Terbaru

Cintai Dahulu Sebelum Ingin Bermimpi Nabi

By on 29 Maret, 2018 0 19 Views

Pagi itu matahari terbit dengan anggunnya, suasana begitu tentram ditemani dengan suara kokok ayam yang bersaut-sautan tanpa henti. “ini adalah tanda kalau malaikat hadir di tengah-tengah kita” tutur Sayyid Amin Al-jilani saat memberi tausyiyah kepada pada santri di masjid, Selasa pagi (27/03).

 

Dalam tausyiyahnya beliau banyak memberikan dzikir-dzikir yang setiap hari beliau amalkan serta keutamaan-keutamaannya. Seperti ketika orang yang setelah sholat subuh melakukan dzikir sampai matahari terbit, maka akan diberikan pahala haji dan umroh yang sempurna.

 

*Si Fulan Tidak Bisa Bermimpi Nabi*

 

                tak hanya itu, beliau juga berkisah tentang seseorang yang ingin bermimpi nabi namun tidak kunjung bermimpi sampai sekian lamanya. Dikisahkan, dahulu ada seorang, anggap saja si Fulan, yang ingin bermimpi nabi Muhammad SAW. Ia pun pergi ke seseorang ulama’ untuk meminta saran agar ia bisa bermimpi rasulullah. “Aku inigin bermimpi nabi”, ungkap si Fulan. Ulama’ tersebut berkata “perbanyaklah sholawat di berbagai waktu luangmu”.

 

Si Fulan itu pun melakukan apa yang diperintah oleh ulama’ tersebut. Selang beberapa lama si Fulan kembali ke ulama’ tersebut dan berkata “aku telah banyak membaca sholawat, tapi belum juga bermimpi nabi, lalu bagaimana?”. Ulama’ itu pun menjawab “Ulangi lagi berkali-kali”. Si Fulan kembali dan menegerjakan apa yang diperintahkan oleh sang ulama’.

 

Tak selang beberapa hari si fulan itu kembali lagi kepada ulama’. “aku masih saja tidak bisa bermimpi nabi”, keluhnya. Kemudian ulama’ tersebut menyuruhnya untuk memakan ikan yang ditaburi garam sebelum tidur dengan syarat tidak boleh minum sampai bangun tidur. Si Fulan bingung dan berfikir jika ia memakan banyak garam maka ia akan kehausan. Tapi, karena ingin bermimpi Rasulullah ia pun menurutinya.

 

Tibalah waktu sebelum tidur, ia memakan ikan yang diberi garam sesuai dengan perintah ulama’ tersebut. Benar memang yang  dipikirkannya, setelah makan ikan, ia kehausan dan langsung tidur agar tidak terlalu terasa rasa hausnya. Namun, saat bangun si Fulan tidak bermimpi nabi, justru ia bermimpi kehausan. Ia pun pergi kembali ke ulama’ tadi untuk mempertanyakannya.

 

“sudah bermimpi belum?”, tanya ulama’ saat si Fulan datang menemuinya. “Belum, tapi saya bermimpi pergi ke berbagai sumber dan meminum airnya”, jawab Fulan mengisahkan. Ulama’ itu memberi kesimpulan “Keinginanmu bermimpi nabi itu sebagaimana kamu menginginkan air saat haus, kamu akan bermimpi memperole air tersebut. Maka dari itu, kita harus cinta terlebih dahulu kepada nabi dengan ikhlas dan tulus sebagaimana nabi yang mencintai para ikhwan-nya (seseorang yang mengimani beliau namun tidak pernah bertemu dengan beliau).

 

Pewarta : Miqdad

Editor : Izzul

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: