Burak merupakan tunggangan Nabi Muhammad SAW saat melakukan Isra Mikraj. Hewan ini memiliki wujud seperti kuda dan berkecepatan bagaikan kilat. Saking cepatnya, Nabi hanya memerlukan waktu satu malam untuk naik ke langit ketujuh hingga kembali ke bumi. Bahkan ada yang mengatakan tempat duduk beliau di rumah masih hangat saat pulang. Akan tetapi, apakah Burak memang memiliki kecepatan seperti itu?
Lebih jelasnya, ciri-ciri Burak tercantum dalam hadis riwayat Anas bin Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didatangkan kepadaku Burak, seekor tunggangan berwarna putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari bagal, ia berupaya meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Setelah menungganginya, maka Burak itu berjalan membawaku hingga sampai ke Baitulmaqdis. Aku ikat (tambat) tunggangan itu di tempat biasanya para Nabi menambatkan tunggangannya (Burak).”
Kalau kita memperhatikan nama Burak, kata tersebut mirip dengan barqun yang dalam bahasa arab berarti kilat. Kilat merupakan cahaya yang muncul dari petir. Kilat memiliki kecepatan seperti cahaya yaitu 300.000 kilometer per detik. Dengan kecepatan ini, petir yang muncul sangat jauh dari kita, cahayanya sampai lebih awal kepada kita daripada suaranya.
Hadis di atas juga menyebutkan, dalam sekali langkah Burak bisa mencapai ujung pandangannya. Dari viva.co.id, maksimal penglihatan manusia sejauh 3,1 mil atau 5 kilometer pada dataran. Berarti dalam satu langkah, Burak sudah berpindah tempat sepanjang 5 km bahkan lebih jauh. Selain itu, kecepatannya menjadi lebih cepat daripada kecepatan cahaya.
Kesesuaian Kecepatan Burak dengan Sains
Sebelum itu, kita akan membahas kecepatan cahaya yaitu 300.000 km/detik. Jika seseorang, misalnya A, memiliki kecepatan hampir setara kecepatan cahaya, waktu akan melambat baginya secara signifikan daripada B yang bergerak normal. Akibatnya meskipun A bergerak sejauh apa pun, dia bergerak sangat cepat bagi B. Akan tetapi, A merasakan waktu sesuai keadaan normal.
Burak memiliki kecepatan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah SWT. Saat peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW berangkat bakda Isya dan kembali menjelang salat Subuh. Ketika beliau menunggangi Burak dalam perjalanan “wisata rohani” tersebut, beliau akan merasakan waktu yang konstan sebagaimana orang biasa. Akan tetapi, bagi orang selain Nabi, peristiwa tersebut terjadi sangat cepat, hanya satu malam. Bahkan ada yang mengatakan tempat duduk Nabi sebelum berangkat masih hangat tatkala beliau sampai di rumah.
Padahal jarak antara tempat tujuan Nabi Muhammad SAW sangat jauh. Jarak antara Masjidilharam di Mekah dan Masjidilaqsa di Palestina sekitar 1239 kilometer. Sedangkan jarak antara Masjidilaqsa dengan Sidratulmuntaha tak terhitung jauhnya.
Secara logika, perjalanan sejauh itu tidak mungkin terjadi hanya dalam satu malam. Namun, jika kita telusuri secara mendalam, hal itu memang bisa terjadi bahkan secara sains. Burak yang mempunyai kecepatan tinggi, melebihi kecepatan cahaya, membuat Nabi mampu menempuh perjalanan yang sangat jauh dalam waktu singkat.
Tanpa kita sadari, Burak telah mencerminkan salah satu ilmu dalam bidang sains, yaitu teori relativitas khusus milik Albert Einstein. Teori relativitas khusus ialah pembahasan tentang hubungan antara ruang dan waktu. Teori ini menyebabkan satu konsekuensi yaitu dilatasi waktu yang mengakibatkan bagi orang selain Nabi merasakan perjalanan Isra Mikraj terjadi terlalu cepat, padahal bagi Nabi normal-normal saja.
Sumber:
https://www.tagar.id/fakta-tentang-kecepatan-Burak-kendaraan-nabi-muhammad-saw-saat-isra-miraj
https://www.seva.id/blog/mengenal-Burak-kendaraan-super-cepat-nabi-muhammad-saw-saat-isra-miraj/
https://www.viva.co.id/blog/lainnya/332907-berapa-jauh-penghilatan-manusia
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech)
