23 September, 2018
  • 23 September, 2018

Dari Kisah Abdurahman Bin Auf Hingga Filosofi Kurma

By on 21 Januari, 2018 0 184 Views

Dari Kisah Abdurahman Bin Auf Hingga Filosofi Kurma

“Udah lapar belom?”

Dengan pertanyaan itulah, KH. Rahmat Suyuthi membuka pengajian Ahad Legi pada hari ini (Ahad, 21 Januari 2018) di hadapan ribuan jamaah yang hadir di depan masjid An-Nur II. Dengan logat betawinya yang kental itu, dapat kita ketahui bahwa seorang kyai yang juga alumni An-Nur II ini berasal dari daerah Tangerang, Jawa Barat.

Beliau hadir untuk mengisi pengajian Ahad Legi bulan ini setelah dihubungi oleh Gus Syifa yang juga seorang alumni. Pada amanatnya itu, beliau banyak menyinggung tentang pilihan hidup, “Hidup itu pilihan”.

*Abdurahman yang Gagal Miskin*

Hampir seluruh manusia di muka bumi ini menginginkan hidup senang dan kaya raya. Tetapi, dikisahkan, dahulu ada seorang sahabat Nabi SAW yang justru lebih memilih miskin daripada hidup dengan bergelimang harta. Dan anehnya lagi, sahabat ini malah “gagal miskin”. Dia adalah Abdurahman Bin Auf.

Suatu ketika, Rasul beserta para sahabat dan bala tentara muslim pergi daerah Tabuk untuk melaksanakan perang Tabuk. Karena jarak antara Madinah dan Tabuk terbilang jauh, dibutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana. Begitu pula ketika pulang.

Efeknya, banyak kurma-kurma yang rusak lantaran tidak diurus oleh para sahabat yang pergi berperang. Lantas, para sahabat itu pun kecewa. Karena kurma-kurma itu akan dihargai murah, bahkan tidak laku untuk dijual. Mendengar ihwal itu, Abdurrahman Bin Auf membeli kurma-kurma itu dengan harga normal. Itu ia maksudkan supaya ia dapat menghabiskan hartanya dan ia menjadi orang miskin.

Dan benar saja ia menjadi miskin. Tetapi, setelah ia membeli kurma-kurma yang rusak itu, datanglah utusan dari Yaman. Utusan itu pergi ke Madinah untuk mencari kurma busuk. Karena, pada saat itu, di Yaman sedang terkena bencana wabah yang hanya bisa disembuhkan dengan kurma busuk. Lalu, ditemukanlah Abdurrahman Bin Auf yang memiliki banyak kurma busuk. Dan dibelilah kurma itu dengan harga sepuluh kali lipat dari harga belinya. Tentu saja Abdurahman Bin Auf kaget. Dan akhirnya, ia pun gagal miskin.

Sebenarnya, mengapa Abdurahman Bin Auf lebih suka menjadi orang miskin, padahal ia adalah salah satu sahabat yang kaya? Juga berbeda dengan kita yang lebih memilih untuk hidup bergelimang harta.

Jawabannya, karena Rasulullah pernah bersabda kepada Abdurahman Bin Auf, bahwa ia adalah satu dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga. Tetapi, ia adalah yang terakhir. Mengapa? Karena banyaknya harta yang ia miliki.

“kelak, di padang masyar, antara orang-orang miskin dan orang kaya yang sholeh, yang masuk surga terlebih dahulu adalah orang-orang miskin”, sambung Kyai Suyuti. “Jarak antara keduanya adalah nisfil yaum, (setengah hari)” lanjut beliau. Dan kita ketahui, satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun, dan setengah hari, berarti lima ratus tahun.

*Filosofi Kurma*

Dan kita, sebagai umat zaman now, harus menerima dengan ikhlas atas apa yang diberikan Allah SWT kepada kita. Karena Allah itu, memberikan rezeki kepada setiap mahluknya dengan cara yang berbeda-beda. Allah pasti memenuhi kebutuhan setiap mahluknya.

Pada pengajian kitab Shohih Bukhori yang dilaksanakan sebelum dimulainya pengajian rutin “Ahad Legi” ini, Dr. KH. Fathul Bari S.S, M.Ag menyampaikan bahwa Allah menciptakan bumi seisinya bisa untuk memenuhi kebutuhan semua mahluk di dalamnya. Tetapi, bumi tidak akan mampu memenuhi keinginan satu manusia saja.

Seperti dalam sebuah hadis, bahwa ketika seorang manusia sudah mempunyai harta hingga dua jurang, niscaya ia akan menginginkan jurang ketiga.

Maka dari itu, Kyai Fathul memberikan filosofi kurma sebagai gambaran umat islam, yang kurma itu sendiri merupakan singkatan dari syukur nerima. Artinya, harus bersyukur dan menerima apa yang diberikan oleh Allah SWT.

Pohon kurma tidak ditanam di tanah yang nyaman untuk tumbuh. Melainkan ia ditanam di padang pasir yang kencang anginnya. Sehingga, orang-orang Arab menanam kurma dengan menindihnya dengan batu ketika biji baru ditanam di dalam tanah. Dan ketika biji itu berubah menjadi tunas, tunas itu tidak akan mampu untuk tumbuh ke atas dan menggeser batu itu. Maka, terpaksa tunas kurma itu tumbuh ke bawah dan membuat akar semakin dalam dan kuat. Dan pada waktunya, tunas itu akan mampu menggeser batu di atasnya dan tumbuh tinggi.

Jadi, kalau sudah seperti itu, meskipun diterpa angin besar, pohon kurma masih tetap dapat berdiri tegak. Seperti itulah gambaran umat mukmin yang tidak goyah menghadapi cobaan. Karena, mempunyai akar yang kuat, yaitu hati dan pikiran.

“Kaya dan bahagia bukan dari harta, melainkan dari hati dan pikiran seseorang”, tutup KH. Fathul Bari pada pengajian kitab Shohih Bukhori hari ini.

(Izzul Haq)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: