Berada di antara gedung SMA dan SMP An-Nur, sebuah panggung acara berdiri kokoh di antara kedua bangunan itu untuk melangsungkan acara pengapresiasian kepada para santri berprestasi, lengkap dengan pentas seni karya santri Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata): Billah Awards.
27 Januari 2022, malam itu Kiai Haji Zainuddin memberikan sambutannya di atas panggung acara. “Semoga santri-santri yang berprestasi dapat mengikuti ajang lomba besar di kemudian hari,” harap beliau dalam sambutan tersebut. Selain itu, dalam sambutannya beliau juga berceletuk dan mengulik kembali tujuan seorang santri saat mondok, “Samean di sini itu untuk mencari ilmu.”
*Dapur Perjuangan Kreasi Santri Billah Award An-Nur II*
“Acara ini dimaksudkan guna mengapresiasi santri berprestasi dan memotivasi santri lain untuk semangat belajar.” begitulah tutur Ustaz Ahmad Syaikhul Islam, Sie acara. Beliau beranggapan, bahwa salah satutujuan dari inovasi acara ini adalah untuk menambah semangat belajar para santri.
Tak hanya sebagai wadah apresiasi, acara tersebut juga menjadi ajang untuk melatih rasa kreatif bagi para santri. “Selain untuk pengapresian santri, Billah Awards juga menampilkan beragam penampilan sebagai panggung hiburan,” ujar Ustaz Syaikhul. Beliau beranggapan, ini addalah salah satu bentuk improvisasi agar acara tak monoton.
Kreasi teater dari kelas tiga diniah, asrama billah 4, pertunjukan itulah yang menjadi persembahan seni pertama di panggung yang berdiri malam itu. “Empat harian, tanpa adanya pembinaan. Jadi latihannya merupakan usaha teman-teman sendiri,” tutur Fikri Ahmad Ramadani, pembuat naskah teater.
Tak sampai di situ, dalam wawancaranya bersama kru Mediatech, Fikri juga menceritakan segala lika-liku pmbuatan seni pertunjukan tersebut. “Kekurangan properti yang dibutuhkan, sampai teman-teman juga sedikit kebingungan dengan pakaian apa yang akan dikenakan digunakan untuk tampil kak,” ucap Fikri mengeluarkan keluh kesahnya. Ditambah lagi, backsound dalam persiapan teater tersebut juga sesekali terhapus, membuat kepalanya makin pusing—begitu menurutnya.
Karena terpepet banyak kendala yang mendadak, kru teater itupun mengaku untuk terus berpikir cepat dan menemukan solusinya. Alhasil, karena kekurangan properti yang ada, mereka pun membuat sendiri properti-properti yang kurang itu.
Selaras dengan jerih payah yang mereka rasakan demi penampilan yang memuaskan, amanat dari teater yang mereka tunjukkan juga menceritakan sebuah hasil yang tiada mengkhianati usaha.
“Dengan berusaha terus, rezeki nanti datangnya bisa tiba-tiba, gak kepikiran tapi langsung ada.” Ucap Fikri. Tepat setelah tampil, nafas lega mereka rasakan setelah menuruni pnggung—penampilan teater dengan judul “Sang Pengamen” itupun sukses di panggung acara.
Tak habis dengan pertunjukan teater “Sang Pengamen”, Billah Award juga menyuguhkan pertunjukan yang beranggotakan dari kolaborasi santri kelas satu diniah: Arabian Night. Santri-santri di kreasi penampilan itu memutar melingkari salah seorang santri yang berdiri di tengahnya sambil membecakan sebuah puisi: M. Rizal Matofani.
Setelah pembacaan puisi usai, para santri tersebut menari bersama dengan membawa lampu-lampu kecil yang dibawanya. Pada sela prosesi tarian tersebut, muncullah seorang berjubah hitam dengan rompi merah yang melapisinya yang menjadi pusat perhatian. Dilengkapi dengan penutup kepala khas penari timur tengah, tarian sufi pun turut sukses menutup persembahan Arabian Night malam itu.
Meski sukses di panggung acara, rupanya penampilan hasil inisiatif Ustaz Ari, kepala kamar keas satu diniah tersebut juga tak luput dari keringat, jerih payah dan segala kendala di dalamnya. “Sulit koordinasinya sama anak-anak.” Keluh Rizal. Namun, dalam sesi tanya jawab bersama tim Mediatech An-Nur II itu, Rizal turut bersyukur semua terlaksana dengan lancar.
Sudah lumayan. Teman-teman jadi lebih berani berada di depan publik dari dulu-dulu,” ulas Fikri, personel teater “Sang Pengemis”. Baginya, pengalaman dalam penampilan itu juga merupakan sebuah perkembangan gaya belajar dirinya beserta tim untuk terus berkarya.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech An-Nur II)
