Terbaru
http://annur2.net/

DAHSYATNYA PUASA

By on 14 Juni, 2016 0 2 Views

odohONE DAY ONE HADITH

Dari Thalhah bin Ubaidillah RA, dia mengisahkan seorang Arab badui yang rambutnya berdiri (karena tidak diberi miyak rambut dan tidak disisir) datang menemui Rasulullah SAW. Dia berkata, ….Lalu dia berkata :

أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا

“Beritahukanlah kepadaku puasa yang diwajibkan Allah kepadaku”. Beliau menjawab, ”Puasa di bulan Ramadhan, kecuali apabila kamu mau melakukan puasa lain sebagai tambahan.” [HR. Bukhari]

 

Catatan Alvers

Sabda Nabi ini menegaskan bahwa puasa ramadhan hukumnya wajib. Hadits ini berfungsi sebagai bayan tafsir dari kewajiban “Shiyam” dalam firman Allah swt:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” [QS. Al-Baqarah :183].

Puasa dalam bahsa arab disebut dengan shaum. Secara Bahasa, shaum merupakan sinonim dari imsak yakni menahan diri untuk tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu dan bahkan ia maknanya lebih jauh dari itu yakni meninggalkan segala sesuatu. Adapun secara terminologis, shaum berarti, “Menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, dan perbuatan-perbuatan maksiat dengan niat yang ikhlas, dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Ibadah ini diwajibkan mulai tahun ke-2 hijrah.”

Kewajiban puasa bukanlah hal baru karena puasa juga disyariatkan kepada ummat sebelum kita, di sini Allah swt memerintahkan ummat Muhammad saw untuk melihat betapa beratnya syari’at puasa ummat sebelum kita, seperti Maryam AS yang shaumnya tidak boleh berbicara  sama sekali, demikian pula shaumnya Thalut AS yang hanya boleh minum seteguk air saja sehingga diriwayatkan bahwa kaumnya Thalut yang mampu bertahan berpuasa seperti itu hanya 309 orang saja, demikian pula puasa Nabi Daud AS yang selang sehari seumur hidupnya, dan puasa ummat Muhammad saw sebelum turunnya QS. Al-Baqarah 2/187 yang belum diturunkan syari’at makan Sahur.

Sebenarnya, puasa secara alamiyah terdapat dalam alam semesta di mana binatang tertentu seperti katak,ulat, ayam dan ular turut mengamalkan puasa. Puasa juga telah disyariatkan dalam semua agama langit seperti Kristen dan Yahudi. Malah agama budaya (ardi) juga seperti bangsa Hindu dan Budha mengamalkan puasa di dalam cara hidup mereka. Dalam sistem kepercayaan masyarakat Jawa. puasa menjadi salah satu sarana penting dalam laku (spiritual act) untuk mencapai tujuan tertentu. Umpamanya, agar anggota keluarga selamat dalam melakukan perjalanan, atau agar seseorang yang dicintai cepat sembuh dari sakit. Puasa ala Jawa bermacam-macam bentuknya. Misalnya, ada yang disebut ngebleng, ngrowot, atau mutih. Mana yang dipilih tergantung tujuan yang ingin dicapai mengingat bobot puasa itu berbeda-beda. Baik waktu maupun bentuknya. Makin berat tujuan yang hendak dicapai, makin berat pula bobot puasanya.

Dan pada akhirnya puasa itu memiliki target, yaitu derajat taqwa. Dan taqwa artinya mensucikan jiwa (tazkiyyah-nafs) dari kotoran dan kemaksiatan, maka tiada artinya berpuasa yang hanya memindahkan jadwal makan dan minum belaka. Lebih dari itu ternyata secara ilmiyah, Prof. Arnold Ehret dari Jerman berkata bahwa puasa yang tepat mampu menyegarkan fisik, mental dan spiritual seseorang. Ahli filsafat seperti Socrates, Plato, Aristotle dan Pythagoras juga mengamalkan ibadah puasa untuk meningkatkan performa fisik dan mental agar dapat berfikir serta mencetuskan idea-idea yang gemilang. Bahkan lebih jauh, Soekirno, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, puasa bisa ikut membantu mengendalikan stres. Juga, menjadi terapi beberapa penyakit tertentu seperti hipertensi, kanker kardiovaskuler, ginjal, dan depresi, akan lebih cepat dan efektif bila diikuti dengan aksi puasa.

Menyadari manfaat ini, Banyak tokoh dunia yang mencari kekuatan mental serta kesempurnaan moral dengan melakukan puasa. Mahatma Gandhi, tokoh legendaris India dalam bidang politik maupun spiritual, sengaja berpuasa selama 21 hari demi mencapai tujuan perjuangannya bagi perdamaian India. Bung Karno dalam kegigihan dan heroismenya, disebut sering berpuasa, terutama pada saat-saat kritis melawan penjajah Belanda maupun Jepang.  Begitu juga pengarang besar Rusia, Leo Tolstoy; pengarang dari Perancis Francois Voltaire dan pengarang Austria Franz Kafka yang menjadikan puasa sebagai amalan dalam kehidupan mereka. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita sehingga bisa menyadari bahwa puasa adalah sebuah kebaikan yang sebenarnya dibutuhkan oleh kita sendiri bukan Allah swt.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: