Ulama Betawi dan Komandan Ferry

Ulama Betawi dan Komandan Ferri

 

Bersua dengan sesama santri, menyambung hubungan sejawat dan menambah koleksi ilmu baru yang bermanfaat, suasana yang lahir tepat di beranda masjid An-Nur II dalam acara rutin “Ahad Legi”,  (21/01/2018).

 

Usai membuka dengan Ummul-quran, Pemandu acara mempersilahkan beliau pengasuh, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M. Ag untuk sekilas menyambut para jamaah. Tentang suasana sekitar lokasi yang terlihat penuh dengan perangkat material, beliau berharap kepada jamaah memaklumi pembangunan yang masih setengah berdiri itu. “Kami juga berharap kepada hadirin bapak ibu, menyumbang serpihan doa untuk Almaghfurlah R.KH. M. Badruddin dalam peringatan haul pertama yang jatuh pada 17 Februari nanti.” Titip beliau di ujung sambutan.

 

Runtut kemudian Bpk. Ferri Muzawwad berkenan menyapa hadirin. Beliau adalah seorang Letkol yang kini menjadi komandan kodim 0818 Kab.Malang-Batu. Dalam sambutannya itu, beliau banyak bercerita tentang masa tugasnya. Diceritakan, beliau pernah berjuang dalam proses evakuasi peristiwa bencana alam tsunami Aceh, bahkan beliau juga merupkan saksi hidup akan kejadian luar biasa itu. Dan di Aceh pula, beliau adalah tokoh pembantai Kofi Anan, pelopor kekejaman di Aceh Selatan.

 

Pada hari itu, beliau yang berasal dari Tulungagung ini dikukuhkan menjadi salah satu dewan penasehat PP. An-Nur II, pesantren yang masyhur disebut sebagai pesantren wisata.

Penyampaian acara utama, KH. Rahmat Suyuti asal Tangerang memilik kesempatan berdiri depan mimbar. Nasehatnya tentang untungnya bersedekah sangat mendominasi kesuluruhan dari ceramahnya. Sampai pada suatu kisah sahabat di zaman Nabi, Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau yang telah diklaim nabi dalam daftar 10 penghuni surga. Namun, ia akan dihisab setelah orang-orang miskin.

 

Ketika terjadi perang Tabuk, beliau pernah membeli seluruh kurma busuk yang tak layak konsumsi, dengan niat menghabiskan hartanya kemudian menjadi orang miskin. Kurma tersebut sudah tidak rupa biji-bijian. Pemilik kebun masih sibuk terlibat dalam peperangan di Tabuk. Hingga suatu hari, usai semua kurma terbeli datanglah utusan raja Yaman, menawarkan harga 10 kali lipat untuk mendapatkan kurma busuk tadi. Lantas usaha beliau turun menjadi orang miskin gagal hanya sebab sedekah dengan membeli kurma basi.

 

Setelah berakhir dengan salam, pembawa acara beranjak memungkasi lewat kalimat penutupnya. Para jama’ah segera menunaikan shalat dzuhur berjamaah. Kemudian sebagai rasa syukur atas kehadiran, mereka disuguhi beberapa piring makanan untuk disantap mengobati lelah.

 

Pewarta               : Ilham Romadhon

Editor                    : Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: