Hari Sempurnanya Agama Islam

Hari Sempurnanya Agama Islam

Hari Sempurnanya Agama Islam 

(Tafsir surat Al-Maidah ayat 3, #3) 

“…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu…” 

Masyhur beredar kalau ayat tersebut adalah wahyu terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Alasannya, karena ada kalimat akmaltu lakum dinakum, yang artinya telah Ku-sempurnakan bagi kalian agama kalian. Banyak yang memahami kalau yang sempurna di sini adalah agama Islam seluruhnya. Jadi, sudah tidak ada tambahan lagi setelahnya. 

Argumen tersebut tidak sepenuhnya betul. Ada wahyu yang turun setelah surat Al-Maidah ayat 3 itu, yaitu surat Al-Baqarah ayat 281. Namun, pada wahyu yang turun setelah ayat sempurnanya agama Islam itu tidak membahas hukum, tapi berisi nasihat-nasihat. Maka, kita dapat memahami, maksud sempurna dalam ayat ini adalah sempurnanya hukum Islam. Setelahnya sudah tidak ada lagi ayat yang membahas halal-haram.

Sayyidina Umar Menangis 

Ada kisah menarik mengenai turunnya ayat ini. Sayyidina Umar bin Khattab yang terkenal tegas tiba-tiba menangis saat Nabi Muhammad menyampaikan ayat ini. Sontak ini membuat heran banyak sahabat, bahkan Nabi SAW pun juga heran. Orang-orang merasa aneh, bagaimana bisa orang yang banyak orang takut, bahkan setan pun takut, malah menangis.  

Karena itu, nabi bertanya kepada Sayyidina Umar, “Kenapa engkau menangis?” “Kalau sesuatu telah sempurna, baru akan terlihat kekurangannya,” jawab SAyyidina Umar. Lantas nabi membenarkannya, “Shodaqta (Engkau benar).” 

Kisah lain mengenai ayat ini juga pernah menimpa Sayyidina Umar saat menjadi khalifah. Ada seorang Yahudi menghadap Sayyidina Umar, lalu berkata, “Wahai amirul mu`minin, ada satu ayat pada kitab kalian, andainya ayat itu turun pada kami, maka kami akan menjadikan hari turunnya sebagai hari raya.” 

Baca juga  Mengurai Sosok Kharismatik: Siapa Sebenarnya Beliau di Hati Mereka?

“Memang, ayat apa yang kamu maksud itu?” tanya Sayyidina Umar. 

“Alyauma akmaltu lakum dinakum.” 

“Kami sungguh tahu hari dan tempat ayat tersebut turun. Waktu itu Nabi berdiri berkhotbah di padang Arafah pada hari Jumat setelah Asar.” 

Dari kisah itu, dapat disimpulkan bahwa ayat di atas turun pada hari Arafah saat Nabi melakukan haji Wada’, haji perpisahan. 81 hari sebelum Nabi Muhammad wafat. Beliau menyampaikan ayat tersebut saat wukuf di padang Arafah pada hari Jumat. Karena itu, sekarang jika hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat, maka haji di tahun tersebut disebut dengan Haji Akbar.  

Orang Kafir Putus Asa

Selanjutnya, mengenai ‘orang kafir telah putus asa’, maksudnya adalah ketidakmampuan orang kafir saat itu untuk melawan Islam. Karena pada tahun sebelas Hijriah itu, Islam sudah menjadi agama super Power. Walhasil, saat haji perpisahan itu, tidak ada lagi orang kafir yang ikut berhaji. Dulu, sebelum Islam sekuat itu, yang melakukan ibadah haji ada juga dari kalangan musyrik. Saat berhaji bukan menyembah Allah, melainkan berhala sekeliling. Bahkan, ada ritual tawaf dengan telanjang. 

Maka, karena Islam sudah kuat, Nabi memberi mandat kepada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali untuk memberi pengumuman. Pengumuman itu berbunyi, “Tidak boleh ada lagi setelah ini ada orang musyrik yang berhaji. Begitu pula tawaf dengan telanjang.” Sehingga saat Haji Wada’, yang datang berhaji murni rombongan Nabi Muhammad dari kota Madinah AL-Munawwarah. 

(Muhammad Miqdadul Anam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: