Mengapa Saya Harus Menulis?

Mengapa Saya Harus Menulis?

Untuk jawaban pastinya, saya masih belum tahu. Ada banyak alasan, tetapi saya rasa alasan-alasan itu masih belum fix. Pada tulisan sebelumnya, saya menuliskan banyak hal tentang alasan. Pentingnya sebuah alasan yang mendasari suatu hal. Tetapi, tetap saja untuk hal ini saya belum bisa memberikan alasan yang pasti. Dan setidaknya saya tidak seperti orang jahiliyyah yang ketika ditanya, “mengapa kau menyembah berhala?” dan ia menjawab, “Karena leluhur saya menyembah berhala”.

Saya tidak seperti itu. Saya menulis banyak hal. Terkadang puisi, cerpen, opini, artikel dan tulisan-tulisan lain yang saya tidak tahu bisa disebut apa. Seperti tulisan ini. Selama ini, saya menulis karena tuntutan hati. “ingin saja”, sebuah alasan yang masih membutuhkan pertanyaan lain dan dengan jawaban yang sama. “Mengapa ingin menulis?” , “ya, ingin saja”. Akan terus seperti itu.

Saya menulis bagaikan tinta yang tumpah dari ujung pena di atas kertas. Tergores begitu saja. Atau mungkin ejakulasi inspirasi setelah beberapa kali otak saya beronani. Mengapa beronani? Karena memang tidak sedikit inspirasi dari tulisan saya yang dipaksakan keluar. Jadi tak semudah mimpi basah yang keluar begitu saja.

Seperti contoh, saya jadi “ingin saja” menulis tentang FDS, yang beberapa waktu lalu masih viral di media sosial. Saya belum tahu persis tentang permasalahan tersebut, karena rasa ingin saja itu muncul, saya membaca banyak artikel berkaitan dengan pro-kontra FDS. Dan lahirlah sebuah karya dari hasil onani bahan tulisan tersebut.

Dan tidak jarang pula saya menulis beberapa karya pesanan. Memang tidak dari hati, tetapi juga tidak bisa dibilang jelek. Buktinya, si pemesan merasa puas. Yang paling sering puisi, tetapi ada juga yang meminta untuk artikel dan opini. Itu semua gratis, mereka memesan bukan berarti membeli, lebih tepatnya meminta.

Memang tidak nyaman, sesuatu yang kita lakukan tanpa disertai adanya kesenangan dalam hati tidaklah nyaman. “kalau saya tidak suka, terus kenapa?”. Tetapi hal itu saya terjang saja dengan terus menulis.

Tuntutan hatilah yang paling berpengaruh terhadap tulisan saya. Bisa dilihat dalam setiap tulisan saya, kualitasnya bergantung pada kesertaan hati. Saya merasa sayang sekali kalau apa yang sedang saya fikirkan dan saya rasakan hanya terfikir dan hanya terbatin. Saya selalu ingin merasakan rasa yang tersimpan itu dalam sebuah karya tulis.

Saya selalu bisa menjelaskan dan mempertanggung jawabkan setiap apa yang saya tulis karena memang itulah yang sedang saya rasakan. Entah senang, sedih, galau dan jatuh cinta. Yang terakhirlah yang paling sering meneteskan tinta kasih sayang pada kertas-kertas yang selalu merindu.

Jadi, saya menulis karena tuntutan hati, meskipun hingga saat ini tak satupun tulisan saya masuk kepada hati pembaca. Setidaknya, pembaca bisa tahu dengan apa yang telah saya fikirkan dan rasakan. Itu saja. Kalau seoarng coffe lover mengatakan, mau ngopi ngopi saja –tak perlu berfikir tentang nilai-nilai filosofi dalam kopi. “ya ngopi saja” sama dengan “ya ingin saja”, “ya nulis saja”.

(M.FIH)

annur2.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: