SILENT ENEMY vs TEMAN SILENT

SILENT ENEMY vs TEMAN SILENT

Hidup cuma sekali, buat berarti
(Ustadz Abdul Somad, Lc. DESA.)

Asal langkahmu tidak menyalahi aturan Allah, tetaplah melangkah. Bila gerakmu tak membuat murka Rasulullah, tetaplah bergerak. Banyak yang akan suka pada gerak dan langkahmu, dan pasti ada saja yang tidak suka. Mustahil kau membuat seluruh orang menyukaimu; begitu kata Imam Al-Ghazali.

Dengan kemampuan olah kata, kau membius banyak manusia. Yang sedang terbuai dengan perilaku nista, lambat laun sadar dan segera berhijrah. Menjadi lebih baik.

Dengan kepiawaianmu menulis, kau mempermainkan emosi para pembaca. Lalu, satu persatu dari mereka berubah menjadi manusia yang lebih baik dan produktif.

Ada banyak profesi di dunia ini. Dengan menekuni profesi masing-masing, kita tetap bisa menjadi da’i (mengajak kebaikan). Mereka yang belum tersadarkan, juga menggeluti bermacam profesi. Pengajar, tukang parkir, sopir, penjual, makelar, bahkan kyai. Jadilah dai untuk sesama profesimu.

Tak perlu kau risau: Saat aku berbicara, tak ada yang serius mendengarkanku. Saat aku menulis di media sosial, yang like tak sampai 50. Apalagi yang membaca? Tak ada pula yang mau share?

Kita tidak bicara kuantitas atau jumlah. Kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya pendukung; begitu kata Joger, kaos jelek dari pulau dewata itu.

Sekian lama, saya menggeluti dunia medsos, saya baru sadar. Bahwa, satu orang tersadarkan dengan tulisan kita, itu melebihi kepuasan saat follower kita mencapai ratusan ribu.

Yakinlah, bahwa dari sekian teman maya dan followermu ada yang suka diam-diam. Diam-diam, mereka mengintip postinganmu. Diam-diam, mereka membaca tulisanmu. Diam–diam, mereka menyimpan foto dan gambar postinganmu. Mereka adalah silent friends. Teman dalam diam. Justru, teman model begini harus kita banggakan.

Bukankah, sangat banyak sekali teman kita di dunia nyata, tapi mereka tak sempat bersua dengan kita. Tapi, mereka tak melupakan kita dalam doa-doanya.

Dalam dunia medsos, bahkan boleh jadi musuh-musuhmu selalu mengintai dan mengintip apapun gerak-gerikmu. Kepo. Kepo banget. Tapi, mereka gengsi untuk sekedar menekan tombol like, apalagi tombol share.

Teruslah bergerak!
Teruslah melangkah!
Teruslah menulis!
Teruslah berbicara!
Jangan berputus asa!
Jazakumullah Ahsanal Jaza’.

#helminawali #pesantrencahaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: