Tidak Hanya Berjualan, Pedagang Juga Turut Mengaji

Tidak Hanya Berjualan, Pedagang Juga Turut Mengaji

Pengajian Ahad Legi merupakan salah satu kegiatan ikonik Pondok Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo. Seperti namanya, pengajian ini istiqomah digelar setiap hari Ahad Legi dan telah berlangsung selama 28 tahun sejak tahun 1989.

Dibalik kesuksesan digelarnya Pengajian Ahad Legi, banyak faktor-faktor yang turut mendukung suksesnya pengajian ini, salah satunya adalah Pasar Ahad Legi. Pendirian  Pasar Ahad Legi  ini dilatarbelakangi oleh rasa kepedulian Almaghfurlah Romo KH. M. Badruddin Anwar Al-Husaini kepada para jama’ah pengajian yang membutuhkan minuman, makanan, atau kebutuhan yang lain. Sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh untuk mencarinya.

Selain itu,  Almaghfurlah juga menginginkan para pedagang juga dapat mengikuti pengajian dan memahami akan ilmu-ilmu agama. Sehingga, mereka mengerti bagaimana tata cara jual beli yang baik, sesuai dengan syariat yang telah ditentukan, dan nantinya memperoleh rezeki yang halal barokah.

“Alhamdulillah. Selain mengikuti pengajian, kami disini juga bisa turut  berjualan”, ujar Bpk. Sarman, pedagang songkok asal  Pakisaji

Menurut penuturan Ust. Imam Baidhowi, salah satu pengurus pengajian Ahad legi, Almaghfurlah pernah berkata, “Aku ngekei wong dodol ndek kene bukane aku ngongkon wong dodolan cek akeh sing dodolan, tapi aku sakno marang jamaah sing butuh ngombe supoyo gak kangelan golek, wong dodol iku yo cek iso melok ngaji barang”, (Saya memeberi pedagang di sini bukan saya memerintahkan pedagang agar banyak yang jualan di sini. Tapi saya kasihan kepada jama’ah yang membutuhkan minum supaya tidak kesulitan mencarinya, pedagang itu juga bisa ikut pengajian juga).

Saat ini, ada sekitar 179 pedagang yang terdaftar dan  berjualan setiap bulanya. Rencananya, pihak panitia berencana memperketat prosedur perizinan, mengingat jumlah pedagang yang sedemikian banyaknya dan masih akan terus bertambah.

*La-in Syakartum La-aziidannakum*

Pada Pengajian Ahad Legi bulan ini, yang jatuh pada tanggal 08 Oktober 2017, Dr. KH. Fathul Bari M. Ag mewakili pihak keluarga memberikan sambutan kepada seluruh Jama’ah, santri dan alumni yang hadir. Seperti pada Ahad Legi biasanya, pengajian ini digelar di depan masjid An-Nur 2.

Dalam sambutannya, KH. Fathul menjelaskan tentang pentingnya bersyukur kepada Allah. Di Awal sambutan beliau menuturkan, Nabi Musa berpuasa Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan kepadanya dari kejaran Fir’aun yang ditenggelamkan oleh Allah pada hari itu. Jadi, bukan umat nabi Muhammad saja yang memulyakan hari Asyuro, mulai masa kenabian Nabi Musa dan ummatnya pun juga turut memulyakan hari tersebut.

Sebelum menutup sambutannya itu, KH. Fathul berpesan, “Jika ingin menjadi orang yang kaya, maka perbanyaklah syukur. Janganlah kalian meceritakan kesusahan kalian kepada orang lain, tapi ceritakan kesusahanmu kepada Allah. Berbagilah kebahagiaan kepada orang lain, agar orang lain turut merasakan kebahagianmu”.

 

*Bentengi Generasi Muda dengan Ilmu Tauhid*

Ghufran Hadi, Kyai yang juga alumni Pondok Pesantren An-Nur 2 didapuk menjadi pembicara dalam pengajian kali ini. Beliau banyak menekankan akan pentingya membekali generasi muda kita dengan ilmu dan akidah yang benar. “Jangan sampai generasi muda kita bodoh dan terbelakang, ajari mereka dengan ilmu dan akidah yang benar” nasihat beliau.

Tauhid menjadi ilmu yang wajib pertama kali diajarkan kepada generasi muda, supaya iman mereka mempunyai iman yang kuat. Karena, dengan lemahnya iman, dapat menjerumuskan ke arah kemurtadan.

Selain memperkuat iman mereka, orang tua harus berperan dalam menjaganya agar mereka tidak keluar dari lingkaran Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Sebab, di jaman yang serba modern ini Banyak generasi-generasi muda yang salah dalam hal pergaulan. Dampaknya, mereka masuk ke dalam golongan-golongan yang tidak benar. “Jika kita tak membentenginya dengan ilmu Tauhid, maka keimanan generasi muda kita akan lemah”, ujar Beliau.

Dan peran orang tua dalam mendidik anaknya itu diperkuat oleh salah satu hadist yang beliau sampaikan, yaitu yang artinya, barang siapa yang mendapatkan rezeki dari allah berupa seorang anak, maka wajib baginya untuk mendidiknya dan mengajarinya adab, maka orang tua tersebut akan dekat dengan surga. Dan sebaliknya, apabila orang tua tersebut membiarkan anaknya bodoh, maka orang tua juga menanggung dosa yang diperbuat anaknya.

Di akhir mauidlohnya, beliau juga menjelaskan tentang pentingnya bersedekah di bulan Muharrom ini, terlebih kepada yatim piatu. Untuk mengakhiri pengajian Ahad Legi kali ini, Kyai Ghufran membacakan do’a dan dilanjutkan dengan sholat Dhuhur berjamaah.

(Bi’i/El-Hamid/MFIH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: