Haul Ke-32 Romo KH. Anwar Nur Rahimahullah

Sabtu, 8 Oktober 2022, panggung besar berdiri di depan Ndalem Kasepuhan, Pondok Pesantren An-Nur 1. Tersusun juga puluhan sound system dan ratusan kursi. Baner besar terpasang di atas panggung, bertuliskan “Haul ke-32 Syaikhuna KH. Anwar Nur Rahimahullah”. Kiai Miftahul Akhyar turut hadir dalam acara ini.

Pagi itu, para jemaah undangan memadati pelataran di depan Ndalem Kasepuhan, sedangkan santri dan jemaah umum bertempat di MTS An-Nur. Jemaah putri mengular di sepanjang Kampung Kaji.

MC naik ke atas panggung membacakan rentetan acara yang akan berlangsung. Tak lupa memberi salam, membaca basmalah, hamdalah, dan selawat. Kemudian ia membuka acara dengan membaca surah Al-Fatihah.

Setelah pembukaan, acara berlanjut pada sesi pembacaan yasin, tahlil dan istighotsah. Gus Habibi dan beberapa dzurriyah muda Almaghfurlah Romo KH. Anwar Nur memimpin bacaan dari atas panggung. Kiai Fathul menutup sesi tersebut dengan membacakan doa.

MC kembali naik ke atas panggung kemudian mempersilakan Gus Fazlurrahman Rahawarin melantunkan qiro’ah. Setelah itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrurrozi (Gus Fahrur), naik memberikan sambutan.

Meneladani Kepribadian dan Keseharian Kiai Anwar

Gus Fahrur dalam sambutannya menceritakan kepribadian dan keseharian kakek beliau, Kiai Anwar, selama Gus Fahrur bersama beliau.

  1. Salat Berjemaah

Kiai Anwar selalu istikamah mengimami santri-santri salat berjemaah. Beliau juga tidak pernah meninggalkan salat jemaah.

Seandainya beliau pulang dari bepergian dan para santri sudah salat, maka beliau akan memanggil salah satu santri untuk salat lagi bersama beliau.

Tidak hanya di saat sehat saja beliau menjaga salat jemaahnya. Bahkan di kala sakit, walau harus salat sambil duduk, semangat beliau untuk salat berjemaah tak pernah surut. Beliau juga tidak pernah

  • Pakaian Polos

Kiai Anwar termasuk pribadi yang tidak terlalu suka pakaian bergambar. Hal ini terbukti dari pakaian yang biasa beliau pakai sehari-hari. Mulai dari baju, serban, hingga sajadah. Bahkan Kiai Anwar tidak punya baju batik.

Pernah suatu ketika Kiai Anwar memanggil Gus Fahrur untuk salat bersama beliau. Kiai Anwar membentangkan serban putih polos sebagai alas sujud. Gus Fahrur yang ada di samping beliau juga melakukan hal yang sama, hanya saja sajadah Gus Fahrur bergambar Ka’bah.

Melihat hal tersebut Kiai Anwar kemudian menegur Gus Fahrur, “Sembahyang kok ngadep gambar.” Mendengar hal tersebut Gus Fahrur sontak membalik sajadahnya.

  • Berendam Tengah Malam

Salah satu kebiasaan Kiai anwar adalah berendam di tengah malam sebelum salat tahajjud. Beliau mengatakan hal tersebut bisa menyebabkan awet sehat dan panjang umur. “Uwong lek pingin awet sehat, dowo umur, lek tengah wengi ados utowo kumkum,” (Kalau mau awet sehat, panjang umur, kalau tengah malam mandi atau berendam)

Hal tersebut terbukti karena Kiai Anwar wafat di usia 93 tahun. Selama masa senja beliau, Kiai Anwar tidak pernah membaca Al-Qur’an menggunakan kacamata, karena pengelihatan beliau masih awas.

  • Tidak Pernah Makan di Warung

Kiai Anwar juga tidak pernah makan di warung. Setiap melakukan perjalanan keluar kota atau perjalanan jauh, beliau selalu membawa bekal. Ini merupakan pengamalan beliau terhadap ilmu akhlak. Di dalam kitab Ta’limul Muta’allim terdapat keterangan, pencari ilmu tidak boleh makan jajanan pinggir jalan (warung).

Pernah Kiai Anwar berkunjung ke Madura bersama Kiai Bad, Kiai Qusyairi dan Gus Fahrur. Karena kehabisan bekal, Kiai Bad dan yang lain memutuskan belok ke warung. Kiai Bad dan yang lain masuk ke warung, namun Kiai Anwar tetap berada di dalam mobil, tidak mau turun.

Di akhir sambutannya, Gus Fahrur mendoakan para santri dan alumni. Semoga bisa meniru Kiai Anwar.

Amaliyah Kiai Anwar Ada Dalilnya

Kini giliran Bupati Malang memberikan sambutan. H Sanusi yang juga seorang santri pernah mendpat pesan dari gurunya “Santri ojok dadi yai kabeh.” (Santri jangan jadi kiai semua). Ini bertujuan agar visi mewarnai masyarakat bisa tercapai. Agar yang sadar bukan hanya masyrakat bawah, tapi juga pejabat pemerintah

Setelah H. Sanusi turun, giliran Dr. H. Ahmad Jazuli SH. M.Si,, Asisten III Gubernur Jatim, yang naik ke atas panggung. Mewakili Gubernur Jatim, Ibu Khofifah, yang berhalangan hadir.

Bapak Jazuli bercerita saat awal-awal keberangkatannya menuju pesantren. tetangganya banyak yang menyayangkan hal tersebut, karena berpikir santri tidak bisa jadi PNS. Namun kini kegelisahan tetangganya terjawab, bukan PNS kelas bawah, malahan menjadi asisten gubernur.

Setelah itu Kiai Mochammad Yasin (Kiai Mad), murid Kiai Anwar, naik untuk membacakan manaqib tentang Kiai Anwar. Kiai Yasin menceritakan, beliau adalah pribadi yang menejemen waktunya baik. Beliau selalu tepat waktu dalam hal apapun.

Kiai Yasin juga mengungkapkan, amaliyah Kiai Anwar rata-rata ada sumbernya. Ini merupakan hasil pencarian beliau selama ini, mencocokan amaliyah Kiai Anwar dengan keterangan ulama dalam kitab-kitab klasik.

Menuju acara inti, pesan-pesan dari Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026, KH. Miftahul Akhyar.

Kiai Miftahul Akhyar: Kewafatan Kiai Anwar, Gerbang Pergerakan Keturunan Beliau

Dalam proses pencarian ilmu tidak hanya kecerdasan yang perlu kita cari, tetapi kita juga perlu mencari keberkahan dari guru, kitab-kitab, dan lembaga tempat kita menimba ilmu.

Percuma saja cerdas kalau tidak mendapat keberkahan, hanya akan menjadi masalah. Bukan mengurangi masalah, namun justru menambah masalah. Orang yang mendapat keberkahan ilmu, bisa memecahkan masalah meskipun tidak terlibat dalam pembahasan masalah.

Kiai Miftahul menceritakan pengalamannya bersama Kiai Anwar. Pernah suatu ketika Kiai Miftahul punya masalah yang tidak bisa ia selesaikan. Kemudian ia sowan ke Kiai Anwar, namun tidak sampai mengutarakan masalahnya kepada beliau. Hanya dengan memandang wajah Kiai Anwar, Kiai Miftahul sudah menemukan jawaban atas masalahnya. Ini bukti bahwa Kiai Anwar mendapat keberkahan ilmu.

Kiai Miftahul mengatakan bahwa kematian sebenarnya adalah proses menuju proses yang lain, yakni keabadian. Juga termasuk gerbang bagi yang lain meneruskan perjuangan orang yang telah meninggal.

“Wafatnya Kiai Anwar itu gerbang pergerakan keturunan beliau,” ungkap Kiai Miftahul. Dengan wafatnya Kiai Anwar, maka keturunan beliau sudah memiliki gerbang untuk melakukan pergerakan dalam berdakwah kepada umat. Jika Kiai Anwar terus hidup, maka keturunan beliau tidak akan pernah tahu rasanya mengabdi kepada umat, karena terus-terusan mengandalkan Kiai Anwar.

Dalam pengabdian kepada umat, kita butuh sifat adil dan jujur. Dengan dua sifat tersebut, apapun amanah yang masyarakat berikan, akan terasa mudah dan akan terpenuhi. Memiliki sifat jujur dan adil ini tidak hanya kewajiban bagi umat muslim, namun bagi seluruh manusia.

Di akhir mauhizahnya, Kiai Miaftahul berpesan kepada segenap hadirin, agar selalu meniru perilaku Kiai Anwar. “Kalau berani mengadakan acara haul Kiai Anwar, maka harus berani dan siap meniru perilaku Kiai Anwar,” ucap Kiai Miftahul.

MC memepersilakan Kiai Miftahul membacakan doa untuk mengakhiri acara peringatan Haul ke-32 Syaikhuna KH. Anwar Nur Rahimahullah.

(Muhammad Abror S/Mediatech)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II