TAWASSUL PADA WALIYULLOH

HIDUP DALAM KUBUR DAN MENDAPATKAN RIZKI.

 

HIKAM ZAIN

Manusia diantaranya ada yang terpilih untuk menjadi kekasihNya. Menjadi orang-orang pilihan, dan selalu menebar kebaikan dan mengajar kema’rufan. Sebagai manusia biasa, tentulah mempunyai batas masa dan usia untuk hidup. Orang-orang pilihan meski telah meninggal dan jasadnya terkubur, arwahnya tetap mendapatkan rezki. Hal ini dijelaskan dalam al Qur’an :

وَلَا تَقُوْلُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ (البقرة:)۱۵۴

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (Al-Baqarah:154)

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ ﴿أل عمران ﴾۱۶۹

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”. (Ali Imran 169)

Tentunya orang yang hidup didalam kuburnya, pasti mendengar  apa yang diucapkan oleh orang-orang yang masih hidup didunia.Oleh karenaya ada ritual yang bernama Tawasul.

Ahlussunnah wal Jama’ah tidak mengi’tiqadkan bahwa dzat seorang makhluk mempunyai pengaruh (ta’tsir), mampu mewujudkan sesuatu, menghilangkan, memberi manfaat dan memberi bahaya baik dzat Rasulallah, nabi-nabi, orang-orang shaleh dan lain-lain. Tetapi,  meyakini bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat dan bahaya serta yang lainnya.

Bertawassul dengan orang-orang shalih bukan berarti menyembah  orang shalih tersebut seperti yang banyak di tuduhkan, sehingga memunculkan salah persepsi dari orang-orang yang anti terhadap ajaran tawassul dengan secara mutlak (dengan beraneka ragam bentuknya tawassul), bahwa orang yang bertawassul telah menjadi musyrik karena mendudukkan selain Allah di sepadankan dengan Allah dalam berdo’a. Akan tetapi tawassul adalah bentuk do’a yang di panjatkan kepada Allah dengan memakai perantara Nabi atau orang shalih, dengan harapan do’anya lebih di kabulkan oleh Allah.

Sayyid Mushthafa al-Bakri, seorang ulama madzhab Hanafi dan wali besar dalam tarekat Khalwatiyyah, menganalogikan tawassul dengan orang-orang shalih dan mulia di depan Allah dengan memohon bantuan orang yang mendapat kedudukan tinggi atau dekat dengan seorang raja, kemudian karena ingin tercapai maksudnya kepada raja, orang yang dekat dengan raja tersebut di jadikan sebagai perantara untuk di sampaikan kepada raja agar maksudnya sukses.

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam Mafahim Yajibu An Tushahhash menjelaskan bahwasannya mencari perantara (wasilah) bukan sebagai bentuk syirik, karena jika mencari perantara kepada Allah adalah syirik, maka semua manusia adalah termasuk musyrik karena dalam semua urusan, mereka selalu memakai perantara. Lihat saja Rasulallah yang menerima wahyu al-Qur’an lewat perantara Malaikat Jibril, Rasulallah juga adalah perantara bagi para shahabat karena mereka kadang datang kepada beliau untuk mengadukan urusan-urusan mereka yang dianggap berat atau memohon doa dari beliau. Apakah pernah Rasulallah berkata pada mereka bahwa hal tersebut, yaitu memohon doa atau bantuan, adalah musyrik? Hal ini yang tidak banyak di ketehui oleh orang-orang yang anti terhadap tawassul.

Tak ada pula yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati. Karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti batu hajar aswad, air zamzam yang tergolong benda) di hadapan Allah swt, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri.

Maka mengunjungi makam-makam Wali Allah adalah sebuah rutinan yang sudah dijalankan di pesantren-pesantren dan  warga Nahdlatul Ulama’ juga faham-faham ahlus sunnah wal jamaah.

Saya (penulis) biasanya mengunjungi makam kakek saya pendiri pesantren An Nur Bululawang  Mbah Kyai Anwar Nur setiap jumat bersama dengan ribuan santri, disamping juga sebagai wujud bakti kepada leluhur juga mengajarkan kepada santri bahwa merekapun masih hidup didalam kuburnya.

Berkata Imam Abdulloh bin Alwi al Haddad, yang tertuliskan dalam kitab Sirojuj  Tholibien, karangan dari pada Ulama’ Nusantara Syekh Ikhsan Al Jampesi.

Dawuh Asy-Syaikh As-Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad

قال الشيخ السيد عبد الله بن علوي الحداد  رضي الله عنه :  ان الأخيار اذا ماتوا لم تفقد منهم الا أعيانهم وصوارهم واما حقائقهم فموجودة فهم أحياء في قبورهم , واذا كان الولى حيا في قبره فإنه لم يفقد شيأ من علمه وعقله وقواة الرحانية بل تزداد أرواحهم بعد الموت بصيرة وعلما وحياة الرحانية وتوجها إلى الله , فإذا توجهت أرواحهم إلى الله تعالى في شيء قضاه سبحانه وتعالى وأجراه إكراما لهم.
سراج الطالبين  للشيخ إحسان بن محمد دحلان الجمفسي الكديري ج 1 ص 466.

Asy-Syaikh As-Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad RA. dawuh:

Sesungguhnya orang-orang pilihan (waliyullah) jika mereka wafat, tidak hilang dari mereka kecuali hanya jasad dan bentuknya saja. Adapun hakekatnya,  mereka hidup dalam kubur mereka. Dan ketika seorang wali itu hidup dalam kubur mereka, sesungguhnya  tidak lepas dari diri mereka sedikit pun ilmu, aqal, dan kekuatan ruhani mereka. Bahkan bertambahlah pada arwah-arwah mereka bashirah, ilmu, kehidupan ruhaniyyah,  dan tawajjuh mereka kepada Allah setelah kematian mereka. Dan jika arwah-arwah mereka bertawajjuh kepada Allah Ta’ala dalam suatu hal (hajat), maka Allah Ta’ala pasti memenuhinya dan mengabulkannya sebagai kehormatan bagi mereka.

Begitu juga saya biasa berziarah ke makam KH. Mustofa Lekok Pasuruan seorang al arif billah yang terkenal dengan kewaliannya. Yang kebetulan beliau adalah kakek dari istri saya. Sebelum datang ke rumah lekok saya usahakan sowan kepada beliau. Dan mengadukan segala permasalahan yang ada. Karena saya percaya mereka tetap hidup dalam kuburnya.

Begitu juga ke makam-makam Auliya’ yang lain. Dan biasanya saya  tidak mengunjungi makam-makam yang belum muttafaq alaih (telah disepakati kesahihannya oleh oara shilihin yang masih hidup) karena sekarang sering bermunculan  makam makam yang mendadak keramat. Hehehe….

Semoga keberkahan para Auliya’ tanah jawa, hidup kita semakin baik. Baik finansialnya lebih lebih urusan akhiratnya.
Amien allohumma amin.

Salam Takdzim

Ahmad Zain Bad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: