Pasar Waqi’ah

Pasar Waqiah An-Nur yang di ridhoi

 

Tatkala kita mendengar kata “Pasar” apa yang kita ketahui tentangnya? Mungkin kencenderungn dengan; tempat seseorang melakukan kegiatan tukar menukar sesuatu (uang dengan barang) sesuai dengan keinginan yang ada di benak sanubarinya, bahkan “pasar” itu pun sendiri memiliki etimologi jamak, yaitu; banyak sekali sesuatu yang ada di dalamnya mulai dari makanan-makanan pokok, barang-barang, dan masih banyak lagi.

Sedangkan “Al-Waqiah” adalah nama salah satu surat di dalam Al-Qur’an yang telah dituturkan Rasulullah di dalam hadits beliau, yakni سورة الغنى (surat kekayaan).

Dari celetukan kami di atas, Maka pasar waqiah bisa ditarik simpul, yakni kecendurangan para qori’in untuk membaca sebanyak-banyaknya, atau dengan intensitas maksimal dan mereka saat membacanya bagaikan melaporkan semua kebutuhan hidupnya pada robbul izzati.

Dimulai sekitar tahun 1990, yang betempat di area dalem barat, Kyai kita Almaghfrulah K.H. M. Badruddin Anwar mendirikan sebuah  majlis pembacaan suratul waqi’ah yang dinamai “Pasar Waqiah” Sebanyak 41 kali bacaan suratul waqiah itu dibaca secara bersama-sama, dan kebetulan pada waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Dengan berkat kesabaran, dan keistiqomahan yang mereka lakukan, pada tahun 1994 pasar waqiah mulai menyebar ke kampung-kampung sekitar seperti desa Kasri, tepatnya di dusun Kerajan dengan hanya membaca sebanyak 5 kali. Tahun 1995, jama’ah pasar waqiah mulai mengalami perkembangan yang semula hanya beberapa orang, hingga menjadi 30 korwil seperti: kedung kandang, Gondang Legi dan masih banyak lagi. Pada tahun 1996, dimulailah pasar waqiah  pada malam Ahad kliwon, yang bertempat di masijd. dari masyarakat sekitar, yang menjadi pelopor adalah Bapak Mujib (Mantan banser) yang pada saat itu menjadi Banser daerah Bululawang. Untuk pelopor yang berasal dari pesantren sendiri terdapat cukup banyak, seperti; K.H Damhuji, Ust. Yahdi dan masih banyak lagi. Kegiatan itu semua berlatar belakang tatkala pada tahun 1990, kyai kita Almaghfurlah mendapat isyarah bahwa pada tahun 1998 negara akan mengalami krisis ekonomi (krisis moneter), namun dengan adanya ajakan dari sang kiyai, yang sudah berjalan selama 8 tahun, sehingga pada tahun 1998 para santri, alumni dan masyarakat, yang ikut pasar waqiah tenang-tenang saja saat menghadapi kejadian itu.

Meskipun dengan adanya niat sang kiyai yang begitu mulia, masih saja ada seseorang maupun oknum, yang kurang menerima adanya Pasar Waqiah itu, seperti :

Kata mereka”Waqiah itukan menceritakan tentang kiamat, terus apa ta’alluq (hubungannya) dengan rizky?” Jawabannya adalah “orang itu tatkala memahami apa-apa yang terjadi di dalam hari kiamat ; seperti pembagian tiga kelompok :As-sabiqunal muqarrabun, Ashabul yamin, dan Ashabus syimal, maka akan cenderung membuatnya bertaqwa, dan tatkala manusia itu sendiri bertaqwa, maka akan dicucukpi segala kebutuhan jasmani maupun rohaninya, seperti yang terdapat di dalam hadits nabi”.

Mereka mengira bahwa orang-orang kaya itu adalah orang yang punya banyak uang, mobil, dan lain lain. Padahal yang dimaksud kaya itu ialah orang yang sehat jasmani maupun rohani. Syukur- syukur bisa kaya hati. Sehingga, ketika ada masyarakat yang sudah mengikuti kegiatan pasar waqiah selama berthaun-tahun, namun rezekinya tetap saja tak ada perubahan, maka masyrakat ini berhenti mengikuti pasar waqiah.

Kyai kita, Almaghfurlah pernah dawuh masalah arti dari orang kaya yaitu : ”orang yang menginginkan sesuatu, dan sama Allah ditakdirkan untuk memiliki sesuatu yang diinginkan, dan dibutuhkan itu”. Maka tatkala mengikuti apa yang telah didawuhkan beliau tadi, orang yang kaya bukan berarti punya uang, mobil banyak, namun orang yang ditakdirkan memiliki apa yang dia inginkan, dan ia butuhkan di dalam hatinya.

 

Dan alhamdulillah sekarang banyak alumni-alumni yang meneruskan perjuangan beliau di dalam kegiatan pasar waqiah, salah satunya ialah bapak Yono Ngadiono di Semarang yang mendirikan jama’ah Pasar Waqiah.

Dengan sedikit limpahan sejarah tentang pasar waqiah itu semoga hati kita terdorong untuk mengikuti, meneladani perjuangan beliau. lebih-lebih bisa meneladani kandungan isi dari surat waqiah, dan supaya kita termasuk minal muttaqin, sehingga rizki kita di perluas oleh yang maha kuasa seperti yang dituturkan oleh Nabi Saw. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: