Bersama Pengasuh, Klub Moge GTT Santuni Anak Yatim di An-Nur II

Para santri yang sedang bersiap untuk sholat Jum’at dikagetkan dengan deru suara mesin motor gede yang tiba di Pondok Pesantren An-Nur II (Pesantren Wisata). Di depan barisan moge itu, terlihat Ust. Farkhi, ketua ma’hadiyah, sebagai penunjuk jalan.

Jum’at (07/12) pagi itu, Klub Moge (motor gede) Gas Tipis-Tipis (GTT) datang berkunjung ke PP An-Nur II Al-Murtadlo. Mereka datang untuk megadakan santunan anak yatim dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Beberapa santri yang yatim diundang untuk menghadiri acara ini.

Disambut hangat oleh Kiai Zainuddin, sekitar sepuluh perwakilan komunitas ini diarahkan menuju istana Al-Ghozali yang berada di samping masjid An-Nur II. “langsung saja ya baca sholawat”, ucap Kiai Zainuddin memulai acara. Disusul pembacaan kitab Maulid Diba’ oleh tiga santri.

Setelah itu, beberapa sambutan disampaikan oleh KH. Fathul Bari. Dan barulah acara santrunan kepada santri yatim dilaksanakan. Beberapa hadiah diberikan kepada mereka.

Transportasi Rasulullah

Pada awal acar Dr. KH. Fathul Bari, S. S, M. Ag. Berkesempatan menyampaikan sambutan. Mula-mula beliau bercerita pengalamannya saat maulid nabi di Madinah. Tepatnya di kebun Tsaqifah bani Sa’diyah. “Peringatan maulid nabi di sana sudah biasa. Yang luar bisa itu, dari GTT ini”, tutur Kiai Fathul.

Transportasi itu banyak macamnya. Seperti halnya moge ini. Tapi sebelum adanya moge ini, ada yang namanya kuda, keledai dan unta. Sedangkan yang paling bagus itu unta. Rasulullah suka memakai unta dalam perjalanannya. “Mungkin jika Rasulullah hidup di zaman ini transportasinya Moge ini. karena Nabi dulu memakai transportasi yang paling bagus”, lanjut beliau.

Saking seringnya Rasulullah memakai unta, sampai-sampai unta yang di tungganginya turut mencintai beliau. Hal ini dibuktikan dengan cerita yang ada di kitab Maulid Diba’. Yakni, jika unta digunakan untuk ziarah ke makam Nabi tanpa dikendalikan pun sampai ke tempat tujuan. Ditambah langkah kakinya yang panjang, seperti ingin cepat sampai. “Tidak gas tipis-tipis lagi, tapi gas pol”, imbuh Kiai Fathul yang disusul dengan tawa para anggota GTT.

“Hal ini menunjukkan betapa cintanya unta kepada rasulullah”, imbuh beliau. “dari sini dapat diambil hikmah. Unta saja cinta kepada Rasulullah, masak kita tidak.”

Hati-Hati di Jalan!

Sebelum kembali, Kiai Fathul mengingatkan anggota GTT agar berhati-hati saat di jalan. “Kalau naik moge berdo’a dulu! Agar selamat di jalan. Karena keselamatan itu bukan datang dari diri sendiri. Tapi dari Allah”, pesan Kiai Fathul.

Dikisahkan, dahulu saat Kiai Fathul bepergian ke kota Malang, beliau sempat menunggu lampu merah. Di belakang beliau tidak ada kendaraan sama sekali. Namun tiba-tiba ada sebuah truk Fuso menabrak. Terjadilah kecelakaan kecil.

Dari kisah ini, beliau memberi nasihat agar para pengendara moge ini agar berhari-hati sekaligus tawakal kepada Allah agar perjalanannya selamat. Percuma sudah memakai helm dan peralatan lengkap tapi tidak berdo’a. “Karena kecelakaan bisa terjadi kapan saja sesuai kehendak Allah”, nasihat beliau di akhir sambutan.

(Mumianam/Media-Tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: