Hikmah: Anjuran Bandel pada Setan dan Nafsu

Hikmah, Hikmah: Anjuran Bandel pada Setan dan Nafsu, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

(Tafsir Surah Al-A’raf ayat 101 dan 102)

“(101) Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir. (102) Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.”

Al-Qur’an, banyak berisi tentang tentang kisah umat terdahulu. Salah satunya umat yang membangkang pada nabinya. Dan sebelum ayat ini turun, Allah telah memberikan kisah-kisah tersebut di ayat sebelumnya.

Ayat tersebut mengatakan banyak umat terdahulu, umat sebelum Nabi Muhammad menjadi nabi, yang membangkang pada nabinya. Setiap nabi pasti dibekali mukjizat oleh Allah sebagai senjata dalam berdakwah; juga sebagai pembeda mana nabi yang asli atau yang palsu.

Namun, di setiap masa selalu ada kaum yang membangkang, ingkar. Perilaku ingkar itu sudah Allah takdirkan. Allah sudah mengunci hati mereka dari cahaya keimanan. Tak ada yang bisa membukanya, sekalipun itu nabi. Sebab ketentuan Allah itu pasti.

Lantas, untuk apa para nabi berdakwah kalau hati kaumnya sudah dikunci oleh Allah? Ini yang perlu dicermati: Nabi diutus pada kaumnya untuk berdakwah menyampaikan kebaikan, bukan untuk memaksa kaumnya ikut ajaran yang dibawa nabi tersebut. Karena itu, para nabi tak berhenti berdakwah walau kaumnya banyak yang ingkar. Sebab mereka di bumi hanya bertugas menjadi utusan Allah.

Tentang Hikmah

Dari situ, dapat dipahami kalau Allah banyak memberikan kisah nabi tak lain sebagai hikmah. Agar umat Nabi Muhammad tidak mengulai perbuatan keji yang dilakukan kaum terdahulu. Agar tidak ada lagi azab yang juga keji kembali turun menimpa umat Nabi Muhammad.

Berbicara tentang hikmah, berasal dari bahasa Arab “hakama” yang berarti mengekang. Ada lafaz yang satu akar kata dengannya, yakni “hakmaah”, yang berarti besi yang sambung dengan pengekang kuda. Jadi, tanpa adanya “hakamah” ini, kuda tak akan terkendali jalannya. Sama dengan hikmah, nafsu akan terkendali dengan adanya hikmah.

Imam Ibnu Hajar berkomentar mengenai hikmah, “Hikmah adalah apapun yang dapat menghentikan kejelekan.” Contoh saja ngaji. Dengan mengaji kita dapat tahu mana yang haram, mana yang halal. Dengan begitu kita bisa menggapai yang halal dan menghindari yang haram. Di sini lah ilmu hikmah: dapat menolak kejelekan.

Sementara itu, Imam Suyuthi mendefinisikan hikmah sebagai ilmu manfaat. Yakni, ilmu yang tak hanya disimpan di memori otak, melainkan juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, hikmah dapat diperoleh dari manapun dengan catatan dapat menghindarkan kita dari bisikan setan dan nafsu.

Hikmah Menurut Al-Bushiri

Kalau kata Imam Bushiri, mudahnya, ilmu hikmah mengajarkan kita untuk “membangkang kepada setan dan nafsu”. Bagaimana bisa begitu? Berikut penggalan syair Burdah karangan Imam Bushiri yang menerangkannya,

وخالف النفس والشيطان واعصهما # وإن هما محضاك النصح فاتَّهِم

“Lawan hawa nafsu dan setan munkar. Bangkanglah kalau keduanya seakan memberi nasihat tulus. Jangan pernah kaupercaya!”

Nafsu buruk dan setan adalah dua musuh nyata yang penuh tipu daya. Keduanya begitu sempurna dalam merias sesuatu buruk menjadi seakan terlihat baik. Ini yang membuat para manusia sering tertipu dengan nasihat keduanya yang seakan baik, padahal berdampak buruk kalau dilakukan. Maka dari itu, Al-Bushiri dalam bait ini memperingatkan, “Jangan pernah kau percayai dua makhluk ini!”

Maka, pertanyaannya, apakah sekarang kita siap untuk membangkan pada setan dan nafsu?

(Muahammad Miqdadul Anam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: