauidloh hasanah, Habib Taufiq menyampaikan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan melakukan pendekatan kepada Budaya Nusantara sehingga terjadi akulturasi budaya. Beliau mencontohkan akulturasi tersebut dalam penamaan dua belas bulan dari kalender Hijriah oleh ulama yang pertama masuk ke Indonesia. Sehingga nama bulan yang awalnya berbahasa Arab berlogat Jawa.
Beberapa perkara yang mendasari perubahan nama bulan tersebut adalah orang Nusantara saat itu belum tahu Islam dan bahasa Arab. Maka sudah pasti mereka tidak bisa menyebutkan bulan-bulan Hijriah tersebut. Sehingga ulama mengubah nama bulan itu supaya penduduk Nusantara mudah mengucapkannya.

Latar Belakang Pergantian Nama Bulan Hijriah di Jawa

Muharram adalah bulan pertama dalam tahun Hijriah. Dalam bulan ini, terdapat hari besar yaitu tanggal 10 Muharram yang disebut Asyura. Sehingga ulama mengganti nama Muharram menjadi Suro dengan alasan tersebut. Bulan kedua, Safar. Ulama menggantinya menjadi Sapar supaya penduduk Nusantara mudah mengucapkannya.
Ketiga adalah Rabiulawal. Bulan ini memiliki hari besar pada tanggal 12 Rabiulawal yang merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang masyhur dengan Maulid An-Nabi. Maka dari itu, bulan Rabiulawal berubah menjadi Mulud. Rabiulakhir menjadi Bakda Mulud karena berada setelah bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Bulan Jumadilawal menjadi Madilawal, Jumadilakhir menjadi Madilakhir, dan Rajab menjadi Rejeb supaya pelafalannya mudah.
Ketujuh adalah bulan Syakban menjadi Ruwah. Dalam bulan ini, terdapat tradisi mengirimkan doa kepada Nabi Hud AS di negeri Yaman. Sehingga kiai-kiai Jawa mengikuti tradisi mengirimkan doa kepada arwah di bulan ini. Maka dari itu ada tradisi Ruwahan.
Kedelapan yakni bulan Ramadan. Ulama menggantinya menjadi Poso karena umat Islam melaksanakan ibadah puasa pada bulan ini. Selanjutnya Syawal menjadi Sawal atau Riyoyo sebab pada bulan ini, umat Islam telah menyelesaikan perang melawan hawa nafsu pada bulan Ramadan atau Poso.
Kemudian Zulkaidah berubah menjadi Sela. Kata “sela” sendiri berarti istirahat karena bulan ini tidak ada hari perayaan seperti bulan-bulan sebelumnya. Terakhir bulan Zulhijah. Pemberian nama Besar kepada bulan ini karena kembali ada perayaan keagamaan yaitu haji.
Dengan adanya pergantian nama bulan Hijriah di Jawa ini menjadi salah satu bukti bahwa tradisi keagamaan di Jawa sesuai ajaran Islam. Seperti Kenduren, Jenang Suro, hingga Ater-ater sudah sesuai dengan ajaran Islam tanpa peru melabelinya dengan istilah Syar’i .
Selanjutnya, dari dua belas bulan tadi ada empat bulan yang terhormat: yang satu sendirian yaitu bulan Rajab dan tiga sisanya beriringan yakni Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram. Saking terhormatnya, empat bulan ini disebut Asyhur Al-Hurum.

Sejarah Kalender Hijriah

Namun faktanya, Nabi Muhammad SAW tidak pernah menggunakan kalender Islam Hijriah. Sejak beliau lahir pada tanggal 12 Rabiulawal tahun Gajah hingga meninggal dunia pada umur yang ke-63 tahun, beliau tidak menggunakan kalender Hijriah. Maka dari itu nama tahun beliau masih begitu. Bahkan tatkala Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah, belum ada kalender Hijriah.
Hingga pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang mana pada saat itu adalah masa kejayaan Islam. Beliau melakukan hubungan dalam surat-menyurat, baik dalam hal pendataan maupun keuangan. Sehingga membuat setiap kawasan memiliki tumpukan surat.
Suatu hari Abu Musa Al-Asy’ari, yang menjadi gubernur Homs, Suriah, mengadu kepada Khalifah Umar karena di mejanya terdapat banyak surat. Apalagi pada surat tersebut tercantum hari, tanggal, dan bulan saja, tidak ada tahun yang membuatnya bingung ini surat tahun kemarin atau sekarang.
Setelah mendengar hal itu, Sayyidina Umar mengumpulkan para pembesar sahabat yaitu Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya. Sayyidina Umar dengan para sahabat melakukan musyawarah dan mufakat mengenai penentuan awal tahun Islam.

Penetapan Awal Kalender Islam

Dalam perkumpulan tersebut, ada yang berpendapat bahwa awal tahun kalender Islam pada tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagaimana kalender Masehi yang menjadikan kelahiran Nabi Isa AS sebagai awal tahun. Namun ada yang menolak karena berkesan ikut-ikut kepada kaum Nasrani.
Kemudian ada yang berpendapat lagi untuk menjadikan saat Nabi berumur 40 tahun di mana beliau mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira sebagai awal tahun kalender Islam. Akan tetapi ada juga yang tidak setuju karena pada saat itu Nabi masih berada di Makkah dan umat Islam masih minoritas dan tertindas. Sehingga kurang pas jika mengawali sesuatu dengan ketidaknyamanan
Akhirnya ada yang berpendapat untuk menjadikan awal tahun kalender Islam saat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Saat itu, umat Islam berkembang dan progres yang baik. Sehingga Sayyidina Umar dan para sahabat menyetujui pendapat ini. Maka dari itu penyebutan kalender Islam menggunakan Hijriah. Setelah kesepakatan tersebut, jika seseorang ingin membuat surat maka ia menulis tahun 20 H karena masa itu adalah dua puluh tahun setelah Nabi hijrah.
Meski begitu, tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang mewajibkan umat Islam menggunakan kalender Hijriah ini. Kalender Hijriah hanya menjadi kebutuhan bagi umat Islam di dunia. Tidak ada hal harus pakai dalil karena banyak perkara yang muncul sesuai dengan peradaban umat Islam yang semakin maju.
Contoh saja saat Islam masuk ke Jawa. Para ulama mengislamkan tanah Jawa dengan cara yang halus. Mereka datang dengan cara merangkul, bukan memukul. Mereka mengobati bukan menyakiti. Bukan datang malah memukul dan merusak keislaman di Jawa.
(Riki Mahendra Nur Cahyo/Mediatech)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: