Kebahagiaan hakiki

bahagia, Kebahagiaan hakiki, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Kebahagiaan adalah tujuan semua manusia. Tapi tak semua manusia hidup bahagia. Itu semua karena mereka tidak menemukan kebahagiaan yang hakiki. Mengejar sesuatu yang menurut mereka adalah kebahagiaan yang terkadang malah menyusahkan diri sendiri. Mereka mengorbankan apa saja yang menurut mereka itu pantas untuk dikorbankan demi mendapat kebahagiaan palsu tersebut. Sebuah syair mengatakan,

  إِذا شِئتَ أَن تَحيا سَعيداً مَدى العُمرِ

وَتَجعَلُ بَعدَ المَوتِ في رَوضَةِ القَبرِ

“Jika kau ingin hidup bahagia selamanya, dan dijadikan kuburannya sebaai taman surga.”

Syair di atas menjelaskan kehidupan sejati. Manusia akan menalami dua fase kehidupan: kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Di dunia ini banyak manusia yang hidup tapi sejatinya mati karena masih belum mengetahui tujuan keidupan dunia ini. Sebab itu, kebahagiaan sejati, akan dapat diraih dengan kehidupan sejati pula. Dengan begitu, hidup bahagia dan kuburannya menjadi taman surga dapat diperoleh seperti ungkapan syair di atas.

Dalam kehidupan dunia, manusia diperintah untuk melakukan ketaatan dan kebaikan serta menjauhi laraangan-Nya. Itu semua diperintakan agar kita mendapat sesuatu yang disebut dengan kebahagiaan hakiki. Di kehidupan dunia yang penuh tipu daya, manusia dituntut agar tetap melakukan ketaatan demi kebahagiaan mereka.

Banyak orang yang hidup dengan kehidupan yang tidak sejati. Dalam artian adanya mereka seperti tidak adanya. Mereka itulah orang orang yang bodoh, orang-orang yang tidak mempunyai ilmu. Sehingga ketika mendapatkan nikmat mereka tidak bersyukur dan ketika tertimpah musibah mereka mengeluh.  Kehidupannya pun akhirnya terasa sengsara dan penuh dengan nestapa. 

Orang yang berkehidupan tidak sejati berbeda dengan orang hidup dengan kehidupan yang sejati. Adalah mereka yang merasa dalam hidupnya tidak ada sengsara. Karena mereka adalah orang orang yang mempunyai ilmu, orang orang yang pintar. Sehingga, ketika tertimpah musibah mereka akan bersabar dan ketika mendapat nikmat mereka akan bersyukur.

Kebahagiaan Palsu

Dikisakan, suatu saat di hari kiamat, Dajjal muncul dan menawarkan dua hal: surga dan neraka. Surga Dajjal adalah neraka Allah dan neraka Dajjal adalah surga Allah. Salah seorang sahabat yang hadir pada saat Nabi berkisah begitu lantas berkata, “Berpura-pura ikut dengan Dajjal dengan memilih surganya saja.“ Nabi Menimpali, “Tidak, kau akan mendapat kecukupan sebagaimana orang yang beriman.” Itu adalah tipuan yang terbesar. Selain itu, masih ada tipuan-tipuan yang kecil di kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang ingin pergi menuju majelis taklim atau selawat, terdengar suara apa nikmatnya berselawat? Apa nikmat mendatagni majelis taklim? Tentu tak dapat diungkapkan. Karena kebahagiaan hakiki itu tidak didapat dengan materi, tetapi degnan ketenangan hati. Dan itu, hanya didapat oleh orang mukmin. Dalam sebuah hadis diriwayatkan,

عجباً لأمر المؤمن، إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن، إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له، رواه مسلم.

“Aku kagum dengan perilaku orang mukmin. Semua yang dia lakukan, semua yang dia dapatkan selalu baik baginya. Dan hal itu hanya terdapat pada diri orang mukmin. Jika dia mendapatkan nikmat, dia akan bersyukur. Ketika dia mendapat cobaan, dia pun akan bersabar. Dan semua itu baik baginya.” (H.R. Muslim).

Ketenangan Hati Mukmin

Tak peduli apapun yang menimpanya, seorang mukmin akan bahagia. Sebab hatinya selalu mengantarkannya menuju perasaan yang menbuatnya merasa lebih baik. Di kehidupan dunia yang singkat, orang mukmin bisa mendapatkan kebahagiaan dengan keimanannya itu. Dan diakirat kelak dia akan mendaparkan kenikmatan sejati karena nikmat terbesar itu adalah iman.

Setelah kehidupan di dunia, seorang manusia akan memasuki alam kubur. Di dalamnya ada siksa dan nikmat. Di alam kubur pula manusia memiliki tiga keadaan. Yang pertama, dia akan mengelilingi taman-taman surga dengan menaiki burung hijau. Yang kedua, dia mendapatkan siksa sambil diperlihatkan tempatnya kelak, yaitu di neraka. Orang yang sudah meninggal di alam kubur bisa mendengar suara orang-orang yang lewat disekitar mereka. Ketika yang lewat adalah keluarga mereka, mereka akan merasa senang sambil berharap mendapatkan doa darinya. Yang ketiga, mereka adalah jiwa-jiwa yang bebas, mengarungi dunia bertemu dengan leluhur dan guru-guru mereka. Ini hanya dialami oleh para nabi dan orang-orang pilihan.

Mengenai alam kubur, ada sebuah kisah tentang dua orang mati. keduanya dikubur dalam waktu yang sama. Kemudian suatu saat ada penggali kubur yang membongkar kuburan mereka. Dan ketika kuburan mereka sudah terbongkar, ternyata kuburan yang satu jasadnya masih utuh dan kuburan yang lain jasadnya sudah hancur. Padahal, kuburan tersebut bertempat di Baqi’, sebuah daerah yang sangat panas. Dari kisah tersebut, kita dapat mengetahi bahwa orang yang kuburannya menjadi taman surga, jasadnya akan utuh dan orang yang kuburannya tidak menjadi taman surga maka jasadnya akan hancur.

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadan oleh Kiai Ahmad Zainuddin Badruddin, M.M. (17/04/2021)

(Didin/Bisri/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: