PUASA ORANG-ORANG KHUSUS

PUASA ORANG-ORANG KHUSUS
Ramadhan adalah bulan yang mulia, baik malam dan siangnya dilipat gandakan pahala dan amal baik yang dikerjakan serang hamba. Dan pada malamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan yang malam ini tidak dimiliki oleh umat lain selain umat Nabi Muhammad. Kitapun telah menjalankan ibadah ramadhan sudah sekian hari. Apa yang kita rasakan selama ini ?

Sudah berapa kali kita  maksiat kepadaNya di bulan ini ? 

Lantas jika kita hidup seperti ini terus menerus, bekal apa yang akan kita bawa ketika menghadap Allah SWT. Jika kita menginginkan dunia lebih banyak mengapa dalam mengejar akhirat sering kali berpasrah kepada takdir.
Sebuah Renungan  tasawuf tingkatan puasa menurut Imam Ghazali didalam kitab Ikhya’ Ulumuddin.
Pertama, Puasanya orang awam

ﺃَﻣَّﺎ ﺻَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻌُﻤُﻮﻡِ : ﻓَﻬُﻮَ ﻛَﻒُّ ﺍﻟْﺒَﻄْﻦِ ﻭَﺍﻟْﻔَﺮْﺝِ ﻋَﻦْ ﻗَﻀَﺎﺀِ ﺍﻟﺸَّﻬْﻮَﺓِ

“Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menunaikan syahwat.”

Maksudnya, puasa umum atau puasa orang-orang awam adalah “sekedar” mengerjakan puasa menurut tata cara yang diatur dalam hukum syariat. Seseorang makan sahur dan berniat untuk puasa pada hari itu, lalu menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan badan dengan suami atau istrinya sejak dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jika hal itu telah dikerjakan, maka secara hukum syariat ia telah melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan. Puasanya telah sah secara dzahir dari segi ilmu fikih.

Kedua, Puasa khusus

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺻَﻮْﻡُ ﺍﻟْﺨُﺼُﻮﺹِ ﻓَﻬُﻮَ ﻛَﻒُّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﻭَﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥِ ﻭَﺍﻟْﻴَﺪِ ﻭَﺍﻟﺮِّﺟْﻞِ ﻭَﺳَﺎﺋِﺮِ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺭِﺡِ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺂﺛَﺎﻡِ

“Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.”

Tingkatan puasa ini lebih tinggi dari tingkatan puasa sebelumnya. Selain menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan suami istri, tingkatan ini menuntut orang yang berpuasa untuk menahan seluruh anggota badannya dari dosa-dosa, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Tingkatan ini menuntut baik dzahir maupun batin untuk senantiasa berhati-hati dan waspada.

Ia akan menahan matanya dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan telinganya dari mendengarkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan lisannya dari mengucapkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan tangannya dari melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan kakinya dari melangkah menuju hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan seluruh anggota badannya yang lain ia jaga agar tidak terjatuh dalam tindakan maksiat.

Tingkatan puasa ini adalah tingkatan orang-orang shalih.

Ketiga, Puasa sangat khusus

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺻَﻮْﻡُ ﺧُﺼُﻮﺹِ ﺍﻟْﺨُﺼُﻮﺹِ : ﻓَﺼَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬِﻤَﻢِ ﺍﻟﺪَّﻧِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻓْﻜَﺎﺭِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﻮِﻳَّﺔِ ﻭَﻛَﻔُّﻪُ ﻋَﻤَّﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺑِﺎﻟْﻜُﻠِّﻴَّﺔِ

“Puasa sangat khusus adalah berpuasanya hati dari keinginan-keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan hati dari segala tujuan selain Allah secara totalitas.”

Tingkatan ini adalah tingkatan puasa yang paling tinggi, sehingga paling berat dan paling sulit dicapai. Selain menahan diri dari makan, minum dan berhubungan, serta menahan seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat, tingkatan ini menuntut hati dan pikiran orang yang puasa untuk selalu fokus pada akhirat, memikirkan hal-hal yang mulia dan memurnikan semua tujuan untuk Allah semata.

Puasanya hati dan pikiran, itulah hakekat dari puasa sangat khusus. Puasanya hati dan pikiran dianggap batal ketika ia memikirkan hal-hal selain Allah, hari akhirat dan berfikir tentang (keinginan-keinginan) dunia, kecuali perkara dunia yang membantu urusan akhirat. Inilah puasa para nabi, shiddiqin dan muqarrabin. (Imam Abu Hamid al-Ghozali, Ihya’ Ulumiddin, 1/234)
Pembaca yang dimuliakan Allah.

Nabi SAW mewanti-wanti umatnya;
ﺭُﺏَّ ﺻَﺎﺋِﻢٍ ﺣَﻈُّﻪُ ﻣِﻦْ ﺻِﻴَﺎﻣِﻪِ ﺍﻟْﺠُﻮﻉُ ﻭَﺍﻟْﻌَﻄَﺶُ، ﻭَﺭُﺏَّ ﻗَﺎﺋِﻢٍ ﺣَﻈُّﻪُ ﻣِﻦْ ﻗِﻴَﺎﻣِﻪِ ﺍﻟﺴَّﻬَﺮُ

“ Betapa banyak orang berpuasa namun balasan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga semata. Dan betapa banyak orang melakukan shalat malam (tarawih dan witir) namun balasannya dari shalatnya hanyalah begadang menahan kantuk semata. ” (HR. Ahmad no. 8856, Abu Ya’la no. 6551, Ad-Darimi no. 2720, Ibnu Hibban no. 3481 dan Al-Hakbim no. 1571.) 
Semoga kita menjadi hamba Allah yang lebih baik.

Tulisan ini bukan untuk mengajak pembaca membatalkan puasa  ramadhan, tapi untuk muhasabah diri, berpikir dan berangan  bagaimana kita bisa lebih tinggi dalam mencapai tingkatan dan derajat luhur di sisi Allah SWT.
Ramadahan Kareem.
Salam Takdzim

Ahmad Zain Bad.

Pondok Pesantren annur2.net Bululawang Malang.

Facebook.com/annur2malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: