Bongkar Dapur, untuk Tujuan yang Makmur

Bongkar Dapur, Bongkar Dapur, untuk Tujuan yang Makmur, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Sejak hari itu, Senin (1/11/21), pembongkaran salah satu bangunan lawas di Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo mulai berlangsung. beragam memori tak lepas dari memori para santri dan alumni pesantren. mulai dari betapa asiknya memakan makanan khas pesantren yang diselingi dengan rasa kebersamaan bersama kawan sebaya, bangunan itu seakan menjadi saksi bisu berbagai kegiatan dan kenangan. Bertempat di antara asrama Walisongo (Putra) dan Kantor pusat Pondok Pesantren, ruangan-ruangan penyedia makanan bagi para santri tersebut telah tiada dan berpindah tempat: Dapur Walisongo.

Bongkar Dapur Lama, Dua Keuntungan Tercapai

                “Dari pembongkaran dapur di area asrama Walisongo ini, kami harap kedua keuntungan bagi pesantren yang telah ditargetkan dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Ustaz Fahmi, pengurus ma’hadiyah pesantren. Dalam wawancaranya bersama tim Mediatech An-Nur II, beliau mengungkapkan beberapa tujuan pembongkaran dapur tersebut beserta manfaatnya. Beliau beranggapan, akan ada dua keuntungan besar yang akan diperoleh pihak pesantren untuk pelayanan para santri. Keuntungan yang pertama diperoleh dari segi administrasi, lalu yang kedua dari kapasitas produksi konsumsi.

                “Kita tahu luas pesantren ini telah lebih dari dua puluh hektare dengan ribuan santri di dalamnya. Maka dari itu, fasilitas yang memadai pun akan sangat penting dan sangat diperlukan,” ucap Ustaz Fahmi. Sebagai langkah pertama, bangunan SKJ (Sunan Kalijogo) di dekat koperasi kembar An-Nur II bagian timur, dibongkar lalu dibangun kembali menjadi lokasi dapur yang baru dengan area yang lebih luas.

Dengan pembangunan dapur baru di lokasi SKJ, diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan para santri yang terus mengalami peningkatan. Hal ini sangat lah penting mengingat jumlah santri yang juga naik setiap tahunnya. “Yah, karena tempatnya yang lebih luas, alhasil kegiatan memasak juga dapat lebih leluasa dan nyaman,” ujar kang Abdi, santri salaf pesantren.

Setelah lokasi dapur dipindah, bangunan dapur yang lama pun dibongkar menggunakan alat berat berupa satu buah mobil bego. Dengan mudahnya, kendaraan berat tersebut dapat merobohkan satu per satu dinding-dinding dapur. Dengan cara ini, pembangunan akan berlangsung lebih cepat dan efisien.

“Selepas pembongkaran selesai, rencananya kantor pusat pondok akan diperluas ke belakang,” tutur Ustaz Bobby Zamzami, pengurus ma’hadiyah pesantren. Dari perluasan tersebut, diharapkan akan banyak membantu untuk mengurusi jalannya keperluan-keperluan pesantren. Terlebih pada keperluan yang bergerak di bidang administrasi.

  “Bayangkan saja, pondok sebesar ini, tapi kantor pusatnya berukuran sekian. Bukankah akan lebih efisien jika perluasan dilakukan,” jelas Ustaz Fahmi menanggapi pentingnya proyek yang tengah berlangsung ini. Baginya, kedua keuntungan yang dapat diperoleh dari pemindahan lokasi dapur dan perluasan kantor pusat pesantren, memiliki manfaat yang besar dan berarti nantinya.

Kesan Dibalik Semua Itu

 “Susah sih, melupakan kenangan-kenangan yang ketika masih bertugas di dapur Walisongo,” kata Mak Ti, sebutan akrab para santri untuk Mak dapur yang bertugas di dapur. Bagi Mak Ti, pengalamannya selama memasak untuk memenuhi kebutuhan pangan para santri sejak tahun 2004, merupakan hal yang sangat berharga dan sulit untuk dilupakan.

Bahkan, dalam wawancaranya bersama tim Mediatech An-Nur II, Mak Ti mengaku memiliki banyak kenangan-kenangan yang terkesan sedikit lucu bagi dirinya sekarang. Beliau bercerita bahwa ketika awal masuk dan bertugas memasak di pesantren. Kala itu sebenarnya beliau masih belajar untuk memasak. Akhirnya, karena tak biasa memasak dengan porsi yang banyak dan dikejar waktu, tak bisa dipungkiri, Mak Ti mengaku menitikan air mata kala itu. “Waktu itu sedih memang. Tapi kalau sekarang diingat-ingat lagi, rasanya malah mau bikin ketawa hehe…,” celetuk Mak Ti.

Dibalik Perbaikan infrastrukur dalam pesantren yang terus berkembang, terdapat pula memori yang terus tumbuh bersamanya. “Soal ukuran dan kenyamanan tempat, dapur yang baru lebih unggul memang lebih unggul. Tapi soal memori di dalamnya tentu tidak,” ujar Kang Abdi, santri salaf asal Kalimantan. Dibalik Perbaikan infrastrukur dalam pesantren yang terus berkembang, terdapat pula memori yang terus tumbuh bersamanya.

(M. Arif Rahman Hakim/Mediatech An-Nur II) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: