Cara Menaikkan Derajat Hanya dengan Berwudlu

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bertolak dari ‘Arofah, hingga beliau sampai di suatu lembah. Setelah sampai di lembah itu, nabi turun dari tunggangannya dan buang air kecil. Kemudian beliau wudlu dengan tidak sempurna. Usamah bin Zaid, yang saat itu sedang menemani beliau, bertanya: “Apakah kita akan salat wahai Rasulullah?” “Salat masih ada di depanmu (salat di depan sana saja),” jawab rasul.

Rasul pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di Muzdalifah, beliau kembali turun dan wudlu secara sempurna. Setelah itu, beliaupun shalat Maghrib setelah dikumandangkannya iqomah, sedang orang-orang lain mulai mengikatkan unta di tempatnya. Tak lama berselang, iqomah Isya dikumandangkan. Beliaupun salat tanpa melakukan salat yang lain di antara Maghrib dan Isya.

Demikian kisah yang disarikan dari kitab Shahih Bukhari. Pada pengajian rutin Ahad Legi, Ahad, 10 Februari 2019, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. membahas hadis tentang menyempurnakan wudlu.

Beliau mengatakan, dalam hadis lain riwayat Imam Muslim, nabi pernah menunjukkan para sahabat perkara yang dapat melebur dosa dan mengankat derajat. “Salah satunya adalah menyempurnakan wudlu di saat sulit,” tutur beliau.

Artinya kita akan memperoleh keisimewaan itu jika wudlu di saat-saat sulit seperti ketika musim dingin. Yang dimaksud menyempurnakan di sini adalah dengan melakukan wudlu beserta sunnah-sunnahnya.

Setelah wudlu, lanjut Kiai Fathul, jemdaknya tidak langsung pergi, karena ada perkara kecil yang memiliki pahala besar. Yakni dengan membaca doa setelah wudlu.

Mengutip dari salah satu hadis, bunyi doanya adalah asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduduhu wa rosuluh. Dengan membaca doa tersebut, delapan pintu surga akan dibuka dan orang yang membacanya dibebaskan masuk lewat pintu mana saja. “Maka, sempurnakanah wudlu kalian,” imbuh pengasuh Pondok Peantren An-Nur II Al-Murtadlo itu.

Sandiwara untuk Kakek

Di akhir pengajian, Kiai Fathul bercerita suatu kisah yang diambil dari kitab Faidul Qadir. Dikisahkan, suatu saat, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain sedang mendatangi masjid untuk berwudlu. Sesampainya di tempat wudlu mereka berdua menemui seorang kakek yang wudlu dengan tidak sempurna. Mereka pun ingin mengingatkan kakek itu, tapi karena alasan adab mereka membatalkan utuk mengingtkan secara langsung.

Setelah lama berpikir, diputuskan mengingatkan sang kakek dengan cara sandiwara. Kedua putra sahabat Ali bin Abu Tholib itu pun pura-pura berselisih mana di antara keduanya yang wudlu dengan sempurna. Sayyidina Hasan pun mengadukan hal itu kepada sang kakek, ”Wahai Kakek, siapa dia antara kami yang wudlunya sempurna, coba anda perhaikan.” Kakek itu menjawab, ”Baiklah.”

Sayyidina Hasan pun memulai wudlu dengan sempurna. Dilanjutkan Sayyidina Husain yang wudlu dengan sempurna pula. Kemudian Sayyidina Hasan berkata kepada kakek, “Siapa di antara kami berdua yang wudlunya tidak sempurna?” “Demi Allah, saya yang tidak wudlu dengan sempurna. Dan kalian berdua meneyempurnakan wudlu,” jawab kakek dengan wajah bersalah.

“Banyak orang yang tidak melakukan perkara sunnah karena tidak mengerti. Maka setelah mengerti, lakukan perkara itu,” nasihat Kiai Fathul kepada para jamaah penajian Ahad Legi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: