Habib Muhammad : Santri Harus Berbakti Kepada Orang Tua

Habib Muhammad : Santri Harus Berbakti Kepada Orang Tua

 

Sholat Idhul Adha kali ini, pesantren An-Nur 2 kedatangan tamu seorang habib. Beliau adalah, Habib Muhammad Bin Ahmad Al-Habsyi asal Bunul yang hadir sebagai imam sekaligus khotib sholat Idul Adha kali ini. Setelah menjadi imam sholat, beliau menyampaikan khotbahnya di mimbar masjid An-Nur 2.

 

Beliau bertutur, sholat  Idul Adha lebih utama daripada sholat Idul Fitri, dikarenakan sholat Idul Adha bertepatan  dengan pelaksanaan ibadah haji dan pada saat itu kita juga diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban, sebagaimana yang telah termaktub dalam Al-Quran, surat Al-Kautsar ayat 2, Fa shalli lirabbika wanhar, maka shalatlah karena Tuhanmu dan sembelihlah kurban. Dimana orang yang berkurban di jalan Allah, ia akan dirahmati dan dosanya diampuni sebelum darah hewan kurbannya itu menyentuh bumi. “Menyembelih hewan kurban juga salah satu amalan yang dapat mengundang turunya rahmat Allah”, ujar beliau.

 

Beliau juga menceritakan kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintah oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya itu, Nabi Ismail. Dan Nabi Ismail AS-pun menurut dengan pasrah lantaran itu adalah perintah dari Allah. Begitulah contoh anak sholeh yang senantiasa berbakti pada orang tua. Tiada perlakuan yang lebih mulia melebihi berbakti pada orang tua, karena berbakti adalah amal paling utama dalam islam. Peristiwa itu juga merupakan ujian dari Allah kepada Nabi Ibrahim AS akan kecintaannya kepada tuhannya.

 

Sebelum Nabi Ibrahim memutuskan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail, terlebih dahulu beliau bermusyawarah dengan putra kesayangannya itu. “nah, musyawarah seperti inilah metode pendidikan terbaik kepada anak” ujar Habib Muhammad.

 

Yang paling beliau tekankan dalam khotbahnya berkaitan dengan bakti kepada orang tua. Meneladani kisah dari Nabi Ismail as, berbakti merupakan salah satu cara untuk menggapai ridho-Nya. Sebuah hadist berkata, bahwa doa orang tua kepada anaknya ibarat do’a nabi pada umatnya. Maka sudah menjadi fakta, bila anak yang sukses bukanlah anak durhaka, dan anak yang berhasil bukanlah anak yang selalu menyakiti orang tuanya. Melainkan anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

 

Beliau juga mengingatkan kepada semua santri bahwasannya, seorang anak akan lupa kepada kedua orang tunya ketika ia sudah menikah dan mencapai kesuksesan. Maka dari itu, hal seperti itu jangan sampai terjadi. Beliaupun menutup khotbahnya dengan do’a yang ditujukan kepada kedua orang tua yang telah melahirkan kita supaya diberikan umur panjang dan diampuni segala dosa-dosanya.

 

(M.F/Bi’i/Elh)

Save

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: