Bedah Buku dan Seminar Kepenulisan: Menjawab Keresahan Penulis Pemula dengan Pengalaman Sang Maestro

Selasa malam, 20 Januari 2026, suasana di Perpustakaan An-Nur II “Al-Murtadlo” tampak lebih hidup dari biasanya. Para santri Al-Badr 6 Ulya berkumpul untuk membedah dua karya ilmiah bidang ilmu Mantiq milik Ustaz Iqbalul Mu’id, M.Hum.

Beliau salah satu Dosen di Ma’had Aly An-Nur II dan Universitas Terbuka. Di antara karya-karyanya adalah Tanpa Logika Loe Gila, Terjemah Mantiq (2021), Belajar Ilmu Mantik (2025), dan masih ada lagi beberapa karya beliau.

Tidak sekadar membahas isi buku, kegiatan ini lahir dari keresahan para penulis kalangan santri yang belum mampu menyelesaikan karyanya. Berawal dari sini penulis dan santri belajar bersama: bagaimana menulis, proses editing, dan menuntaskan sebuah buku dengan konsisten.

Ustaz Iqbalul Mu’id, M.Hum., hadir sebagai narasumber dan yang mendampinginya Ustaz Moch. Vicky Shahrul Hermawan, S.F.U., sebagai moderator. Keduanya saling membantu santri untuk memecahkan problematika kepenulisan, mulai dari kebuntuan ide, konsistensi menulis, dan manajemen waktu berkarya.

Kenapa Harus Menulis?

Sebelum membahas kendala-kendala dalam proses pembuatan karya, kita perlu ketahui alasan harus menulis. Kalau alasan Ustaz Mu’id menulis karena dua hal, idealis dan pragmatis.

Pertama, Ustad Mu’id menulis karena dorongan idealisme, ia ingin punya suatu kenangan. Kenangan yang berbentuk tulisan itu berbeda dengan video maupun foto.

Sebab, “Tulisan itu membangkitkan imajinasi.” Jelas Ustaz Mu’id. Sedangkan, “Video atau sejenisnya mengkerdilkan imajinasi.” sambungnya. Seandainya ingin melaju di kehidupan akademik maka menulislah.

Kedua, karena dorongan pragmatisme. Berawal untuk mendapat uang dari karya tulis tetapi, “Kalau awal gak usah pragmatis tapi penting nulis.” Pesan Ustaz Mu’id. Sebab para pembaca sendiri yang akan memberi nilai kepada suatu karya.

Selain dua faktor itu yang mendorong Ustaz Mu’id menulis, ada satu hal lagi yaitu lingkungan. Ustaz Mu’id menempuh pendidikan di tempat yang tidak asing dengan kepenulisan.

Pada setiap tahunnya harus ada karya yang sudah diterbitkan. Hal ini juga salah satu bensin pendorong motivasi menulis Ustaz Mu’id.

Rintangan dan Jalan Keluar Penulis 

Kebanyakan penulis tidak dapat menuntaskan satu karya sebab merasa kurang bagus. “Hampir semua penulis seperti itu.” Ujar Ustaz Mu’id.

Berawal dari permasalahan ini beliau membagikan tahapan cara menulisnya. Pertama, menuntaskan atau menyelesaikan tulisan secara utuh 100%. Tidak perlu memikirkan typo atau yang lain.

Kemudian, jika sudah selesai barulah proses editing. Memperbaiki kesalahan-kesalahan kepenulisan, kesinambungan antar kalimat, dan penggunaan EYD serta PUEBI.

Terakhir, menuju ke percetakan untuk mencetak karya tersebut. “Kita punya target diselesaikan dulu.” Terangnya

Selain merasa kurang bagus, penulis pemula biasanya hanya semangat di permulaan saja. Mengakibatkan proses pembuatan karya tulis terhenti di tengah perjalanan.

Trik yang sering digunakan Ustaz Mu’id untuk mengatasi agar tetap konsisten menulis adalah mencari partner. “Supaya gak merasa ‘aduh gak mampu!’” Kata beliau.

Partner menulis bisa memilih guru untuk pendamping dan pengoreksi. “Ngapain guru gak dilibatkan di hal-hal intelektual.” Ujarnya.

Partner menulis juga bisa dari teman sendiri. Gunannya untuk mengetahui sudut pandang pembaca tentang tulisan kita.

Adanya partner tidak hanya untuk menjaga konsistensi menulis. Tetapi juga dapat memecahkan permasalahan utama, merasa karya tulisnya kurang bagus. “Ideal itu bergantung dengan kebiasaan.” Jelas Ustaz Mu’id.

Sebelum jauh menghadapi dua permasalahan tersebut banyak yang masih bingung dengan ide karyanya. Ide dapat kita temukan dengan banyaknya bacaan.

Ada satu cara yang sering Ustaz Mu’id lakukan yaitu berdiskusi dengan orang-orang yang lebih pintar. “Yang saya gemari diskusi-diskusi umum.” Menurut beliau diskusi itu akan memunculkan rasa kebodohan dalam diri sendiri.

Rasa bodoh itu yang membangkitkan minat baca kita. Alhasil dengan membaca beberapa buku atau artikel, itu dapat menambah ide yang dapat kita tuangkan dalam karya kita.

Pada akhirnya aktivitas membaca dan menulis adalah perwujudan dari perintah wahyu pertama:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!” (QS. Al-‘Alaq:1)

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ۝٣

Artinya: “Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia,”(QS. Al-‘Alaq:3)

Ustadz Mu’id mengingatkan bahwa literasi bisa bernilai ibadah asalkan tujuannya untuk mengenal kemuliaan Allah. Dengan begitu, menulis bukan hanya soal merangkai kata-kata, tapi menjadi jalan santri untuk berkhidmah kepada Sang Pencipta melalui karya tulis.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex