Pada Sabtu malam, 24 Desember 2022, Haul ke -6 Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar sukses terselenggara di area Raudlah dan masjid Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Sejak bakda Asar, para jemaah dari berbagai daerah mulai mendatangi pondok pesantren. Nyatanya, haul kali ini begitu istimewa dan berbeda dari sebelumnya.
Setibanya para jemaah di pondok pesantren, tim Banser mengarahkan mereka ke tempat parkir. Dalam haul ke-6 ini, tempat parkir tersebar di banyak titik lokasi: lapangan utama, pelataran SMP & SMA, lapangan SMP timur, dan lapangan pondok putri khusus tamu VIP. Di setiap lokasi parkir, sudah terdapat tim Pandawa dan Banser yang membantu menertibkan proses pemarkiran.
Kemudian di sinilah perbedaan pada haul ke-6 ini. Setelah memarkirkan kendaraan, mereka menuju prasmanan untuk makan. Lokasinya pun tidak jauh dari tempat parkir. Untuk prasmanan tamu umum berada di lapangan utama pondok. Di sana sudah terdapat tenda yang cukup besar yang dapat menampung kira-kira 400 orang. Sedangkan bagi tamu VIP berada di garasi mobil Ndalem Kiai Syamsul Arifin.
Sebelum menuju lokasi acara, terdapat sebuah tenda dari OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) SMA An-Nur. Mereka membagikan kopi dan teh gratis untuk para jemaah.
Setelah itu, para tamu menuju lokasi acara yaitu area raudah dan masjid An-Nur. Sebelum memasuki lokasi, tim terima tamu dari mahasantri Ma’had ‘Aly memberikan sebuah bingkisan kepada setiap jemaah. Bingkisan tersebut berisi sekotak roti, air mineral, dan foto Kiai Badruddin.
Haul Ke-6: Sambutan Selawat Juga Khataman Quran
Usai salat Isya, tim Banjari mengisi acara dengan lantunan selawat. Tak lama setelah itu, Gus Fazlur Rahman Rahawarin, M.Ak., melanjutkan khataman Al-Quran yang beerawal dari pagi hari. Beliau melanjutkannya dari surah At-Takatsur hingga An-Nas. Setelah itu, beliau juga membacakan dia khotmil Qur’an.
Kemudian Gus Helmi Nawali, S.S., M.Ag., sebagai MC (Master of Ceremony) membuka acara dengan pembacaan surah Al-Fatihah. Lalu, acara berlanjut ke pembacaan surah Yasin dan Tahlil. Dalam sesi ini, Kiai Husni Mubarok, M.Pd., membacakan tawasul. Setelah itu, pembacaan Yasin oleh Gus H. Didik Nur Ahsani dan tahlil oleh Agus Hairuddin, Ak., M.Si. Terakhir, pembacaan doa oleh Habib Hamid Mauladawilah, Kiai Syamsul Arifin, M.Pd.I, dan KH. Musthofa Lekok Pasuruan.
Beranjak ke sisi selanjutnya yakni pembacaan manakib KH. M. Badruddin Anwar oleh Kiai Zainuddin Badruddin, M.M. Beliau membacakan nazam Badrun Bada yang berisi biografi KH. Badruddin. Beliau melafalkan syair tersebut beserta artinya kepada para jemaah. Sebelum mengakhiri penyampaian, beliau juga menyampaikan syair-syair yang berisi dawuh-dawuh KH. Badruddin yang telah menjadi nazam berbahasa Arab.
Setelah itu, sesi berpindah ke penyampaian sambutan-sambutan. Sambutan pertama dari majelis keluarga, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa ada tradisi pembacaan tahlil 40 hari sebelum haul KH. Badruddin. Hal itu karena sebelum beliau wafat, beliau mengutus para santri membaca tahlil bersama selamat 40 hari.Selain itu, beliau juga menceritakan sejarah raudlah KH. Badruddin Anwar mengapa disebut raudlah A517 dan filosofinya.
Tausiah Dari Dua Insan Istimewa
Menuju acara inti yaitu penyampaian tausiah. Tausiah pertama dari Prof. Dr. Syekh Fadhil Al-Jailani Al-Hasani, cucu ke-25 Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Istimewanya, beliau menyampaikan tausiah menggunakan bahasa Arab karena beliau berasal dari Turki. Sehingga Ustaz Ali Syahbana menerjemahkan setiap patah kata dari beliau agar para jemaah paham apa isi mauizah Syekh Fadhil.
Pertama, beliau menjelaskan mengenai akhlak kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua beliau menerangkan akhlak para ulama kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Sambil mennjelaskan, beliau juga menceritakan secuil cerita tentang Syekh Abdul Qodir. Di akhir mauizah hasanah, beliau mengijazahkan beberapa amalan dari Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Serentak para hadirin menjawab “qobiltu” setelah menerima ijazah tersebut.
Setelah itu, penyampaian tausiah kedua oleh Dr. KH. Habib Segaf Baharun, M.H.I., pengasuh Pondok Pesantren Darrullughoh Wadda’wah (DALWA), Bangil, Pasuruan. Dalam tausiahnya, beliau mengungkapkan, “Hikmah yang terbesar dalam majelis ini adalah Kiai Badruddin.” Beliau menjelaskan perbedaan Kiai Bad dengan kita terletak pada ilmu dalam hati. Ilmu dalam hati Kiai Bad untuk mencegah dari keburukan, sehingga Allah rida kepada beliau.
Habib Segaf Baharun juga mengatakan penjelasan Ibnu Abbas bahwa derajat seorang ulama dan ahli ibadah terpaut sebanyak 700 derajat. Padahal untuk mencapai dari derajat yang satu ke setelahnya membutuhkan waktu tempuh perjalanan selama 500 tahun. Berarti jika seseorang ingin menyamai kemuliaan mereka memerlukan waktu 350.000 tahun oenuh ibadah.
Akhir tausiah, beliau membacakan doa penutup Haul Ke-6 ini. Setelah itu, Gus Helmi sebagai MC pun menutup seluruh sesi acara. Setelah itu, seluruh majelis keluarga dan para masyayikh berkumpul di Pendopo Al-Badari untuk ramah tamah.
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)
