KH. Anwar di Mata KH. Hasyim Muzadi : Memaknai Perjuangan dari Kiai Anwar (2/2)

Baru saja terpilih sebagai anggota DPR, KH. Hasyim harus melepas jabatan itu.

 

Berkisar tahun 1986, Kiai Hasyim menjabat sebagai anggota DPR RI. Menapaki panggung politik bukanlah kehendak sendiri. Kiai Anwar berharap santrinya itu juga mampu menguasai tata cara hidup bernegara.

 

Tidak lama menduduki kursi DPR, Kiai Anwar meminta beliau agar menyudahi posisinya. Kiai Hasyim mendapat panggilan ‘balik’ dari Kiai Anwar. “Hasyim, dulu kamu saya suruh jadi DPR dan itu penting supaya tahu negara. Kalau sekarang saya suruh kamu berhenti, mau tidak?” Begitu kiranya tawaran Kiai Anwar.

 

Terjadi perdebatan yang panjang di keluarga Kiai Hasyim. Namun beliau lebih memilih tunduk dan patuh terhadap perintah guru. Beliau pun segera melepaskan jabatannya itu. Dan inilah sedikit makna perjuangan menurut Kiai Anwar yang tercermin pada Kiai Hasyim.

 

Suatu ketika juga, Kiai Anwar pergi jalan-jalan ke sekitar rumah Kiai Hayim. Lantas beliau berkata seraya menunjuk tanah yang di depannya, “Di sini nanti pondoknya Hasyim”. Tanah yang tidak ada nama pemiliknya itu, diramal akan menjadi rumah perjuangan Kiai Hasyim. Dan tak lama kemudian, tanah itu benar-benar diwakafkan kepada beliau. Kemudian di situlah Kiai Hasyim mendirikan pesantren bernama Al-Hikam di atas tanah seluas delapan ratus meter persegi. Mungkin itulah di balik makna perjuangan yang beliau petik dari gurunya, Kiai Anwar.

 

Pesan-Kesan Menjadi Murid Kiai Anwar

 

“Nanti kalau saya sudah tidak ada, saya ingin anak-anak saya kalau melangkah kayak pak Hasyim,” satu pesan itu yang membuat Kiai Hasyim terkejut. Kiai Hasyim tidak pernah mengerti apa maksudnya dan memang tidak pernah menanyakan perihal itu. Sehingga sampai menjelang wafatnya pada 16 Maret 2017 kemarin, Kiai Hasyim sering silaturahmi kepada putra-putri Kiai Anwar. Terutama Kiai Badruddin, putra pertama kiai Anwar.

 

Selain itu, beliau selalu mengaskan bahwa berguru kepada kiai Anwar bukan untuk belajar kitab. Melainkan belajar kehidupan; belajar menghadapi kenikmatan, menyikapi musibah, tantangan serta perjuangan. Beliau mengakui itu semua yang dapat dirasakan manfaatnya sampai menjelang beliau wafat. “Saya beralih kehidupan itu karena beliau, kiai Anwar,” kesan kiai Hasyim mengenang pengalaman bersama guru spiritualnya, KH. Anwar Nur.

 

Sumber: Video wawancara Athoillah Hikam https://www.youtube.com/watch?v=L3oqDQZiGMs , video profil Pondok Pesantren An-Nur 1 https://www.youtube.com/watch?v=9pK1rKcsFl8

 

(Ilham Romadhan/Media-Tech An-Nur II)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: