6 Pendeta yang Menemukan Kunci Perdamaian di An-Nur II

Pukul 11 malam, tiga tahun yang lalu, ratusan oknum orang Islam berdatangan. Tujuan mereka adalah gereja-gereja yang ada di Kab. Singkil, Provinsi Aceh. Beberapa gereja pun hangus dibakar masa. Bentrokan pun terjadi tak terelakkan.

 

Konflik antar umat beragama masih menjadi permasalahan pokok di negri ini. Karena kurangnya pemahaman tentang agama, menyebabkan perpecahan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan keyakinan. Tentu saja ini bertentangan dengan ajaran Islam yang sarat dengan nilai-nilai toleransi dan persaudaraan.

 

Untuk mengatasi permasalahan itu, sembilan orang Kristen Protestan berkunjung ke Pondok Pesantren An-Nur II, sehari menjelang Haul KH. Anwar Nur ke-28, Sabtu (17/11) ini. Delapan orang tersebut meliputi enam orang pendeta, empat di antaranya berasal dari, Malang, Bekasi, Sumatra, dan Vietnam.

 

Disambut Kiai Zainuddin di wisma Al-Ghozali, Pendeta Sukotianto, ketua pendeta yang berkantor di Sukun, Malang, bersyukur dapat diterima di An-Nur II. Ia dan teman-temannya mengaku kedatangannya adalah untuk belajar membangun hubungan dengan kelompok masyarakat yang bersebrangan keyakinan. “Selain itu, untuk mempererat sinergi kita dalam hidup berdampingan,” jelasnya kemudian.

 

Kunjungan ini merupakan rangkaian program loka karya “Pastor for Peace”. Setelah mengikuti kegiatan ini, para pendeta diharapkan dapat menjadi pelopor perdamaian di daerah asalnya. Pendeta Eksor, menyatakan hidup di Jawa lebih tenang daripada di daerah ia ditugaskan. “Di Aceh, terutama di Kab. Singkil, hubungan antar umat beragama sering kali terjadi konflik, padahal kami di sana satu suku,” jelasnya yang asli orang Batak.

 

Seperti yang dijelaskan Kiai Zainuddin, konflik antar umat beragama bukan disebabkan oleh agamanya. Melainkan oleh masing-masing individu. “Tidak satupun agama yang mengajarkan kejelekan, kalaupun ada itu bukan agamanya, tapi orangnya,” terang beliau.

 

Didirikannya An-Nur II juga berdekatan dengan dua gereja di depannya. Namun tidak pernah terjadi konflik antara pondok pesantren dengan masyarakat nasrani itu. Hal ini dibuktikan bahwa pendidikan pesantren mengajarkan para santri untuk bersikap toleransi. “Ini Tanya Pak. Budi, apa pernah ada konflik (antara pondok pesantren dengan gereja)?” ujar Kiai Zainuddin menunjuk Pak. Budi yang menjadi pendeta di gereja di depan An-Nur II.

 

Kunci Perdamaian: Saling Mengenal

 

Menanggapi berbagai permasalahan yang terjadi di daerah para pendeta itu, KH. Fathul Bari memberika solusi dengan saling mengenal antara umat beragama. “Kita ini hidup memang diciptakan berbeda-beda, tujuannya untuk saling mengenal satu sama lain, bukan permusuhan,” terang beliau.

 

Lanjutnya lagi, di dalam agama Islam, tidak diajarkan untuk membenci orang lain yang bersebrangan akidah. “Islam itu bermakna perdamaian,” jelas beliau. Jadi oknum-oknum Islam yang mengatasnamakan Islam namun memecah belah umat adalah, “Mereka yang baru belajar Islam,” lanjut Kiai Fathul.

 

Lebih lanjut lagi, Kiai Fathul menjelaskan agama Islam yang mengedapankan perdamaian itu tercermin dalam salat lima waktu. “Salat itu diakhiri dengan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri, itu artinya perdamaian harus disebarkan kemana-mana,” terang beliau.

 

Mengutip pribahasa “Tak kenal maka tak sayang,” Ag. Khoiruddin menambahi bahwa permasalahan tersebut dapat diatasi melaui forum-forum komunikasi antar umar beragama. “Artinya, inti dari perdamaian itu kenal terlebih dahulu,” ujar salah seorang wartawan yang ikut dalam rombongan itu.

 

Dan di akhir perbincangan itu, disimpulkan bahwa agama harus menjadi sumber perdamaian. Bukan sebagai alasan dari adanya konflik yang memecah belah.

 

(MFIH/Media-Tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: