Besi versus Kayu

 

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke suatu tempat di pinggir bendungan. Tempat itu sering dikenal dengan sebutan Dempok desa Gampingan kecamatan Pagak kabupaten Malang. Sudah sejak tahun 2000, saya memiliki seorang teman yang tinggal di sana. Dan selama saya tinggal di malang, saya belum pernah berkunjung ke sana. Maka, dalam momentum puasa ini, tentunya sekaligus mencari buka puasa gratis, saya meluangkan sedikit waktu untuk berkunjung ke sana. Bagi saya, tempat tersebut memberikan kedamaian tersendiri bagi seseorang, apalagi bagi para penulis. Tempat ini sangat sunyi, senyap, namun dengan udara segar dan pemandangan alami. Lalu-lalang orang tidak begitu ramai, hanya segelintir orang yang mencari ikan atau mereka yang mau membelinya. Usai berbuka puasa bersama, saat hendak berpamitan, saya melihat di depan rumah teman saya sebuah perahu yang belum jadi. Perahu itu terbuat dari beberapa papan kayu. Lantas, muncul pertanyaan yang menggelitik pikiran saya; lebih hebat mana antara kayu dan besi?

Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut, setidaknya ada dua aspek yang harus dianalisis. Pertama, seberapa banyak kata kayu dan besi disebut dalam al-Qur’an atau hadis Nabi? Tetapi, untuk meneliti berapa banyak kata tersebut dalam hadis Nabi merupakan hal yang sangat sulit, sebab secara kuantitas hadis masih debatable. Tidak ada jumlah pasti berapa hadis Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, saya lebih memfokuskan pada penelitian kata ini dalam al-Qur’an. Kedua, aspek manfaat-madlarat dan positif-negatif juga menjadi fokus analisis dalam tema kayu dan besi ini.

Besi dalam bahasa Arab disebut hadīd. Kata hadīd dalam al-Qur’an hanya ditemukan sebanyak tiga kali; QS. Al-Kahfi ayat 96 (menceritakan tentang Dzulqarnain), QS. Al-Saba’ ayat 10 yang mengisahkan tentang mukjizat Nabi Daud yang bisa melunakkan besi, dan QS. Al-Hadīd ayat 25 yang menjelaskan tentang nilai manfaat besi. Di samping disebutkan secara acak tersebut, kata hadīd juga dijadikan nama surat dalam al-Qur’an, yaitu surat nomor limapuluh tujuh (57). Posisinya sebagai nama surat menjadikan kata hadīd istimewa dibanding benda-benda lain di alam semesta ini yang tidak dicantumkan sebagai nama surat dalam al-Qur’an. Sedangkan kata kayu dalam bahasa Arab disebut dengan khasyab atau syajar (pohon kayu). Kata khasyab tidak ada dalam al-Qur’an, sementara kata syajar ditemukan sebanyak 11 kali. Empat kali kata syajar dicantumkan sebagai penjabaran terhadap pohon kayu yang tidak boleh didekati oleh Adam dan Hawa di surga, tetapi keduanya melanggar perintah tersebut. Sedangkan tujuh kata lainnya membahas beberapa hal yang berlainan. Kata khasyab atau syajar juga tidak mendapatkan tempat istimewa dalam al-Qur’an. Allah tidak menjadikan kedua kata tersebut sebagai nama salah satu surat dalam al-Qur’an. Dengan demikian, untuk sementara kata besi lebih hebat daripada kayu sebab besi mendapatkan posisi istimewa menjadi nama sebuah surat dalam al-Qur’an.

Besi sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an memiliki kekuatan yang dahsyat (ba’s syadīd) dan berbagai manfaat lainnya dalam kehidupan manusia. Allah berfirman dalam QS. 57 ayat 25 yang artinya: Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia. Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata wa anzalnā yang secara literal berarti kami menurunkan. Mengenai tafsir kata anzalnā dalam konteks ayat ini, para mufassir berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa inzāl yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah inzāl haqīqī, artinya Allah secara langsung menurunkan besi dari langit sebagaimana halnya langsung menurunkan air dari sana. Pendapat ini ditentang oleh mufassir lainnya yang lebih mengedepankan inzāl ma’nāwī atau majāzī. Kata inzāl tidak diartikan menurunkan, melainkan dicarikan padanan kata yang lebih mendekati fakta pengetahuan para mufassir tersebut. Al-Qurthūbī, misalnya, menafsiri kata inzāl sebagai kata lain dari penciptaan (khalq). Ada pendapat lain, sebagaimana dikutip Qurthubi, bahwa inzāl berarti memberikan (i’tha’). Fakhrur Rozi menafsiri kata inzāl dengan insya’ (menciptakan) dan tahyi’ah (menyediakan). Pendapat kedua ini, yang didominasi oleh Ahl al-Ma’ānī, lebih cenderung menafsirkan ayat di atas dengan tafsiran “Kami menciptakan atau memberikan besi (dari sumber-sumber tambang)”.

Sementara mufassir pertama yang berpandangan inzāl haqīqī, mereka menyitir beberapa redaksi hadis Nabi Muhammad saw., beberapa riwayat dari mufassir klasik dan temuan ilmiah terkini. Nabi Muhammad saw. bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar: “Bahwa Allah menurunkan (anzalnā) empat berkah dari langit ke bumi; besi, api, air dan angin”. Kata inzāl dalam hadis ini dipahami oleh sebagian mufassir sebagai inzāl haqīqī. Dengan kata lain, Allah menurunkan secara langsung keempat unsur kehidupan tersebut dari langit. Ibnu ‘Abbas yang dijuluki turjumān al-Qur’an karena kapabilitasnya dalam ilmu tafsir juga termasuk mufassir yang mendukung pendapat ini. Ibnu ‘Abbas menyatakan: Adam turun dari surga sambil membawa lima alat pandai besi; sandān, kalbah (penjepit untuk mengangkat besi yang dibakar), mīqa’ah, palu dan jarum. Kelima benda tersebut adalah alat yang terbuat dari besi dan biasa dipakai oleh tukang pandai besi. Dalam riwayat ‘Akramah, sebagaimana dikutip oleh Imam Mawardi, Ibnu ‘Abbas juga menyatakan: Tiga benda yang dibawa Adam dari surga; hajar aswad, tongkat musa, dan besi. Dengan demikian, para mufassir yang memiliki tendensi kepada pendapat pertama ini menyimpulkan bahwa unsur besi berasal dari surga atau bukan diciptakan dari unsur bumi.

Pendapat ini kemudian dikuatkan oleh mufassir modern yang juga menggunakan hasil riset ilmiah sebagai penguat pendapatnya. Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi menjelaskan dalam bukunya “Al-Adillah al-Mādiyyah ‘ala Wujūd Allah” bahwa dalam konferensi mukjizat ilmiah al-Qur’an yang berskala internasional dipaparkan tentang kebingungan para peneliti mengenai unsur yang terdapat dalam besi. Unsur yang dikandung oleh besi membutuhkan empat kali kekuatan yang dihasilkan oleh Matahari. Sehingga, kesimpulan mereka: tidak mungkin besi berasal dari bumi, sebab yang menyinari bumi hanyalah satu matahari. Ketika mereka menemukan satu ayat dalam QS. Al-Hadīd ayat 25, mereka langsung berdecak kagum seraya menyatakan dengan tegas: sungguh ini bukan perkataan manusia. Dengan adanya hasil riset ilmiah ini, nampaknya untuk sementara kita harus mengesampingkan pendapat ulama’ yang mengatakan inzāl dalam QS. Al-Hadīd ayat 25 ditafsiri sebagai inzāl ma’nāwī atau majāzī. Tafsiran ilmiah tersebut juga menunjukkan superioritas besi atas kayu. Besi lebih superior sebab ia berasal dari luar bumi, sedang kayu memang berasal dan tumbuh di bumi.

Selain itu, karakter besi yang kuat membuat orang lebih memilih besi sebagai bahan dari alat-alat yang ingin diciptakan. Besi dan kawan-kawannya menjadi bahan utama dalam produksi pesawat terbang, kereta api, mobil, sepeda motor, sepeda gunung, kapal laut dan sebagainya. Besi juga menjadi bahan utama dari cangkul, pisau, celurit, dan sebagainya. Pendek kata, besi dipaksa melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Namun, dalam melaksanakan tugasnya besi sering bekerjasama dengan kayu. Cangkul, pisau, celurit dan alat petani lainnya terbuat dari besi dan kayu. Kayu dijadikan pegangan agar besi bisa melaksanakan tugas beratnya dengan baik.

Sementara kayu juga tidak kalah penting dalam menopang kehidupan manusia. Kayu juga menjadi unsur terpenting dalam surga; banyak pepohonan dan perkebunan dalam surga. Kayu membuat para wanita mudah memasak nasi, lauk pauk dan air. Karakternya yang mudah terbakar membuat ia menjadi pilihan dalam urusan dapur. Kayu juga menjadi hiasan utama bangunan rumah; jendela, pintu, kusen, dan sebagainya. Bagi para nelayan yang minim dana, perahu dari kayu menjadi pilihan favorit. Para nelayan tersebut dengan jiwa kreasi dan inovasinya menyulap kayu-kayu menjadi perahu yang bervariasi. Kayu berkarakter ringan dan tidak bisa tenggelam ke dasar sungai, bendungan atau laut. Berbeda dengan besi yang berkarakter berat. Besi akan tenggelam ke dasar air dengan cepat. Kayu di hutan menjadi benteng terakhir dari erosi dan polusi. Kayu memiliki daya serap yang begitu dahsyat. Aspek fungsional di atas tidak terdapat dalam besi.

Selain itu, kayu atau pohon juga memiliki nilai historis yang tak kalah hebatnya dengan besi. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa dalam al-Qur’an terdapat 11 kata kayu (syajar). Salah satunya, dalam QS. Al-Fath ayat 18. Allah menjelaskan momentum baiat Hudaibiyah antara umat Islam dengan kaum kafir Quraisy. Allah berfirman yang artinya: Sungguh Allah telah ridla kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia (baiat) kepadamu di bawah pohon. Nilai historis ini yang tidak dimiliki oleh besi dan hanya dimiliki oleh kayu. Allah juga menyebutkan secara khusus ketaatan kayu dalam beribadah kepada Allah swt. Semua benda di alam semesta ini (termasuk besi dan kayu) memang ditakdirkan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya dengan cara yang berbeda-beda. Namun, penyebutan Allah terhadap kayu secara khusus menjadikan kayu berada dalam posisi spesial dan istimewa. Allah berfirman yang artinya (QS. Al-Hajj: 18): Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan (kayu), binatang-binatang yang melata dan sebagian besar manusia. Dalam ayat lain (QS. Al-Rahman: 6) disebutkan pula: Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk dan bersujud kepada-Nya. Penyebutan kayu secara khusus bukan tanpa alasan. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa Dia menyebutkan kayu secara khusus, sebagaimana halnya Dia punya alasan menjadikan Hadīd sebagai salah satu nama surat dalam al-Qur’an. Kayu juga menjadi pelindung Nabi saat beliau hendak buang hajat. Al-Bushiri dengan bahasa satranya mengabadikan kisah tersebut dalam Qasidah Burdah: “Jā’at li da’watihi al-Asyjāru sājidat-an, tamsyī ilaihi ‘alā sāq-in bilā qadami” (Pohon-pohon itu datang sambil bersujud demi memenuhi panggilan Nabi, berjalan walau tak punya kaki). Kalau besi menjadi bukti mukjizat Nabi Daud dengan cara melunakkan dan membuatnya mudah dibengkokkan, maka Kayu menjadi salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw. dengan cara seperti yang diilustrasikan oleh Al-Bushiri tadi.

Dari paparan di atas bisa disimpulkan bahwa untuk melihat superioritas antara besi dan kayu harus dilihat dari tiap aspek. Dari aspek karakter dan kekuatan, besi tidak bisa ditandingi. Dari aspek historis dan ketaatan ibadah, kayu mengungguli besi. Sementara dari aspek fungsional, kedua-duanya sama-sama memiliki manfaat dan fungsi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan manusia di tiap daerah dan kondisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: