Haul ke-3: Mengenang Riwayat Singkat Kiai Badruddin

Haul ke-3: Mengenang Riwayat Singkat Kiai Badruddin

Al-Quran sebagai dzikir terbaik dihadiahkan ke pada KH. M. Badruddin Anwar pada peringatan Haul yang ke-3. Mengetahui riwayat hidup beliau adalah cara untuk meneladan sikap terpuji beliau.

Ada dua guru dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah guru yang, “Terlihat mata,” begitu sebut Gus Sabuth Panoto Projo dalam sambutan beliau di acara Haul ke-3 Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar. Yang beliau maksudkan “guru yang terlihat mata” adalah guru yang masih ada di dunia ini. “Dalam artian, guru yang masih mengajar di kelas, guru yang ada di pesantren,” jelas beliau pada acara yang dilangsungkan di Raudloh, area makam Kiai Badruddin.

Yang kedua adalah “guru yang tidak terlihat mata”. Yaitu guru yang sudah menghadap kehadirat Allah SWT. “Adalah beliau, Kiai Haji Badruddin Anwar yang malam ini kita menghadap beliau,” jelas Gus Sabuth pada acara yang dilaksanakan Sabtu Malam, 25 Januari 2020 ini. Dan pada peringatan tahun ke-3 kewafatan beliau, Gus Sabuth menyatakan hadiah terbaik adalah bacaan zikir Al-Quran.

Ini berlandaskan sebuah hadist Nabi Muhammad SAW ke pada Sayyidati Aisyah RA. Gus Sabuth mengartikan hadist tersebut, “Wahai Aisyah, ketuklah pintu surga dengan Al-Quran.” Oleh karena itu, pada peringatan haul tahun lalu dan tahun ini, jemaah semaan Al-Quran Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghafilin diundang untuk menghatamkan Al-Quran sejak pagi hari di Raudlah.

Sebagai guru yang telah menghadap kehadirat Allah, Gus Sabuth mengimbau para santri untuk menjaga akhlak ketika berada di makam beliau pengasuh. Gus Sabuth menjelaskan ada tempat di mana kita tidak boleh bergurau, yang paling utama adalah di maqbarah, pemakaman. “Apalagi, di tempat peristirahatan Kiai Badruddin ini,” lanjut Gus Sabuth yang merupakan putra KH. Hamim Djazuli, salah satu kawan Kiai Badruddin semasa belajar di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri.

Baca juga  Mencari Ilmu Tak Terbatas Usia

Dengan diadakannya peringatan haul ini, Gus Sabuth mengajak seluruh santri dan jamaah yang hadir untuk menjadikan peringatan ini sebagai pengingat bahwa perjalanan dalam kehidupan akan ada usainya. Dan apapun yang ada di dunia ini akan berakhir. “Berusahalah, berjuanglah kamu di dunia ini, tapi ingat kematian pasti menghampiri dirimu, dan semoga kita semua mendapat khusnu alkhatimah” pesan Gus Sabuth di akhir sambutan beliau.

Mengenang Riwayat Kiai Badruddin

Mengenang Kiai Badruddin, artinya mengenang riwayat hidup beliau yang diceritakan oleh Kiai Zainuddin Badruddin dalam pembuka acara. Riwayat singkat Kiai Badruddin tersebut telah dirangkum dalam bait-bait syair berbahasa Arab.

“Sang Purnama mulai nampak di ndalem KH. Anwar Nur ketika lahir seorang bayi bernama Badruddin Anwar dengan membawa segudang cahaya,” kisah Kiai Zainuddin menceritakan kelahiran Kiai Badruddin di tahun 1942. Melanjutkan syair tersebut, cahaya yang dibawa Kiai Badruddin dapat menyinari apapun yang ada di sekitarnya dengan mendirikan Pondok Pesantren An-Nur II di tahun 1979.

Bercerita masa belajar Kiai Badruddin, beliau dikisahkan pernah berguru ke pada KH. Cholil Nawawi, Sidogiri dan KH. Djazuli Usman, Al-Falah, Ploso. Dalam masa belajar itu, syair itu bercerita salah satu tirakat yang dilakukan Kiai Badruddin adalah mencampur kerikil pada beras yang beliau tanak. “Sang Purnama mengeyam kehinaan ketika menjadi santri, agar meraih tujuan kemuliaan,” ucap Kiai Zainuddin menlanjutkan bacaan nazam tersebut.

Besarnya perhatian dan sikap kedermawanan beliau tak luput disebutkan dalam nazam tersebut. Dan menghormat pada semua tamu adalah sifat beliau yang telah dirasakan oleh banyak orang. Masih banyak sifat-sifat terpuji Kiai Badruddin yang tertera pada bait-bait nazam yang sering dibacakan Kiai Zainuddin dalam berbagai kesempatan.

Baca juga  Kreatifitas Santri An-Nur 2

Riwayat hidup seorang alim ulama bukan lah sebatas dongen. Dengan mengetahui riwayat hidup Kiai Badruddin tersebut, Kiai Zainuddin berharap, “Semoga kita benar-benar mengingat beliau, sehingga kita bisa beramal dan berlaku seperti halnya beliau.”

(MFIH/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: