Islam, Angin Sejuk Perdamaian Dunia

Islam, Angin Sejuk Perdamaian Dunia

 

“Rasulullah itu mendirikan daulah untuk menjaga darah, bukan menumpahkan darah. Kalau ada yang ngakunya mendirikan khilafah tapi dengan cara menumpahkan darah, maka jela-jelas ini salah pikir” (Yudi Zulfahri)

 

Kucuran keringat yang bercampur dengan rasa takut menyelimuti pasukan anti teror yang berperang membasmi teroris di negaranya. Dentuman bom dan granat senantiasa menemani cita-cita indah mereka tentang perdamaian.

 

Terhitung sejak bulan Oktober hingga November ini, koran harian ‘Kompas’ secara rutin mengabarkan konflik terorisme yang terjadi di dunia, mulai konflik di Suriah, Irak, Filipina hingga teror truck di New York, AS. Kerusuhan yang didalangi oleh NIIS (Negara Islam Irak dan Syuriah) atau ISIS ini, dilatar belakangi oleh ideologi islam radikal yang mencita-citakan negara berkedaulatan islam dengan jalan kekerasan. Dampaknya, agama islam dicap sebagai agama teroris yang tidak mengenal toleransi. Sehingga, virus Islamophobia terus berkembang di negara-negara barat.

 

Organisasi ini terus mengalami perkembangan lantaran pasukan jihadis yang tidak hanya berasal dari negara Timur Tengah, melainkan juga dari negara-negara barat dan Asia Tenggara. Tak terkecuali Indonesia. Tentu saja para pemuda-pemudilah yang menjadi sasaran dakwahnya. Mengingat para remaja seusia itu masih memiliki pemikiran yang labil dan belum memahami ajaran islam secara mendalam.

 

Untuk melancarkan dakwahnya, kelompok ekstrimis ini memanfaatkan perkembangan tekhnologi yang dikuasai oleh para pemuda milenial. Terutama media sosial. Banyak sekali bertebaran akun-akun mereka yang menyajikan konten-konten persuasif tentang urgensi menjadi jihadis dengan bergabung dengan mereka. Dan karena lemahnya ideologi beragama para pemuda itu, tidak sedikit dari kaum pemuda yang tertarik dan bergabung dengan mereka.

 

Islam Bukan Teroris, Islam Adalah Rahmat

Padahal pada hakikatnya, tindak terorisme itu tidak dilakukan oleh kebanyakan umat islam yang benar-benar mengamalkan nilai keislamannya. Karena sesungguhnya, Islam diturunkan ke bumi sebagai sebagai Rahmatan Lil ‘Alamiin. Yang artinya kasih sayang bagi seluruh alam semesta dan menebarkan salam perdamaian kepada seluruh mahluk di dunia ini. Islam yang sesungguhnya adalah islam yang mencintai perdamaian dan toleransi. Dan pada konsepnya, agama ini memiliki ajaran yang sangat agung, seperti ukhwah (Persaudaraan), Itihadiyah (Persatuan), Salam ( Perdamaian), ‘Adalah (Keadilan), dan Musyawaroh (Demokrasi).

 

Dibuktikan dengan realitas yang terjadi saat ini. Tidak satupun negara yang mayoritas penduduknya muslim mendiskriminasi penduduk lain yang beragama non islam. Seperti yang terjadi pada Bangsa Indonesia. Republik Indonesia adalah negara yang berdiri diatas kepluralisan masyarakatnya dalam beragama. Pemeluk non islam yang ada di Indonesia memiliki hak setara dengan penduduk muslim sebagai mayoritas. Di kancah politik sekalipun, semua agama yang secara de jure diakui di Indonesia, berhak menempati kursi pemerintahan.

 

Justru sebaliknya, banyak kita saksikan umat muslim yang berada di negara mayoritas non islam, tidak hidup dengan keadilan dan kesejahteraan beragama. Ribuan muslim Rohingnya yang mengungsi di Bangladesh menjadi saksi nyata adanya diskriminasi terhadap warga muslim sebagai pemeluk agama minoritas di negara asalnya, Myanmar.

 

Saat islam masuk ke Indonesia, saat itu pula folklor keislaman berkembang hingga saat ini. Terlepas dari banyaknya teori masuknya islam di Indonesia, agama ini masuk melalui jalan damai yang dibawa oleh para pedagang dan sufi.

 

Indonesia adalah negara agraris dan maritim yang menuntut terbentuknya berbagai macam suku bangsa dan budaya. Dalam menghadapi hal itu, islam dapat membedakan mana ajaran dan mana adat istiadat. Tanpa menghilangkan adat istiadat yang telah mendarah daging di masyarakat, agama islam masuk dan melebur di dalamnya. Sehingga, ajaran ini dapat diterima dengan baik tanpa adanya pertikaian. Seperti yang telah dikemukakan oleh KH Abdurahmah Wahid, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita menjadi budaya Arab, bukan untuk “aku” jadi “ana”, “sampean” jadi “antum”, “sedulur” jadi “akhi”,. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya tapi bukan budaya Arabnya”.

 

Islam selalu mengajarkan kepada penganutnya untuk bersikap toleransi terhadap orang lain. Tidak mudah menyalahkan dan mengedepankan nilai kemanusiaan. Karena pada hakikatnya, tinggi rendahnya nilai peribadatan manusia kepada Allah SWT sangat bergantung pada seberapa jauh seseorang dapat mewujudkan perdamaian hidup bagi sesamanya, bukan semata-mata berdasar pada sejauh mana individu itu dapat berhubungan dengan Allah melalui ritualitas formal.

 

Dan pada hakikatnya, dalam menghadapi perbedaan, agama islam berpegang teguh pada nilai ukhwah (Persaudaraan) yang terkandung dalam ajarannya. Perbedaan yang ada diselesaikan melalui jalur musyawarah mufakat. Bukan dengan jalan yang dapat memutus hubungan persaudaraan, seperti mengkafirkan orang lain yang tidak sependapat dengan ideologinya.

 

Perbedaan itu sendiri tidak terlepas dari agama islam. Dalam ajarannya, banyak kita menemui perbedaan pendapat antar ‘ulama, seperti Ibnu Hajar dengan Imam Romli dan Ulama Bashroh dengan Ulama Kuffah. Tetapi, itu hanya sebatas perbedaan pendapat tanpa adanya permusuhan. Satu sama lain menghormati perbedaan itu. Yang terpenting, masing-masing dari mereka mempunyai dalil tersendiri.

 

Maka dari itu, diturunkannya agama islam ke dunia bukan sebagai teroris yang mengusik perdamian. Melainkan melalui ajarannya, agama Islam adalah agama yang menebarkan kasih sayang bagi semua mahluk. Serta sebagai angin sejuk yang menyebarkan perdamaian di seluruh dunia ini.

 

(Mochammad Fajar Izzul Haq)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: