Membuat Mi Instan Saja Tidak Instan

Membuat Mi Instan Saja Tidak Instan

 

Kompor-kompor berbahan bakar gas itu telah diduduki oleh panci-panci besar yang siap merebus ribuan mie instan yang akan dibagikan secara gratis. Asap-asap dari air yang mendidih itu juga mengepul di 5 stan yang didirikan di sebelah utara panggung event “Salam Santri” yang digagas oleh J-TV bersama Indomie sejak kemarin malam. Terlihat 20 pegawai Indomie yang didatangkan langsung dari pabrik mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang merebus mie, meracik bumbu, dan menata tempat makan secara rapi di meja stan.

Mulai tercium aroma Indomie goreng ketika bumbu-bumbu diaduk rata dengan mie yang mulai diangkat dari panci. Di bawah stan yang disoroti sinar matahari itu, rasa gerah mulai terasa. Terlihat dari kucuran keringat yang tertahan di balik masker yang menutupi wajah para koki. Tetapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi semangat para koki yang siap membagikan mie masakannya itu kepada para santri.

Barulah seusai acara jalan sehat yang dilakukan para santri An-Nur 2 di lingkungan pondok pesantren ini, para koki dan asistennya mulai terlihat kualahan. Mengingat banyaknya jumlah santri yang mengantri. Dibantu dengan beberapa mahasiswa STIKK, para santri berjubel untuk bergantian mendapatkan bagiannya masing-masing.

Indomie adalah salah satu produk mie instan Indonesia yang mulai banyak dikenal di luar negri. Di usianya yang menginjak 45 tahun ini, Indomie telah banyak memperoleh penghargaan. Baik dari dalam negri maupun luar negri. Tentulah pencapaian itu tidak dicapai seinstan memasak produk mie ini. Butuh sebuah proses panjang dan melelahkan.

Tetapi, banyak orang di dunia ini yang mencari ‘jalan tikus’ untuk mencapai kesuksesan yang instan. Berbagai cara tak lazim pun dilakukan. Seperti memelihara Tuyul, pergi ke tempat-tempat yang dianggap kramat, dan upacara mistis lainnya.

Padahal, tidak ada yang instan di dunia ini. Memasak mie instan sekalipun, masih dibutuhkan beberapa cara yang harus dilakukan. “Untuk membuat mie instan saja tidak instan, masih harus membuka bungkusnya, merebus mi dan seterusnya”, jelas Dr. KH. Fathul Bari M. Ag dalam sambutannya pada acara hari ini.

Maka dari itu, proses itu harus dilakukan sejak di usia muda. Dan sudah seharusnya pemuda-pemuda Indonesia untuk lebih mengembangkan bakatnya sebagai bekal di masa mendatang. “Kita adakan acara ini, untuk mengisi kegiatan positif bagi pemuda-pemuda Indonesia, khususnya para santri An-Nur 2” ujar Pak. Abduh selaku koordinator event di akhir sambutannya.

 

Pewarta               : Mochammad Fajar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: